Sultan Baibars : Benteng Terakhir Dunia Islam


Dunia Islam pernah berada di ambang kehancuran.
Kota-kota runtuh.
Khilafah Abbasiyah tumbang.
Baghdad dibakar, sungainya memerah oleh darah dan tinta ilmu.
Di timur, Mongol datang seperti badai.
Di barat, pasukan Salib masih mencengkeram tanah suci.
Umat terjepit di antara dua kehancuran.
Di tengah keputusasaan itu,
bangkit seorang lelaki yang dulunya budak: Baibars.
Ia bukan bangsawan.
Ia tidak lahir di istana.
Namun medan perang adalah sekolahnya,
dan keberanian adalah gelarnya.
Ketika Mongol—pasukan yang belum pernah kalah—bergerak menuju Mesir,
para penguasa gemetar.
Banyak yang memilih bernegosiasi.
Banyak yang memilih tunduk.
Baibars memilih melawan.
Di Ain Jalut,
ia menyusun tipu daya yang tak terduga.
Pasukannya berpura-pura mundur.
Mongol terpancing masuk ke lembah sempit.
Saat terompet perang ditiup,
bumi berguncang oleh pekikan takbir.
Panah menghujani langit.
Pedang bertemu pedang.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah,
pasukan Mongol dikalahkan.
Kemenangan itu bukan sekadar militer.
Ia mematahkan mitos:
bahwa Mongol tak bisa dikalahkan.
Setelah menjadi sultan,
Baibars tidak larut dalam kejayaan.
Ia membangun benteng, memperkuat pasukan,
menghidupkan kembali khilafah Abbasiyah di Kairo
agar umat kembali memiliki simbol persatuan.
Ia memburu sisa pasukan Salib.
Satu demi satu benteng mereka runtuh.
Tanah Islam dibersihkan dari penjajahan.
Namun hidup Baibars bukan tanpa luka.
Ia selalu tidur dengan pedang di dekatnya.
Ia tahu, musuh tidak pernah benar-benar pergi.
Dan benar,
ia wafat bukan di medan perang,
melainkan diracun—
akhir yang sunyi bagi singa medan laga.
Namun warisannya tetap hidup.
Jika Baibars tidak berdiri,
mungkin sejarah Islam berhenti di Ain Jalut.
Ia bukan sekadar sultan.
Ia adalah benteng terakhir ketika dunia hampir runtuh.
Pelajaran:
Allah mampu mengangkat siapa pun—
bahkan seorang budak—
menjadi penyelamat umat,
selama ia berdiri dengan iman, keberanian, dan pengorbanan.

Sumber : @Kisah Ulama dan Sejarah Nusantara
Share:

Zubaidah Binti Ja'far : Ratu Dermawan Sang Pembebeas Jamaah Haji dari Kekeringan

Di balik kemegahan Dinasti Abbasiyah, lahirlah seorang wanita bangsawan yang namanya harum bukan karena istana, melainkan karena air yang mengalir untuk jutaan jamaah haji. 

Dialah Zubaydah binti Ja’far, cucu Khalifah Al-Mansur dan istri Khalifah Harun Ar-Rasyid.
Ia hidup dalam kemewahan, tetapi hatinya terpaut pada akhirat.

✨ Dari Istana ke Kepedulian Umat.

Sebagai permaisuri, Zubaydah memiliki segala yang diinginkan dunia. Namun ia dikenal bukan karena perhiasannya, melainkan karena kepeduliannya pada kaum Muslimin, khususnya para jamaah haji.

Pada masa itu, perjalanan haji sangat berat dan berbahaya. Salah satu penderitaan terbesar adalah kekurangan air di sepanjang jalur dari Irak menuju Makkah.
Banyak jamaah yang kehausan di tengah gurun tandus.
Zubaydah mendengar keluhan itu… dan hatinya tidak tenang.

💧✨ Proyek Besar yang Mengubah Sejarah.

Ia memutuskan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dengan hartanya sendiri, ia membiayai pembangunan sumur, waduk, dan saluran air di sepanjang jalur haji.

Proyek terbesarnya adalah pembangunan saluran air menuju Makkah yang dikenal sebagai “Ain Zubaydah” — Mata Air Zubaydah.

Para insinyur berkata proyek itu terlalu sulit dan mahal. Medannya berbatu, jaraknya jauh, dan biayanya luar biasa besar.
Jawaban Zubaydah bahkan terkenal dalam sejarah:
“Kerjakan saja, walau setiap pukulan cangkul harus dibayar dengan emas.”

Dan ia menepati ucapannya.
Air pun akhirnya mengalir menuju Makkah, memberi kehidupan bagi penduduk dan jamaah haji selama berabad-abad setelahnya.

✨ Dermawan Tanpa Sombong.

Meski hartanya banyak dihabiskan untuk umat, Zubaydah tetap dikenal sebagai wanita yang taat ibadah, mencintai Al-Qur’an, dan menghormati para ulama.
Ia menggunakan kekayaannya bukan untuk meninggikan diri, tapi untuk meninggikan manfaat.
Namanya tidak harum karena kekuasaan, tapi karena air yang mengalir tanpa henti — bahkan setelah ia wafat.

✨ Pejuang dengan Harta dan Visi.

Zubaydah bukan pejuang di medan perang, tapi ia adalah mujahidah dengan hartanya. Ia melihat masalah umat, lalu bertindak besar, bukan sekadar bersimpati.
Ia wafat, tetapi jejak kebaikannya tetap hidup dalam setiap tetes air yang diminum para tamu Allah di Tanah Suci.

✨ Pesan Moral 

~ Kisah Zubaydah Mengajarkan kita bahwa:

- Harta menjadi mulia ketika mengalir untuk umat.
- Visi besar bisa lahir dari hati yang peduli.
- Amal terbaik adalah yang manfaatnya panjang setelah kita tiada.

Zubaydah binti Ja’far membuktikan bahwa seorang wanita bisa membangun peradaban — bukan dengan pedang, tapi dengan air, kepedulian, dan keikhlasan 💧

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Sumber : @Citra Islam
Share:

Seseorang yang Lebih Buruk dari Fir'aun dan Iblis

Di suatu majelis ilmu, seorang murid bertanya kepada gurunya dengan wajah penuh heran:

"Guru, siapa manusia paling jahat yang pernah ada? Apakah Fir'aun? Ataukah Iblis?"

Sang guru terdiam lama. Lalu ia menjawab dengan suara pelan namun menusuk hati:

"Ada manusia yang lebih buruk dari Fir'aun dan bahkan lebih hina dari Iblis."

Murid itu terkejut. Bagaimana mungkin?

- Fir'aun dan Iblis: Kejahatan yang Jelas
Fir'aun adalah simbol kezaliman. Ia mengaku sebagai tuhan, menindas Bani Israil, dan membunuh bayi-bayi lelaki. Allah berfirman:

"Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi..." (QS. Al-Qashash: 4)

Iblis adalah simbol kesombongan. Ia menolak perintah Allah karena merasa lebih mulia.

"Ia enggan dan menyombongkan diri, maka Ia termasuk orang-orang kafir"
(QS. Al-Baqarah: 34) 

Namun... Fir'aun tahu Musa adalah nabi, dan Iblis tahu Allah adalah Tuhannya.

