Sebelumnya,
mari kita bahas dulu Isra’–Mi‘raj. Apakah dapat dikatakan suatu perjalanan
menembus ruang dan waktu?
Dapat
dikatakan demikian, namun bukan dalam pengertian fisika modern secara literal,
melainkan dalam kerangka mukjizat ilahi.
Mari
kita bedah terlebih dahulu secara hati-hati, ilmiah, dan teologis.
1.
Secara bahasa dan peristiwa: iya, itu menembus ruang. Isra’ secara eksplisit
adalah perpindahan ruang:
“… dari
Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha …."
(QS.
Al-Isra’: 1).
Dalam
satu malam, Nabi ﷺ berpindah lintas kota dan wilayah, melampaui jarak geografis
yang secara normal mustahil ditempuh. Dalam arti ini, ruang jelas 'ditembus'.
2.
Mi‘raj melampaui ruang fisik biasa.
Mi‘raj
bukan sekadar naik secara vertikal. Akan tetapi perpindahan dari alam kasatmata
(syahadah), menuju alam ghaib (malakut dan jabarut).
Langit-langit
yang dilalui bukan atmosfer atau ruang kosmik sebagaimana dipahami sains
modern, melainkan tingkatan eksistensi.
Jadi,
Mi‘raj adalah transendensi ruang fisik menuju ruang metafisik.
3.
Apakah juga menembus waktu?
Di
sinilah kehati-hatian diperlukan.
Indikasi
kuat dalam riwayat Isra’–Mi‘raj terjadi dalam satu malam, namun Nabi ﷺ
menyaksikan para nabi lintas zaman, surga dan neraka, dan peristiwa-peristiwa
masa depan. Ini menunjukkan bahwa dimensi waktu linear manusia tidak membatasi
peristiwa tersebut. Namun tidak disebutkan sebagai 'time travel' literal.
Islam
tidak menyebut Nabi kembali ke masa lalu manusia, atau melompat ke masa depan
dunia. Yang terjadi adalah Allah memperlihatkan realitas di luar alur waktu
duniawi.
4.
Posisi ulama Ahlus Sunnah
Mayoritas
ulama menyatakan Isra’–Mi‘raj adalah: perjalanan nyata, dengan jasad dan ruh,
dalam keadaan sadar, sebagai mukjizat, bukan mimpi. Namun, mereka tidak
mendefinisikannya dengan istilah filsafat atau fisika modern.
Kenapa?
Karena
istilah seperti space-time adalah konsep kontemporer, sementara mukjizat tidak
tunduk pada hukum alam, tetapi menangguhkannya.
Isra’–Mi‘raj
adalah perjalanan mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang melampaui batas ruang dan waktu
menurut hukum alam biasa, dengan kehendak Allah.
Kita
tidak dapat menyamakannya langsung dengan wormhole, atau menjelaskan sepenuhnya
dengan relativitas Einstein, karena itu mereduksi mukjizat menjadi eksperimen
fisika.
Isra’–Mi‘raj
bukan pelarian dari dunia, tetapi peneguhan untuk kembali ke dunia dengan
shalat. Ini bukan soal seberapa jauh Nabi pergi, melainkan bagaimana manusia
bisa tetap dekat dengan Allah di tengah waktu yang menekan dan ruang yang
membatasi.
Oke,
kita mulai!
Tahun
yang Membuat Langit Terasa Jauh
Sekira
tahun ke-10 kenabian Muhammad ﷺ. Mekah tidak berubah. Gunung-gunung tetap
berdiri, pasar tetap ramai, Ka‘bah tetap dikelilingi orang-orang yang sama.
Namun, bagi Nabi Muhammad ﷺ, dunia terasa retak dari dalam. Khadijah telah
pergi. Perempuan yang menjadi rumah pertama bagi risalah itu, kini berbaring
sunyi di bawah tanah Mekah.
Tak lama
kemudian, Abu Thalib menyusul —paman yang selama ini menjadi tameng terakhir
dari kekerasan Quraisy.
