Zubaidah Binti Ja'far : Ratu Dermawan Sang Pembebeas Jamaah Haji dari Kekeringan
Seseorang yang Lebih Buruk dari Fir'aun dan Iblis
Kisah Romantis Ibunu Hajar Al-Haitami dan Istrinya : Ketika Emas Muncul dari Air Zam-Zam
Puisi Titipan Allah
Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milik-ku
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-NyaBahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku
tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???
Adakah aku memiki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta, aku ingin lebih banyak mobil
Aku ingin jabatan dan lebih banyak popularitas
Kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukum bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
Nikmat dunia mesti selalu datang menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakukan baikku", Dan menolak keputusannya-Nya yang tak sesuai keinginan-ku
Ya Alloh, Ampunilah jiwa yang tidak mengerti & kurang memahami ini, Sadarkanlah kami akan sebuah nikmat & petaka adalah sama nilainya. Sebagai ujian dalam hidup kami......Amiin.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”….
Peristiwa Terbelahnya Bulan : Mukjizat Rasulullah yang Membungkam Kesombongan Kaum Musyrikin
Malam di
Makkah itu sunyi. Langit terbentang jernih, dan bulan purnama menggantung penuh
di atas Ka‘bah. Namun di bawah cahaya bulan, hati kaum Quraisy justru gelap
oleh kesombongan. Mereka mendatangi Rasulullah ï·º dengan tantangan yang angkuh.
“Wahai
Muhammad, jika engkau benar seorang nabi, maka belahlah bulan untuk kami.” Mereka
tidak mencari kebenaran. Mereka hanya ingin alasan baru untuk mendustakan. Namun
Rasulullah ï·º tidak marah. Beliau tidak berdebat panjang. Beliau hanya
menengadahkan pandangan ke langit - dan berdoa kepada Rabb-nya.
ISYARAT
JARI YANG MENGGUNCANG LANGIT
Di
hadapan para pemuka Quraisy, Rasulullah ï·º mengangkat tangannya dan memberi
isyarat ke arah bulan. Maka terjadilah sesuatu yang belum pernah disaksikan
manusia sebelumnya, bulan itu terbelah dua. Satu bagian tampak di satu sisi
gunung, dan bagian lainnya di sisi yang lain. Gunung Hira berada di antara dua
belahan itu.
Orang-orang
terdiam. Mata mereka terbuka lebar. Napas mereka tertahan. Allah ï·» mengabadikan
peristiwa itu dalam firman-Nya:
“Telah
dekat hari Kiamat dan bulan pun terbelah.” (QS. Al-Qamar: 1)
Dan
Allah melanjutkan: “Dan jika mereka melihat suatu tanda (mukjizat), mereka
berpaling dan berkata: ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus.’” QS. Al-Qamar: 2)
SAKSI
MATA PARA SAHABAT
Peristiwa
ini bukan dongeng, Bukan mimpi. Bukan ilusi. Ia disaksikan langsung oleh para
sahabat Nabi ï·º. Mas‘ud RA berkata:
“Bulan
terbelah pada masa Rasulullah ï·º menjadi dua bagian, satu di atas gunung dan
satu di bawahnya. Maka Rasulullah ï·º bersabda: ‘Saksikanlah!’” (HR. Bukhari dan
Muslim).
Anas bin
Malik RA juga meriwayatkan: “Penduduk Makkah meminta Rasulullah ï·º
memperlihatkan tanda, lalu beliau memperlihatkan terbelahnya bulan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
MUKJIZAT
BESAR YANG DI DUSTAKAN
Alih-alih
beriman, kaum Quraisy berkata: “Muhammad telah menyihir kita!”
Bahkan
mereka berkata: “Tunggu para musafir dari luar Makkah. Jika mereka juga
melihatnya, barulah kita percaya.” Ketika para musafir datang, mereka berkata: “Kami
melihat bulan terbelah di langit.” Namun kesombongan telah menutup hati mereka.
Mukjizat sebesar langit pun tak mampu menembus hati yang terkunci.
MAKNA di
BALIK BULAN yang TERBELAH
Mukjizat
ini bukan sekadar keajaiban visual. Ia adalah peringatan keras:
• Bahwa
hari Kiamat sudah dekat
• Bahwa
alam tunduk pada perintah Allah
• Bahwa
Rasulullah ï·º adalah utusan Allah
yang haq
Jika
bulan saja bisa terbelah dengan izin Allah, maka hati manusia pun seharusnya
bisa terbelah dari kesombongan menuju iman.
PESAN
MORAL
Kaum
Quraisy melihat bulan terbelah dengan mata kepala mereka, namun tetap kafir. Sementara
kita… melihat ayat-ayat Allah setiap hari:
•
Al-Qur’an,
•
kehidupan,
•
kematian,
• doa
yang dikabulkan,
• dosa
yang ditutupi.
Namun
sering kali kita menunda taubat. Allah berfirman: “Maka berimanlah kamu kepada
Allah dan Rasul-Nya serta kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan.” (QS.
At-Taghabun: 8).
Mukjizat
membelah bulan adalah saksi bahwa Rasulullah ï·º benar-benar Nabi Allah. Namun
mukjizat terbesar beliau tetaplah Al-Qur’an—yang hingga hari ini masih terbuka
bagi siapa pun yang mau beriman.
Semoga
Allah membelah hati kita dari kelalaian, dan menyatukannya kembali dengan
cahaya iman.
Allahumma shalli ‘ala sayyidin Muhammad ï·º
والله اعلام
بصواب
Sumber :
@Citra Islam