Mereka tidak pura-pura baik. Mereka jahat secara terang-terangan.

Siapakah yang Lebih Buruk dari Keduanya?
Sang guru melanjutkan:
"Yang lebih buruk adalah orang yang mengetahui kebenaran, tapi sengaja memutarbalikkannya demi dunia."

Ia adalah orang yang:
Tahu Al-Qur'an itu benar, tapi menjadikannya alat kepentingan.
Tahu agama, tapi menjual fatwa demi harta dan kekuasaan
Mengajak orang lain pada kesesatan dengan nama kebenaran
Allah berfirman tentang yang Lebih Buruk 

"Janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya."
(QS. Al-Baqarah: 42)

Fir'aun menyesatkan dengan kekuasaan.
Iblis menyesatkan dengan bisikan.
Namun orang ini menyesatkan dengan agama.
Mengapa Lebih Buruk?
Fir'aun membunuh tubuh manusia.
Iblis merusak satu per satu jiwa.
Namun manusia munafik merusak iman banyak orang sekaligus.

Rasulullah bersabda:...
"Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah pemimpin yang menyesatkan"
(HR. Ahmad)

Dan Allah menyebut mereka dengan keras:
"Sesungguhnya orang-orang munafik berada di tingkatan neraka yang paling bawah."
(QS. An-Nisa: 145)

Fir'aun dan Iblis berada di neraka, tetapi munafik berada di lapisan paling bawahnya.

Ciri-ciri Manusia yang Lebih Buruk Itu ia mungkin:

Rajin berbicara agama, tapi hatinya kosong dari takut kepada Allah
Tampak alim di depan manusia, tapi zalim di balik layar
Membela kebatilan dengan dalil yang dipelintir
Mencari dunia dengan jubah akhirat

Rasulullah bersabda:
"Akan datang suatu kaum yang membaca Al-Qur'an, namun tidak melewati tenggorokan mereka"
(HR. Bukhari dan Muslim)

Cermin untuk diri kita
Sang guru menutup dengan kalimat yang membuat majelis sunyi:
"Takutlah menjadi orang yang tahu kebenaran, tapi tak mau tunduk padanya."

Karena Fir'aun dan Iblis jelas musuh Allah, tetapi orang munafik bersembunyi di barisan hamba-Nya.
Semoga Allah melindungi kita dari:
. ilmu tanpa iman
. amal tanpa ikhlas
. dan agama yang diperdagangkan.

"Wahai Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk."
(QS. Ali Imran: 8)

Semoga kita semua bukan termasuk golongan orang yang lebih buruk dari Firaun dan iblis.

Aamiin Ya Robbalalaamiin

Untuk sobat Risalah Hati, kini anda punya dua pilihan:
1. Membiarkan pengetahuan ini, hanya anda yang tau
2. Membagikan postingan ini agar orang lain tau juga.

Sumber : @Risalah Hati
Share:

Kisah Romantis Ibunu Hajar Al-Haitami dan Istrinya : Ketika Emas Muncul dari Air Zam-Zam

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami adalah ulama besar yang memiliki karamah luar biasa. Lahir di Mahallah Abi Al-Haitam, Mesir bagian Barat pada bulan Rajab 909 Hijriyah dan wafat di Makkah pada bulan Rajab 973 Hijriyah. Beliau adalah seorang ulama ahli fikih mazhab Syafi'i, ahli kalam dan tasawuf.

Ibnu Hajar Al-Haitami telah hafal Al-Qur'an di waktu kecil. Guru-gurunya mengizinkannya berfatwa dan mengajar dan pada waktu usianya belum mencapai 20 tahun. 

Di balik kedalaman ilmunya, tersimpan kisah rumah tangga yang sederhana, namun menggetarkan—tentang cinta, kesabaran, dan pilihan hidup yang tidak tunduk pada kilau dunia.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami hidup dalam kemiskinan selama 4 tahun. Beliau tak pernah makan daging karena tak punya uang untuk membelinya, walaupun sesungguhnya dia sangat menginginkannya.

Suatu hari, sang istri mengungkapkan keinginannya untuk mandi air hangat di pemandian umum. Ibnu Hajar tersenyum lembut. 
“Bersabarlah, wahai istriku. Aku akan mengumpulkan uang untuk tiket masuk.” 
Ujar Ibnu Hajar Al-Haitami, sang penulis Kitab Tuhfat al-Muhtaj.

Sejak saat itu, ia menyisihkan sedikit demi sedikit dari apa yang dimilikinya, hingga terkumpul setengah riyal—jumlah yang cukup pada masa itu. Dengan penuh kebahagiaan, uang itu ia serahkan kepada istrinya.

Sang istri pun berangkat dengan hati berbunga. Namun setibanya di pemandian, langkahnya terhenti. Penjaga loket berkata, “Maaf, hari ini pemandian ini disewa penuh oleh istri Imam Ar-Ramli bersama rombongan santri putrinya. Kami telah menerima dua puluh lima riyal untuk sehari penuh dan diminta tidak membuka pintu bagi siapa pun. Silakan datang besok.”

Kekecewaan mengalir dalam diam. Ia pulang dengan hati berat dan menyerahkan kembali uang itu kepada suaminya, meluapkan kesedihan yang bercampur keluh. 

Ia membandingkan keadaan mereka dengan kemewahan yang dinikmati orang lain, seakan ilmu dan kesederhanaan yang mereka jalani tak menghasilkan apa-apa selain kepayahan.

Ibnu Hajar mendengarkan tanpa menyela. Dengan suara yang tenang, ia berkata, “Aku tidak mengejar harta dunia. Aku ridha dengan apa yang ditentukan oleh Allah. Jika engkau menginginkan kekayaan, mari ikut aku ke sumur Zamzam.”

Mereka pun berangkat. Di sana, Ibnu Hajar menurunkan timba ke dalam sumur. Ketika diangkat, timba itu penuh dengan dinar emas. Ia menoleh kepada istrinya, “Apakah ini cukup?” Sang istri menggeleng. Ia menimba lagi, dan timba itu kembali penuh. Untuk ketiga kalinya ia menimba, dan lagi-lagi emas memenuhi timba.

Lalu Ibnu Hajar berkata, “Aku memilih hidup sederhana atas kehendakku sendiri. Bagiku, harta dunia itu singgah sebentar, rasanya pahit, dan pesonanya menipu.

Sekarang pilihlah, kembalikan semua emas ini ke dalam sumur dan tetaplah menjadi istriku, atau ambil semuanya dan pulanglah ke rumah orang tuamu, lalu terimalah talak dariku.”

Sang istri mencoba merayu. Satu timba saja. Dua timba saja. Bahkan satu dinar pun cukup. Namun jawaban Ibnu Hajar tetap tegas—tidak.

Air mata pun mengalir. Dengan hati bergetar, ia mengembalikan seluruh emas itu ke dalam sumur. “Aku tidak ingin berpisah darimu. Kita telah mengarungi bahtera rumah tangga bertahun-tahun. Aku akan bersabar dan tidak tergoda oleh gemerlap dunia.”

Sejak hari itu, cinta mereka kian menguat. Bukan karena emas yang melimpah, melainkan karena kesetiaan yang dipilih. Ibnu Hajar menyembunyikan karamah itu dalam kesederhanaan, sementara istrinya menemukan kekayaan sejati dalam kebersamaan dan keteguhan hati.