Tahun
itu kelak disebut orang sebagai ‘Am al-Ḥuzn. Tahun duka.
Muhammad
ﷺ pernah berdiri di Thaif, membawa harapan yang rapuh. Yang beliau terima
adalah ejekan, dan batu-batu yang menghujani tubuhnya. Darah mengalir di kaki.
Flasback:
Thaif
adalah sebuah kota di Jazirah Arab yang memiliki makna sangat penting dalam
sejarah dakwah Nabi Muhammad ﷺ —bukan sekadar nama tempat, tetapi simbol luka,
kesabaran, dan harapan.
Thaif,
kota pegunungan di sebelah tenggara Mekah, berjarak sekira 80–90 kilometer,
beriklim lebih sejuk daripada Mekah. Thaif dikenal sebagai kota kebun dan
pertanian, tempat peristirahatan orang Quraisy, dan pusat suku Tsaqif.
Thaif
sendiri dikenang karena peristiwa paling menyakitkan dalam dakwah Rasulullah ﷺ.
Sekitar
tahun ke-10 kenabian, setelah wafatnya, Khadijah (istri beliau), Abu Thalib
(paman dan pelindungnya). Inilah masa yang disebut ‘Am al-Ḥuzn (Tahun
Kesedihan).
Apa yang
terjadi di Thaif? Nabi Muhammad ﷺ datang ke kota itu bukan untuk untuk mengajak
kepada Islam dan mencari perlindungan. Namun, apa yang terjadi? Para pemuka
Tsaqif menolak dengan kasar, anak-anak dan budak diperintahkan melempari beliau
dengan batu. Riwayat shahih menyebut, bahwa darah mengalir hingga membasahi
sandal beliau. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi tubuh Nabi ﷺ dan ikut
terluka.
Dalam
keadaan lemah dan terluka, Nabi ﷺ berdoa, “Ya Allah, kepadaMu aku adukan
kelemahanku, kurangnya dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia."
Jibril
datang membawa tawaran. “Jika engkau mau, wahai Muhammad, aku akan
menghimpitkan dua gunung ini kepada mereka.”
Nabi
menggeleng pelan. “Jangan. Aku berharap kelak dari sulbi mereka lahir
orang-orang yang menyembah Allah.”
Malam
itu, beliau kembali ke Makkah. Bukan sebagai pemenang, tetapi sebagai hamba
yang berserah.
Di dekat
Ka‘bah, dalam sunyi yang tidak disaksikan siapa pun, Muhammad ﷺ menengadah.
Tidak
ada permintaan besar. Tidak ada keluhan panjang. Hanya satu kalimat yang jatuh
pelan dari hatinya, “Ya Allah, kepadaMu aku adukan kelemahanku.”
Dan pada
malam itulah, Allah menjawab.
***
Perjalanan
yang Tidak Diminta, Nabi Muhammad ﷺ tidak mempersiapkan diri untuk keajaiban.
Beliau tidak diberi tau bahwa malam itu dunia akan terlipat. Tidak ada
tanda-tanda di langit. Tidak ada suara gemuruh.
Jibril
datang, tenang seperti biasa. Sesosok tunggangan putih telah menunggu. Lebih
besar dari keledai, lebih kecil dari bagal. Matanya jernih. Tubuhnya berkilau.
“Ini
Buraq,” kata Jibril.
Nabi
Muhammad ﷺ naik tanpa tanya. Seorang hamba tidak bertanya ke mana ketika
dipanggil oleh Tuhannya.
Malam
itu, jarak kehilangan makna. Mekah tertinggal, dan Masjidil Aqsha menyambut.
Di tanah
yang diberkahi itu, para nabi telah berkumpul. Adam. Nuh. Ibrahim. Musa, dan
Isa. Mereka berdiri, bukan sebagai masa lalu, melainkan sebagai saksi.
Jibril
berkata, “Majulah, wahai Muhammad.”
Nabi ﷺ
menjadi imam shalat. Mereka berdiri dalam shalat yang telah dikenal para nabi
sejak dahulu, bukan shalat yang kelak akan diwajibkan malam itu. Belum ada
hitungan rakaat. Belum ada beban kewajiban, yang ada hanya kepatuhan.