Kisah ini disarikan dari Al-Fawaid Al-Mukhtarah li Salik Tariq al-Akhirah karya Al-Habib Zein Smith, halaman 378–380. 

Semoga ia menjadi pengingat bahwa cinta sejati bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa tulus yang dipilih untuk dipertahankan.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Sumber : @Citra Islam
Share:

Puisi Titipan Allah


Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku

Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-NyaBahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, aku ingin lebih banyak mobil
Aku ingin jabatan dan lebih banyak popularitas

Kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:

Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
Nikmat dunia mesti selalu datang menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakukan baikku", Dan menolak keputusannya-Nya yang tak sesuai keinginan-ku 

Ya Alloh, Ampunilah jiwa yang tidak mengerti & kurang memahami ini, Sadarkanlah kami akan sebuah nikmat & petaka adalah sama nilainya. Sebagai ujian dalam hidup kami......Amiin.

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….


Share:

Peristiwa Terbelahnya Bulan : Mukjizat Rasulullah yang Membungkam Kesombongan Kaum Musyrikin

Malam di Makkah itu sunyi. Langit terbentang jernih, dan bulan purnama menggantung penuh di atas Ka‘bah. Namun di bawah cahaya bulan, hati kaum Quraisy justru gelap oleh kesombongan. Mereka mendatangi Rasulullah ﷺ dengan tantangan yang angkuh.

“Wahai Muhammad, jika engkau benar seorang nabi, maka belahlah bulan untuk kami.” Mereka tidak mencari kebenaran. Mereka hanya ingin alasan baru untuk mendustakan. Namun Rasulullah ﷺ tidak marah. Beliau tidak berdebat panjang. Beliau hanya menengadahkan pandangan ke langit - dan berdoa kepada Rabb-nya.

ISYARAT JARI YANG MENGGUNCANG LANGIT

Di hadapan para pemuka Quraisy, Rasulullah ﷺ mengangkat tangannya dan memberi isyarat ke arah bulan. Maka terjadilah sesuatu yang belum pernah disaksikan manusia sebelumnya, bulan itu terbelah dua. Satu bagian tampak di satu sisi gunung, dan bagian lainnya di sisi yang lain. Gunung Hira berada di antara dua belahan itu.

Orang-orang terdiam. Mata mereka terbuka lebar. Napas mereka tertahan. Allah ﷻ mengabadikan peristiwa itu dalam firman-Nya:

“Telah dekat hari Kiamat dan bulan pun terbelah.” (QS. Al-Qamar: 1)

Dan Allah melanjutkan: “Dan jika mereka melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus.’” QS. Al-Qamar: 2)

SAKSI MATA PARA SAHABAT

Peristiwa ini bukan dongeng, Bukan mimpi. Bukan ilusi. Ia disaksikan langsung oleh para sahabat Nabi ﷺ. Mas‘ud RA berkata:

“Bulan terbelah pada masa Rasulullah ﷺ menjadi dua bagian, satu di atas gunung dan satu di bawahnya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Saksikanlah!’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Anas bin Malik RA juga meriwayatkan: “Penduduk Makkah meminta Rasulullah ﷺ memperlihatkan tanda, lalu beliau memperlihatkan terbelahnya bulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

MUKJIZAT BESAR YANG DI DUSTAKAN

Alih-alih beriman, kaum Quraisy berkata: “Muhammad telah menyihir kita!”

Bahkan mereka berkata: “Tunggu para musafir dari luar Makkah. Jika mereka juga melihatnya, barulah kita percaya.” Ketika para musafir datang, mereka berkata: “Kami melihat bulan terbelah di langit.” Namun kesombongan telah menutup hati mereka. Mukjizat sebesar langit pun tak mampu menembus hati yang terkunci.

MAKNA di BALIK BULAN yang TERBELAH

Mukjizat ini bukan sekadar keajaiban visual. Ia adalah peringatan keras:

• Bahwa hari Kiamat sudah dekat

• Bahwa alam tunduk pada perintah Allah

• Bahwa Rasulullah ﷺ adalah utusan Allah 

  yang haq

Jika bulan saja bisa terbelah dengan izin Allah, maka hati manusia pun seharusnya bisa terbelah dari kesombongan menuju iman.

PESAN MORAL

Kaum Quraisy melihat bulan terbelah dengan mata kepala mereka, namun tetap kafir. Sementara kita… melihat ayat-ayat Allah setiap hari:

• Al-Qur’an,

• kehidupan,

• kematian,

• doa yang dikabulkan,

• dosa yang ditutupi.

Namun sering kali kita menunda taubat. Allah berfirman: “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan.” (QS. At-Taghabun: 8).

Mukjizat membelah bulan adalah saksi bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar Nabi Allah. Namun mukjizat terbesar beliau tetaplah Al-Qur’an—yang hingga hari ini masih terbuka bagi siapa pun yang mau beriman.

Semoga Allah membelah hati kita dari kelalaian, dan menyatukannya kembali dengan cahaya iman.

Allahumma shalli ‘ala sayyidin Muhammad ﷺ

والله اعلام بصواب

Sumber : @Citra Islam

 

Share:

Kisah Ulama Penakluk Singa tapi "Susis" (Suami Takut Istri)

Di abad ke-4 Hijriah, ada seorang ulama besar namanya Syekh Abul Hasan Alkaraqi yang tinggal di desa Kharakan, Persia. Beliau ini bukan kaleng-kaleng, soalnya tokoh gede kayak Ibnu Sina sama Jalaluddin Rumi aja ngefans banget sama kedalaman ilmu rohaninya. Orangnya bener-bener jentel, zuhud, dan hatinya lembut parah.

Tapi nih, meskipun beliau dihormati banget, ternyata ujian hidupnya datang dari orang terdekat, yaitu istrinya sendiri. Istrinya ini tipe yang mulutnya pedas banget alias omongannya kasar tiap hari. Syekh sering dicaci maki gara-gara masalah sepele, bahkan direndahin di depan umum.

Bayangin aja, ribuan murid rela datang jauh-jauh cuma buat salim sama Syekh, tapi istrinya malah bilang kalau suaminya itu orang bodoh yang nggak guna.

Suatu hari, ada calon murid yang bela-belain datang dari negeri jauh buat nemuin Syekh. Eh, pas nyampe depan rumah, dia malah disambut teriakan kasar dari istrinya. Istrinya bilang, "Ngapain nyari orang bodoh itu? Dia cuma penipu, mending pulang aja!". Si murid langsung shock dan sedih banget dengernya.

Si murid akhirnya nyari Syekh ke hutan. Pas ketemu, dia makin melongo. Syekh lagi bawa kayu bakar, tapi di sampingnya ada seekor singa yang nemenin beliau. Singa itu nurut banget gara-gara karomah kesabaran beliau.

Si murid langsung nanya dengan bingung, "Guru, kok bisa Anda yang ditakuti singa tapi mau-mauanya dihina sama istri sendiri? Kenapa nggak dicerai aja biar hidup tenang?".

Mendengar itu, Syekh nggak marah sama sekali. Matanya berkaca-kaca karena rasa kasih sayang yang tulus. Beliau jawab begini: "Gini lho, aku milih bertahan karena aku takut kalau dia nikah sama orang lain yang nggak sesabar aku, orang itu mungkin bakal main tangan atau zalim karena nggak tahan sama omongannya.".

Beliau bilang kalau beliau milih jadi perisai buat istrinya. Syekh udah melatih hatinya biar nggak baperan sama omongan manusia. Harapannya simpel, kalau beliau bisa sabar sama luka yang dikasih istrinya, semoga Allah juga bakal sabar sama dosa-dosa beliau di hari kiamat nanti.

Sumber : @Kisah Sufisik
Share:

Kisah Manusia Sholeh yang Allah Sembunyikan dari Dunia

Diriwayatkan, bahwa Nabi Sulaiman as. pernah melakukan perjalanan di antara langit dan bumi hingga sampailah Beliau di sebuah lautan yang dalam.

Beliau melihat di laut itu ada ombak yang hebat. Lalu Beliau memerintahkan kepada angin supaya tenang, maka angin pun menjadi tenang. Kemudian Beliau menyuruh seorang jin ifrit supaya menyelam ke dalam laut itu. Maka jin ifrit itu pun menyelam ke dalam laut. Ketika ia sampai ke dasar laut, tampak olehnya sebuah kubah yang terbuat dari mutiara putih yang tidak berlubang. Kemudian benda itu dikeluarkannya dan diletakkannya di hadapan Nabi Sulaiman as. Melihat benda itu, Beliau merasa heran dan kagum, lalu Beliau berdoa kepada Allah, sehingga terbukalah pintu kubah itu. 

Ternyata di dalamnya ada seorang anak muda yang sedang bersujud. Maka Nabi Sulaiman as. bertanya kepadanya : “Wahai anak muda, siapakah engkau, apakah engkau dari golongan malaikat, atau jin, atau manusia?". 

Anak muda itu menjawab : “Saya adalah manusia”. 

Nabi Sulaiman as. bertanya pula : “Dengan sebab apakah engkau berhasil mencapai kemuliaan seperti ini?”. 

Anak muda itu menjawab : “Dengan sebab berbuat baik kepada kedua ibu-bapak. Ketika dahulu, ibu saya telah tua renta, saya menggendongnya di atas punggungku. Dan beliau selalu berdoa untukku : “Ya Allah, anugerahilah dia rasa puas, dan jadikanlah tempatnya sesudah wafatku, di suatu tempat, bukan di bumi dan bukan pula di langit”. Setelah ibuku meninggal dunia, saya pergi berkeliling di suatu pantai, lalu saya lihat di situ ada sebuah kubah dari mutiara putih. Kemudian saya mendekatinya, sekonyong-konyong kubah itu terbuka untukku, maka saya pun masuk ke dalamnya. 

Lantas, dengan seizin Allah Taala, kubah itu menutup kembali. Sejak itu, saya tidak tahu, apakah saya berada di angkasa atau pun di bumi. Namun, dalam kubah itu, Allah telah menyediakan rezeki untukku”. 

Nabi Sulaiman as. bertanya : “Bagaimana Allah memberi rezeki di dalamnya ?”. 

Anak muda itu menjawab : “Apabila saya merasa lapar, maka Allah menciptakan sebuah pohon yang berbuah lebat. Dari buah itulah, Allah memberi rezeki kepadaku. Dan apabila saya merasa haus, maka dari kubah itu keluar mata air yang warnanya lebih putih daripada susu, dan rasanya lebih manis daripada madu, serta lebih sejuk daripada es”. 

Nabi Sulaiman as. bertanya pula: “Bagaimana engkau mengetahui perbedaan malam dan siang di dalamnya?”. 

Anak muda itu menjawab : “Apabila masuk waktu Subuh, maka menjadi putihlah warna kubah itu, sehingga saya tahu bahwa hari telah siang. Dan apabila matahari terbenam, kubah itu menjadi gelap, sehingga saya pun tahu bahwa malam telah tiba”

Kemudian Nabi Sulaiman as. berdoa kepada Allah Taala, maka tertangkuplah kembali kubah itu, sedang anak muda itu berada di dalamnya seperti semula. 


Share:

Jejak Kenabian Pasca-Adam: Perjuangan Nabi Syits dan Nabi Idris dalam Menjaga Moralitas Umat

Sejarah umat manusia tidak lepas dari bimbingan para nabi yang diutus untuk menjaga tauhid dan memperbaiki akhlak. Dalam sebuah tausiyah yang disampaikan oleh **Ustadz Abu Humairoh** melalui kanal YouTube "Kanal Masjid", beliau mengulas secara mendalam kisah Nabi Syits AS dan Nabi Idris AS. Pembahasan ini menjadi sangat relevan karena menelusuri akar sejarah munculnya berbagai kemungkaran pertama di dunia, seperti pembunuhan, zina, hingga asal-usul kesyirikan. Melalui artikel ini, kita akan memahami bagaimana para nabi terdahulu berjuang mempertahankan nilai-nilai ketuhanan di tengah godaan iblis yang terus mengintai anak cucu Adam.

**Pembahasan Utama**

**Nabi Syits: Sang "Hibatullah" Pengganti Habil**

Setelah peristiwa pembunuhan Habil oleh Qobil—yang merupakan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia—Nabi Adam AS sangat berduka karena Habil adalah putra yang mewarisi akhlak dan agamanya. Sebagai penghibur dan pengganti, Allah menganugerahkan putra bernama Syits, yang dalam bahasa Ibrani berarti **"Hibatullah"** atau pemberian Allah. Nabi Syits dididik langsung oleh Adam AS dengan ilmu agama, akhlak mulia, serta amalan ibadah siang dan malam.

Nabi Syits memimpin kaumnya yang menetap di wilayah perbukitan, sementara keturunan Qobil tinggal di wilayah lembah. Pada masa itu, penyimpangan akidah (kesyirikan) belum terjadi; manusia masih mentauhidkan Allah, namun mulai terjadi pembusukan akhlak di kalangan keturunan Qobil karena ketiadaan nabi yang membimbing mereka.

**Awal Mula Kemungkaran: Musik, Tabarruj, dan Zina**

Kerusakan moral pertama kali muncul di kabilah Qobil yang berada di lembah. Tanpa bimbingan agama, para wanita dari kaum Qobil mulai melakukan **tabarruj** atau bersolek dan menampakkan aurat. Iblis kemudian memanfaatkan peluang ini dengan menyamar sebagai manusia dan menciptakan alat musik pertama berupa seruling untuk memalingkan manusia dari jalan Allah.

Suara musik yang hingar-bingar dari lembah menarik perhatian para pemuda dari kaum Nabi Syits di perbukitan yang memiliki paras tampan. Pertemuan antara pemuda tampan dari kaum Syits dan wanita cantik yang bersolek dari kaum Qobil memicu terjadinya **ikhtilat** (percampuran pria-wanita) dan berakhir pada perzinahan pertama di alam semesta. Nabi Syits telah berupaya keras mendakwahi kaumnya dan melarang mereka berinteraksi dengan kaum Qobil, sebuah perjuangan yang ia teruskan hingga akhir hayatnya.