Ketika
takbir dikumandangkan, seluruh sejarah risalah seakan menunduk.
Usai
shalat, Musa mendekat. “Engkau telah membawa umat yang berat, wahai Muhammad.”
Nabi
Muhammad ﷺ tersenyum. Beliau belum tau betapa beratnya amanah itu akan
diturunkan malam ini.
Kemudian,
Nabi Muhammad ﷺ kembali ke punggung Buroq dan melesat ke langit didampingi
jibril.
Di
langit pertama, Nabi Adam menyambut di sana, menatap keturunannya dengan mata
yang penuh doa.
Di
langit kedua, Nabi Isa dan Yahya menyapa dengan kelembutan.
Di
Langit ketiga berjumpa Nabi Yusuf dengan keindahan yang membuat iri para
malaikat.
Di
Langit keempat berjumpa Nabi Idris, yang diangkat karena kesabaran.
Langit
kelima berjumpa dengan Nabi Harun, wajahnya penuh kasih.
Langit
keenam berjumpa Nabi Musa, yang memandang lama.
Di
langit ketujuh Nabi Muhammad ﷺ berjumpa dengan Ibrahim yang bersandar di Baitul
Ma'mur. Ka‘bah langit yang setiap harinya dimasuki 70.000 malaikat dan mereka
tidak pernah kembali lagi. Hanya satu kali datang selama eksistensi mereka.
Nabi
Muhammad ﷺ menjadi imam para nabi di Masjidil Aqsha adalah suatu perjumpaan ruh
nabi-nabi terdahulu, lalu dalam Mi‘raj beliau bertemu para nabi kembali di
langit-langit sesuai maqam mereka. Ini bukan pengulangan, melainkan perbedaan
alam dan tujuan perjumpaan.
******
Sidratul
Muntaha
Langit
ketujuh bukanlah akhir. Setelah Nabi Ibrahim menyambutnya dengan wajah yang
damai, perjalanan itu belum berhenti. Nabi Muhammad ﷺ masih dibawa naik
melewati wilayah yang tak lagi dikenali oleh bahasa manusia. Cahaya semakin
rapat, bukan menyilaukan mata, tetapi menekan kesadaran, seakan ruang itu bukan
lagi ruang, dan waktu pun kehilangan denyutnya.
Di
sanalah Sidratul Muntaha.
Nabi
melihat serupa pohon yang tidak tumbuh di tanah, tidak pula di langit seperti
yang dikenal manusia. Daunnya berlapis cahaya, buahnya menyerupai bejana, dan
di sekitarnya mengalir sesuatu yang tidak dapat dinamai selain sebagai
tanda-tanda kebesaran Allah.
Warna-warna
menutupinya, bukan satu, bukan dua, melainkan hingga apa pun yang dipandang
tidak dapat lagi dibedakan bentuknya.
Jibril,
yang sejak awal perjalanan tak pernah beranjak dari sisi Nabi ﷺ, berhenti.
Langkahnya tertahan. Sayapnya, yang sebelumnya membentang memenuhi cakrawala,
kini terlipat dengan penuh adab. “Di sinilah batasku, aku tidak bisa melangkah
lebih jauh," isyaratnya dengan penuh ketundukan.
Buraq
pun berhenti. Makhluk yang sejak Mekah membawa Nabi ﷺ menembus malam dengan
kecepatan yang tak terbayangkan itu kini diam, tenang, seakan memahami bahwa
perjalanan ini telah memasuki wilayah yang tidak boleh dimasuki kecuali hanya
oleh satu insan.
Nabi
Muhammad ﷺ melangkah sendiri. Tidak ada suara. Tidak ada dialog yang dapat
ditangkap telinga. Tidak ada bentuk yang dapat diserupakan. Yang ada hanyalah
penetapan, sebuah amanah besar yang diletakkan langsung ke dalam diri beliau.
Di
tempat bernama Sidratul Muntaha itulah, kepada Nabi Muhammad ﷺ shalat
diwajibkan.