**Nabi Idris: Pelopor Pena, Ilmu, dan Jihad**

Nabi Idris AS, atau yang dikenal dengan nama Honuk, adalah nabi ketiga setelah Adam dan Syits. Beliau dianugerahi kecerdasan luar biasa dan menjadi manusia pertama yang mencatat menggunakan pena serta gemar membaca. Dalam sejarah kenabian, Idris AS menerima 30 *suhuf* (lembaran wahyu) dari total 100 *suhuf* yang diturunkan sebelum kitab-kitab besar lainnya.

Selain dikenal karena ilmunya, Nabi Idris adalah nabi pertama yang melancarkan **jihad** untuk memerangi kemungkaran kaum Qobil yang semakin rusak. Beliau juga nabi pertama yang menawan musuh dan mengambil harta rampasan perang, meskipun pada saat itu harta tersebut tidak boleh dimanfaatkan dan harus diletakkan di bukit untuk dibakar oleh api langit sebagai tanda diterimanya jihad tersebut. Al-Qur'an memuji beliau sebagai sosok yang jujur dan diangkat ke tempat yang tinggi.

**Akar Kesyirikan dan Munculnya Berhala**

Penyimpangan akidah atau kesyirikan pertama kali tidak terjadi pada masa Nabi Idris, melainkan sekitar 1.000 tahun setelah wafatnya beliau. Hal ini bermula dari wafatnya orang-orang saleh dari keluarga Wadd, Suwa', Yaghuth, Ya'uq, dan Nasr. Untuk mengenang kebaikan mereka, generasi awal membuat patung sebagai pengingat ibadah. Namun, setan membisikkan kepada generasi-generasi berikutnya—yang sudah kehilangan ilmu agama—bahwa nenek moyang mereka menyembah patung-patung tersebut untuk meminta bantuan. Inilah awal mula penyembahan berhala di dunia yang kemudian memicu diutusnya Rasul pertama, Nabi Nuh AS.

**Rangkuman Detail / Intisari**

Berikut adalah poin-poin utama dari sejarah Nabi Syits dan Nabi Idris:

**Nabi Syits AS:** Diberikan Allah sebagai pengganti Habil; ia memimpin kaum di perbukitan dan menjaga syariat Adam AS.

**Kemungkaran Awal:** Musik (seruling), tabarruj, dan zina pertama kali muncul di kabilah Qobil akibat campur tangan iblis.

**Wahyu Suhuf:** Sebanyak 100 suhuf diturunkan, di mana Nabi Syits menerima 50 lembar dan Nabi Idris menerima 30 lembar.

**Keutamaan Nabi Idris AS:** Manusia pertama yang menulis dengan pena, melakukan jihad, dan diangkat derajatnya oleh Allah.

**Munculnya Syirik:** Kesyirikan baru muncul 1.000 tahun pasca-Idris karena penyimpangan tujuan pembuatan patung orang saleh.

**Penutup**

Kisah Nabi Syits dan Nabi Idris memberikan pelajaran berharga bahwa kerusakan moral sering kali menjadi pintu masuk bagi kerusakan akidah. Iblis bekerja secara bertahap, mulai dari menggoda manusia melalui musik dan pergaulan bebas, hingga akhirnya menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesyirikan melalui pengultusan tokoh. Pesan utama dari sejarah ini adalah pentingnya menjaga ilmu agama dan bimbingan ulama agar generasi mendatang tidak kehilangan arah. Kita diharapkan dapat mengambil hikmah untuk tetap teguh pada tauhid dan waspada terhadap langkah-langkah setan yang sering kali dimulai dari hal-hal yang tampak kecil.

Wallahu’alam

Share:

Abu Mihjan Al-Tsaqafi : Sang Pemabuk Pengejar Syahid

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab (636M) terjadilah peperangan melawan bangsa Persia. Khalifah Umar bin Khattab menunjuk sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai komandan utama dengan didukung 4000 pasukan. Berita tentang panggilan jihad itu pun terdengar oleh Abu Mihjan, namun karena dia seorang pemabuk, Khalifah Umar bin Khattab menyuruh agar Abu Mihjan diasingkan ke suatu tempat sebagai hukuman tambahan baginya.

Di tengah perjalanan ke tempat pengasingan nya, Abu Mihjan berhasil kabur dan menyusul pasukan muslim yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash ke Medan tempur Qadisiyah. Sesampainya di Qadisiyah, Abu Mihjan pun langsung menemui Sa’ad bin Abi Waqqash dan meminta izin untuk ikut berperang dan dia pun diizinkan.

Pada saat itu Sa’ad bin Waqqash sendiri tidak bisa turut serta didalam medan pertempuran langsung dikarenakan sedang menderita penyakit bisul di sekujur tubuhnya dan hanya bisa mengomandoi dari sebuah tenda di dataran yang agak tinggi sehingga dapat memberikan arahan terhadap pergerakan pasukan kaum muslimin.

Peperangan akhirnya pecah saat komandan utama yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash mengumandangkan takbir. Pertempuran sengit pun berlangsung, 4000 pasukan muslim melawan 130.000 pasukan Persia tentu bukan hal yang mudah, terbukti kaum muslimin sangat kewalahan.

Ditambah lagi pasukan Persia memakai strategi menggunakan gajah untuk menakut-nakuti kuda perang yang ditunggangi kaum muslimin, sehingga tidak berani untuk maju.

Setelah berlarut dalam pertempuran yang sangat sengit, akhirnya kedua belah pihak menarik mundur pasukannya untuk beristirahat dan mengatur ulang strategi. Di saat inilah godaan khamr menghampiri diri Abu Mihjan, karena tak kuasa menahan keinginan yang sudah berubah menjadi kebutuhannya tersebut, maka iapun meminumnya.

Mengetahui hal itu, Sa’ad bin Abi Waqqash menyuruh agar Abu Mihjan di kurung dan tidak diperkenankan ikut berperang. Di dalam kurungannya itu pun ia menyesali perbuatannya, sehingga ia pun bersyair untuk menutupi kesedihannya itu. Dalam syairnya itu ia berkata;

"Sedih menyelimuti hatiku,

karena aku terbelenggu di balik jeruji besi,

Bila engkau melepaskan besi yang membelenggu diriku ini,

Niscaya akan aku raih syahid dalam perang,

Diriku kaya akan harta dan kawan,

Namun kini mereka meninggalkan ku sebatang kara,

Tubuhku kering karena sengatan matahari,

Kuperbaiki timbangan yang rusak,

Hanya ampunan Allah yang kuharapkan. "

Syairnya itupun didengar oleh istri Sa’ad bin Waqqash. Abu Mihjan pun merayu dan memohon agar istri Sa’ad bin Waqqash itu mau melepaskan dirinya agar bisa ikut berperang bersama pasukan muslim dan dia berjanji jika tidak mendapatkan mati syahid di medan perang, maka ia akan kembali lagi ke dalam kurungannya tersebut.

Mendengar perkataan Abu Mihjan yang dipenuhi kesedihannya itupun, akhirnya istri Sa’ad bin Abi Waqqash melepaskannya dan memberikan kuda perang berwarna hitam milik suaminya yang bernama Balqa ‘.

Sementara itu di medan pertempuran, kaum muslimin tetap kesulitan menembus baris pertahanan musuh yang begitu rapat dan kokoh, meskipun bala bantuan telah berdatangan diantaranya pasukan dari Iraq yang dipimpin oleh Al-mutsanna dan pasukan dari yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid telah datang membantu, namun tetap saja formasi barisan musuh tidak bisa di pecah.

Di tengah kegentingan itulah tiba-tiba muncul seseorang yang menunggangi kuda berwarna hitam dan wajahnya ditutupi oleh kain berwarna hitam pula, sehingga hanya menyisakan kedua bola matanya saja. Orang itupun maju bagaikan singa yang kelaparan, menembus barisan pertahanan musuh dan mengobrak-abrik nya.

Terlihat jelas bahwa tidak ada rasa takut sedikitpun dari orang itu. Seluruh mata kaum muslimin yang ada di medan peperangan itupun memandangnya dengan penuh kagum dan bertanya-tanya siapakah orang tersebut. Dia adalah Abu Mihjan Al-Tsaqafi, ksatria pemabuk pengejar syahid.

Sa’ad bin Waqqash yang melihat hal itu pun sangat senang karena bantuan datang walaupun hanya dari satu orang saja, namun kekuatannya sebanding dengan seribu orang. Sa’ad bin Waqqash pun bergumam, “Jika Abu Mihjan tidak ada di dalam jeruji kurungannya, maka aku sangat yakin bahwa orang itu adalah dia, dan apabila Balqa’ tidak ada di kandangnya, maka aku sangat yakin bahwa kuda yang ditungganginya itu adalah Balqa’. “

Melihat barisan musuh yang mulai kocar-kacir, maka spontan pasukan inti muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid kembali semangat dan menggempur habis-habisan pasukan Persia. Hingga akhirnya pimpinan pasukan Persia bernama Rustum berhasil dibunuh oleh seorang prajurit muslim yang bernama Hilal bin Ullafah.

Kemenangan pun Allah takdirkan ke pihak muslimin. Seusai peperangan tersebut, maka Abu Mihjan kembali ke dalam kurungan dan menepati janjinya, dan bertobat dari kebiasaan mabuknya. 

Itulah kisah heroik Abu Mihjan Al-Tsaqafi, “sang pemabuk” pengejar syahid yang menjadi pahlawan bagi kemenangan kaum muslimin dalam Pertempuran. 

Sumber : @Shabat Kisah

Share:

Hindun binti ‘Utbah : Wanita Pendendam dan Pembenci Rasulullah yg Mendapat Hidayah

Hindun binti ‘Utbah adalah istri Abu Sufyan, tokoh besar Quraisy Makkah. Ayahnya, ‘Utbah bin Rabi‘ah, dan keluarganya tewas dalam Perang Badar, dikalahkan oleh kaum Muslimin. 

Sejak saat itu, Hindun menyimpan dendam yang sangat dalam kepada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Puncak Kekejaman: Perang Uhud
Pada Perang Uhud, Hindun menjadi sosok yang sangat terkenal karena tindakan paling mengerikan dalam sejarah peperangan Arab saat itu.

Ia mengupah seorang budak bernama Wahsyi untuk membunuh Hamzah bin ‘Abdul Muththalib رضي الله عنه, paman Rasulullah ﷺ yang dijuluki Singa Allah.
👉 Wahsyi berhasil membunuh Hamzah dengan tombak.

Namun yang membuat Hindun dikenang sebagai wanita paling kejam adalah apa yang ia lakukan setelahnya:
Ia mutilasi jasad Hamzah
Hidung dan telinganya dipotong
Perut Hamzah dibelah
Hatinya diambil, dikunyah, lalu dimuntahkan.

Ia lalu memakai potongan tubuh Hamzah sebagai perhiasan
Perbuatan ini sangat mengejutkan bangsa Arab, karena bahkan dalam tradisi jahiliyah sekalipun, mutilasi jenazah adalah tindakan yang sangat hina.

Kebencian yang Membutakan Hati
Hindun bukan sekadar membenci, ia:
Menyanyikan syair kebencian
Menghasut kaum Quraisy
Menari di medan perang merayakan kematian Hamzah
Menjadikan kekejaman sebagai pelampiasan dendam.

Inilah sebabnya para sejarawan Muslim menyebutnya:
“Wanita paling kejam dalam sejarah Islam — sebelum hidayah datang kepadanya.”

Perubahan Tak Terduga: Masuk Islam
Namun kisah Hindun tidak berakhir di titik kelam itu.

Saat Fathu Makkah (Penaklukan Makkah), Rasulullah ﷺ memiliki kekuasaan penuh untuk membalas dendam. Banyak orang takut akan pembalasan, termasuk Hindun.

Tetapi Rasulullah ﷺ justru berkata:
“Pergilah, kalian semua bebas.”
Hindun datang menyamar, lalu bersyahadat di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika identitasnya terbongkar, para sahabat terdiam… menunggu keputusan Nabi.
Namun Rasulullah ﷺ menerima Islamnya dan tidak membalas dendam sedikit pun.

Hindun menangis dan berkata:
“Dulu tidak ada keluarga yang lebih aku benci daripada keluargamu, wahai Muhammad. Kini tidak ada keluarga yang lebih aku cintai selain keluargamu.”

Pelajaran Besar dari Kisah Ini
Kebencian dapat menjadikan manusia lebih kejam dari binatang
Islam menghapus dosa masa lalu
Hidayah bisa datang kepada siapa saja
Akhlak Rasulullah ﷺ lebih kuat daripada pedang. Wallahu a'lam 🙏

Sumber : @Pepatah Ulama Syalafi

Share:

Kisah Sayyidina Husain : Air Mata Rasulullah Saat Mendengar Kabar dari Jibril A.S

Air mata Rasulullah SAW tak terbendung kala malaikat Jibril alaihisalam datang membawa kabar duka tentang cucunya, Husain bin Ali Abi Thalib.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan:

Diceritakan dari Ummi Salamah –radhiyallaahu ‘anhaa- beliau berkata: Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam didalam rumahku, tiba-tiba masuklah Husain radhiyallaahu ‘anhu kepada beliau. Maka aku memandang keduanya dari pintu.

Saat itu Husain radhiyallaahu ‘anhu bermain-main diatas dada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, sementara ditangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ada sebongkah tanah, dan air mata beliau mengalir.

Dan ketika Husain radhiyallaahu ‘anhu sudah keluar, maka aku pun masuk kepada beliau, maka aku berkata: “Dengan bapakku dan dengan ibuku jadi tebusannya, aku melihat engkau, ditangan engkau ada tanah sambil engkau menangis, maka beliaupun bersabda kepadaku: “Ketika aku bersuka-cita dengannya sementara dia diatas dadaku sambil bermain-main, maka datanglah Jibril ‘alaihissalaam kepadaku. Dia memberiku tanah yang mana dia akan dibunuh diatasnya, maka karena itulah aku menangis.

Dalam kitab Nuuruzhzhalaam karya Syeikh Nawawi al Bantani halaman 35

Diceritakan, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberinya (Ummu Salamah) sebuah botol yang di dalamnya ada tanah tempat dibunuhnya Husain. Botol tersebut ditinggalkan di sisinya.