Bukan
sebagai gerak tubuh semata, tetapi sebagai ikatan antara bumi dan langit. Lima
puluh waktu dalam sehari semalam, Nabi Muhammad ﷺ menerimanya tanpa ragu, tanpa
merasa berat karena datang dari sumber segala rahmat.
Kemudian,
tanpa jeda yang dapat diukur oleh waktu manusia, perjalanan berbalik arah.
Turun
Kembali
Jibril
kembali mendampinginya. Buraq kembali bersiap. Langit-langit yang sebelumnya
dilewati kini dilalui kembali, tetapi dengan beban yang berbeda, bukan beban
fisik, melainkan amanah untuk umat yang belum lahir seluruhnya.
Ketika
sampai di langit keenam, Nabi Musa menunggunya.
Nabi
Musa tidak segera berbicara. Dia menatap Nabi Muhammad ﷺ dengan pandangan
seorang pemimpin yang telah lama bergulat dengan umat yang keras, umat yang
mencintai keringanan, dan sering goyah oleh beban perintah.
“Apa
yang diwajibkan Tuhanmu atas umatmu?” tanya Nabi Musa.
“Lima
puluh shalat,” jawab Nabi Muhammad ﷺ dengan tenang.
Musa
menarik napas panjang. Di wajahnya tidak ada penolakan, hanya kepedulian yang
lahir dari pengalaman panjang.
“Umatmu
tidak akan sanggup,” katanya pelan, "aku telah menguji Bani Israil.
Kembalilah, minta keringanan.”
Nabi
Muhammad ﷺ pun kembali naik. Turun, bertemu Nabi Musa kembali. Nabi naik lagi.
Berkali-kali Nabi Musa menyarankan agar meminta untuk lebih diringankan lagi.
Hingga akhirnya menjadi lima waktu. Ketika Nabi Musa masih menyarankan untuk
meminta keringanan lagi, Nahi Muhammad ﷺ menunduk seraya bersabda, “Aku malu
kepada Tuhanku.”
Lima
waktu. Namun pahalanya tetap lima puluh.
*****
Kembali
ke Bumi
Fajar
menyingsing.
Nabi
Muhammad ﷺ telah kembali ke Mekah. Dunia tampak sama, namun beliau tidak lagi
sama. Ketika kisahsemalam itu disampaikan, orang-orang tertawa.
“Dalam
satu malam? Ke Syam dan kembali? Itu dusta!”
Abu
Bakar mendengar kabar itu. Dia tidak bertanya panjang.
“Jika
Muhammad yang mengatakan, maka itu benar," katanya.
Dan
sejak hari itu, dia dipanggil Ash-Shiddiq.
*****
Tahun-tahun
berlalu. Luka-luka belum berhenti. Umat Islam masih akan diuji. Namun, setiap
kali seorang mukmin berdiri di malam sunyi, mengangkat tangan, dan bersujud,
dia sedang menapaki jejak yang sama.
Isra’–Mi‘raj
bukan kisah tentang Nabi yang naik ke langit. Akan tetapi tentang Allah yang
mengajarkan umat manusia melalui RasulNya cara menegakkan hidup di bumi. Dengan
shalat. Dengan sujud. Dengan kembali kepadaNya membawa amal yang nantinya akan
ditanyakan pertama kali itu.
Referensi:
- QS.
Al-Isrā’: 1
- HR.
Muslim no. 162
- Tafsir
Ibnu Katsir & Syarh Shahih Muslim (an-Nawawi)
Note :
Sebagian detail visual bersifat simbolik dan tidak disebutkan secara eksplisit
dalam riwayat shahih.
Buraq
digambarkan dalam riwayat shahih sebagai hewan putih, lebih besar dari keledai
dan lebih kecil dari bagal, dengan kecepatan luar biasa. Detail visual lain
merupakan simbol artistik.
Wallahu
a'lam 🙏
Semoga
bermanfaat.
Sumber : @Pepatah Ulama Syalafi

0 komentar:
Posting Komentar