Hal itu adalah ketika Jibril mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan dia mengkhabarkan beliau bahwasanya Husain akan dibunuh diatas tanah ini, dan dia (Jibril) memperlihatkan kepada beliau dari tanahnya bumi dimana Husain akan dibunuh diatasnya, dan beliaupun mencium tanah tersebut seraya berkata: “Celaka Karbala !”

Dan beliau berkata kepada Ummu Salamah: “Jika tanah ini sudah menjadi darah, maka cucuku, Husain dibunuh.”

Dan suatu ketika (dilihatnya tanah menjadi darah) maka terperanjatlah Ummu Salamah. Dia berkata kepada budak perempuannya: “Pergilah engkau kepasar. Lihatlah ada berita apa (disana).”. (diapun pergi kepasar) dan kembali lagi kepada Ummu Salamah. Dia berkata dengan gemetar: Husain bin Ali radhiyallaahu ‘anhu dibunuh.”

beberapa puluhan tahun kemudian ucapan Nabi SAW menjadi kenyataan. Tepat pada hari Asyura’ (10 Muharram), Husain bin Ali radliyallahu anhu cucu Rasulullah gugur syahid di tangan orang-orang yang dzalim.

Peristiwa memilukan ini terjadi pada hari Jum’at 10 Muharram tahun 61 Hijriyyah. Kejadian ini sangat memilukan, menyedihkan dan merupakan musibah yang sangat besar bagi kaum muslimin.

Husain adalah putra Ali dan Fatimah radliallahu anhuma cucu Rasulullah yang sangat mirip dengan Nabi SAW baik fisik maupun akhlaknya. Husain bin Ali adalah seorang pemimpin yang shaleh, bertakwa, wara’ dan zahid. Mengenai keutamaan beliau dan saudaranya (al-Hasan bin Ali) Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

Maknanya: “al-Hasan dan al-Husain adalah sayyid (pemimpin) para pemuda di surga”. (HR. Tirmidzi).

Sumber : @Sahabat Kisah

Share:

Benci Dosanya, Rangkul Pelakunya” – Hikmah Lembut dari Abu Darda’ RA yang Menyentuh Hati

Uwaimir bin Amir bin Malik bin Zaid bin Qaish Al-Anshari, yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Darda’ RA, adalah salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang dikenal karena kebijaksanaan, kecerdikan, dan kelembutan nasihatnya. Ucapannya menyejukkan hati, dan petuahnya menjadi obat bagi jiwa-jiwa yang sedang terluka oleh kesalahan dan dosa.

Abu Nu’aim Al-Ashfahani menggambarkan sosok mulia ini dengan penuh kekaguman: “Abu Darda’ adalah seorang sahabat Rasulullah yang bijak dan cerdik. Nasihatnya berlimpah, hikmah dan ilmunya menjadi obat bagi orang-orang yang terjangkiti berbagai penyakit. Apabila ia berbicara, ia berani, menolak kebanggaan dunia, dan mengumpulkan tingkatan-tingkatan akhirat.”


Kebijaksanaan Abu Darda’ tidak hanya tampak dalam kata-kata indah, tetapi juga dalam sikapnya saat menghadapi kesalahan orang lain.

Kisah yang Mengajarkan Kelapangan Hati

Dikisahkan dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani, suatu hari Abu Darda’ melewati sekelompok orang yang sedang mencaci seorang lelaki karena telah melakukan suatu dosa. Caci maki dan hinaan terlontar tanpa henti.

Melihat hal itu, Abu Darda’ tidak ikut menyalahkan. Ia justru mendekat dan bertanya dengan lembut, “Menurut kalian, seandainya kalian melihat seseorang terjatuh ke dalam sumur, tidakkah kalian akan mengeluarkannya?”

Mereka menjawab, “Tentu saja, iya.”

Abu Darda’ pun berkata,

“Kalau begitu, janganlah kalian mencaci saudaramu. Pujilah Allah yang telah menjaga kalian dari terjatuh ke dalam maksiat yang sama.”

Orang-orang itu terdiam. Lalu mereka bertanya, “Apakah engkau tidak membencinya?”

Abu Darda’ menjawab dengan penuh hikmah,

“Aku hanya membenci perbuatannya. Jika ia meninggalkan perbuatan itu, maka ia adalah saudaraku.”

Kemudian ia menambahkan nasihat yang begitu dalam, “Berdoalah kepada Allah di masa senangmu, semoga Allah memperkenankan doamu di masa susahmu.”

Pelajaran Berharga dari Seorang Sahabat Mulia

Dari kisah ini, kita diajarkan satu prinsip besar dalam kehidupan beriman: Islam tidak mengajarkan kita membenci manusia, tetapi membenci dosa dan maksiat. Kita semua bukanlah manusia yang ma’shum, bukan pula terbebas dari kesalahan seperti para nabi. Bisa jadi, hari ini kita melihat orang lain terjatuh dalam dosa, namun esok hari kitalah yang diuji dengan kesalahan yang sama atau bahkan lebih berat.

Karena itu, sikap terbaik bukanlah mencaci atau merendahkan, melainkan bersyukur kepada Allah karena telah menjaga kita, serta mendoakan saudara kita agar diberi jalan kembali menuju kebaikan.

Penutup

Nasihat Abu Darda’ RA mengajarkan bahwa kelembutan hati adalah bagian dari keimanan. Membenci maksiat adalah kewajiban, tetapi merangkul pelakunya dengan doa dan harapan adalah wujud kasih sayang seorang mukmin.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga lisan, melapangkan hati, dan selalu memuji Allah atas perlindungan-Nya dari dosa.

Wallahu Ta’ala a’lam.

Share:

Abdurrahman Bin Auf : Pedagang Jujur Yang Lulus Ujian Kekayaan

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang termasuk As-Sabiqunal Awwalun, orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Ia masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, jauh sebelum hijrah ke Madinah.

Di Makkah, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai pedagang yang kaya, Namun ketika tekanan dan siksaan terhadap kaum Muslimin semakin berat, ia memilih meninggalkan seluruh hartanya demi mempertahankan iman dan berhijrah bersama Rasulullah ﷺ.

Persaudaraan di Madinah

Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’ RA, seorang sahabat Anshar yang kaya dan dermawan. Sa’ad bin Rabi’ berkata: “Aku adalah orang Anshar yang paling kaya. Aku akan membagi dua hartaku untukmu.” Namun Abdurrahman bin Auf menjawab dengan penuh kehormatan dan tulus : “Barakallahu laka fi ahlika wa malika, tunjukkan aku di mana pasar.” Ia tidak meminta harta, tidak bergantung pada manusia, tetapi bertawakal penuh kepada Allah. Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 2048.

Keberkahan dalam Bisnis

Abdurrahman bin Auf mulai berdagang di pasar Bani Qainuqa’. Ia berdagang dengan kejujuran, amanah, dan tanpa riba. Tidak lama kemudian, Allah memberkahi usahanya.

Suatu hari Rasulullah ﷺ melihat bekas warna kuning (wewangian) pada tubuh Abdurrahman bin Auf, lalu beliau bertanya. Abdurrahman menjawab bahwa ia telah menikah dan memberikan mahar berupa emas seberat biji kurma. Rasulullah ﷺ bersabda : “Adakanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing.” Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 2049, HR. Muslim no. 1427.

Kaya Raya, Tapi Sangat Dermawan

Meski menjadi salah satu sahabat terkaya, Abdurrahman bin Auf tak pernah menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Ia pernah : Menyedekahkan 700 ekor unta beserta muatannya, membebaskan banyak budak, menyumbangkan harta besar untuk jihad dan kaum fakir. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : “Abdurrahman bin Auf akan masuk surga dengan merangkak. ”Perkataan ini bukan celaan, tetapi peringatan bahwa banyaknya harta akan panjang hisabnya, hingga Abdurrahman bin Auf sering menangis karena takut kepada Allah. Riwayat : HR. Ahmad (hadits hasan menurut sebagian ulama).

Takut Dunia, Rindu Akhirat ketika disajikan makanan mewah, Abdurrahman bin Auf pernah menangis dan berkata : “Mush’ab bin ‘Umair lebih baik dariku, ia gugur dan bahkan kafannya tidak cukup menutupi tubuhnya.”Ia khawatir jika kenikmatan dunia disegerakan baginya, sementara sahabat-sahabatnya telah wafat dalam kesederhanaan. Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 4042.

Kedudukan Yang Sangat Mulia

Abdurrahman bin Auf termasuk:

1. 10 sahabat yang dijamin masuk surga

2. Sahabat yang hartanya menjadi penopang dakwah Islam

3. Teladan bahwa kaya tidak identik dengan cinta dunia

Riwayat 10 sahabat dijamin surga : HR. At-Tirmidzi no. 3747 (hasan shahih).

Pelajaran Besar dari Abdurrahman bin Auf

1. Kekayaan bukan penghalang taqwa

2. Bisnis bisa menjadi jalan ibadah

3. Harta di tangan, bukan di hati

4. Ikhlas dan jujur membuka pintu keberkahan

Abdurrahman bin Auf mengajarkan kita : Bekerjalah sekuat tenaga, bertawakallah sepenuh hati, dan jadikan harta sebagai jalan menuju Allah, bukan tujuan hidup. Semoga Allah menjadikan kita seperti Abdurrahman bin Auf, diberi rezeki yang luas, namun hati tetap tunduk dan ringan bersedekah.

Sumber : @Majelis Tausiyah Cinta

Share:

Zuljanah : Kuda Imam Husain Yang Setia Hingga Akhir

Semua sumber sejarah awal baik yang ditulis oleh sejarawan Muslim Sunni maupun riwayat yang berkembang di kalangan Syiah sepakat bahwa Imam Husain bin Ali memiliki seekor kuda yang menemaninya pada hari Asyura di Karbala (61 H).

Beberapa riwayat sejarah paling tua, seperti Tarikh al-Tabari dan Ansab al-Asyraf, menyebut bahwa kuda itu bernama Al-Murtajiz. Sementara itu, dalam tradisi Ahlul Bait dan karya sastra setelahnya, kuda ini dikenal luas dengan nama Zuljanah.

Kedua nama tersebut tidak bertentangan karena menggambarkan kuda yang sama dari dua tradisi penamaan yang berbeda.

𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵?

Zuljanah adalah kuda perang Arab yang kuat, tangguh, dan setia. Menjadi tunggangan Husain pada perjalanan dari Makkah hingga Karbala. Mengantar Husain pada hari-hari terakhirnya. Menjadi saksi bisu tragedi paling memilukan dalam sejarah umat.

Nama “Zuljanah” hidup kuat dalam budaya dan ingatan umat Muslim sebagai simbol kesetiaan yang tidak tergoyahkan.

𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶𝘄𝗮 𝗞𝗮𝗿𝗯𝗮𝗹𝗮 — 𝗣𝗲𝗻𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗨𝘁𝗮𝗺𝗮

Bagian ini merupakan inti dari kisah Zuljanah. Riwayat-riwayat sejarah lintas mazhab menegaskan sejumlah momen penting yang melibatkan kuda Husain pada hari Asyura.

𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗛𝘂𝘀𝗮𝗶𝗻 𝗸𝗲 𝗠𝗲𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿

Ketika Husain bersiap menuju medan pertempuran, ia menaiki kudanya. Sumber sejarah sepakat bahwa kuda itu tetap tenang, seolah memahami bahwa tuannya sedang menghadapi situasi yang sangat berat.

Husain mengusap leher kudanya, menenangkan hewan itu lalu berangkat dengan penuh keteguhan. Kedekatan ini menjadi simbol hubungan antara manusia mulia dan hewan yang setia.

𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗞𝗼𝗸𝗼𝗵 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴

Riwayat dari Tabari dan Abu Mikhnaf menggambarkan bagaimana Husain dikepung dari berbagai sisi. Pada saat itu, kuda Husain memainkan peran penting: Tetap berdiri meskipun rentetan serangan dating, bergerak memutar untuk melindungi sisi-sisi tubuh Husain, menolak bergerak mundur walau situasi semakin genting. Kuda Arab dikenal sangat loyal pada penunggangnya, dan riwayat-riwayat itu menggambarkan kesetiaan itu dengan jelas.

𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗛𝘂𝘀𝗮𝗶𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝘁𝘂𝗵

Pada fase paling kritis, tubuh Husain yang penuh luka jatuh dari punggung kudanya. Sumber-sumber sejarah tidak menggambarkan dramatisasi berlebihan, tetapi menyampaikan satu fakta yang sangat menyentuh: Kuda itu tidak langsung pergi, Ia tetap berdiri di sisi tuannya. Bahkan tampak enggan meninggalkan Husain meski pasukan memukulnya agar menjauh. Inilah momen paling menggetarkan, seekor hewan yang tidak bisa bicara, tetapi tindakan dan gerakannya menunjukkan kesetiaan absolut.

𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗲 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗵 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗟𝘂𝗸𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗿𝗮𝗵

Hampir semua riwayat menyebutkan satu adegan yang konsisten: Kuda Husain kembali ke kemah keluarga tanpa penunggang, tubuhnya terluka, pelananya berlumuran darah, Ia meringkik keras, memicu kepanikan di dalam tenda. Inilah bagian yang paling banyak dicatat sejarawan, karena menjadi pertanda bagi keluarga bahwa tragedi besar telah terjadi. Peristiwa ini bersifat lintas-mazhab, dicatat oleh: Abu Mikhnaf, Al-Baladzuri, Narasi sejarah umum Ahlul Bait, Sastrawan abad-abad setelahnya. Momen ini menjadikan Zuljanah simbol kesetiaan, duka, dan kejujuran hati seekor hewan.

𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗞𝗲𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗮𝗻

Terlepas dari perbedaan penamaan, Zuljanah diakui sebagai: pendamping perjuangan, saksi mata jatuhnya Husain, dan makhluk yang setia hingga detik terakhir.

Dalam budaya Islam, nama Zuljanah hidup terus dalam: prosesi Muharram, syair-syair Karbala, tradisi Persia, Urdu, Arab, serta seni visual kontemporer.

Kesetiaan kuda ini menjadi bagian dari warisan emosional umat Muslim selama lebih dari 1.300 tahun. Zuljanah menjadi lambang kesetiaan yang melampaui kata-kata, dan bagian tak terpisahkan dari kisah pengorbanan Husain di Karbala.

Sumber : @Musliminsight

Share: