Tampilkan postingan dengan label Sirah Nabawiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nabawiyah. Tampilkan semua postingan

Peristiwa Terbelahnya Bulan : Mukjizat Rasulullah yang Membungkam Kesombongan Kaum Musyrikin

Malam di Makkah itu sunyi. Langit terbentang jernih, dan bulan purnama menggantung penuh di atas Ka‘bah. Namun di bawah cahaya bulan, hati kaum Quraisy justru gelap oleh kesombongan. Mereka mendatangi Rasulullah ﷺ dengan tantangan yang angkuh.

“Wahai Muhammad, jika engkau benar seorang nabi, maka belahlah bulan untuk kami.” Mereka tidak mencari kebenaran. Mereka hanya ingin alasan baru untuk mendustakan. Namun Rasulullah ﷺ tidak marah. Beliau tidak berdebat panjang. Beliau hanya menengadahkan pandangan ke langit - dan berdoa kepada Rabb-nya.

ISYARAT JARI YANG MENGGUNCANG LANGIT

Di hadapan para pemuka Quraisy, Rasulullah ﷺ mengangkat tangannya dan memberi isyarat ke arah bulan. Maka terjadilah sesuatu yang belum pernah disaksikan manusia sebelumnya, bulan itu terbelah dua. Satu bagian tampak di satu sisi gunung, dan bagian lainnya di sisi yang lain. Gunung Hira berada di antara dua belahan itu.

Orang-orang terdiam. Mata mereka terbuka lebar. Napas mereka tertahan. Allah ﷻ mengabadikan peristiwa itu dalam firman-Nya:

“Telah dekat hari Kiamat dan bulan pun terbelah.” (QS. Al-Qamar: 1)

Dan Allah melanjutkan: “Dan jika mereka melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus.’” QS. Al-Qamar: 2)

SAKSI MATA PARA SAHABAT

Peristiwa ini bukan dongeng, Bukan mimpi. Bukan ilusi. Ia disaksikan langsung oleh para sahabat Nabi ﷺ. Mas‘ud RA berkata:

“Bulan terbelah pada masa Rasulullah ﷺ menjadi dua bagian, satu di atas gunung dan satu di bawahnya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Saksikanlah!’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Anas bin Malik RA juga meriwayatkan: “Penduduk Makkah meminta Rasulullah ﷺ memperlihatkan tanda, lalu beliau memperlihatkan terbelahnya bulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

MUKJIZAT BESAR YANG DI DUSTAKAN

Alih-alih beriman, kaum Quraisy berkata: “Muhammad telah menyihir kita!”

Bahkan mereka berkata: “Tunggu para musafir dari luar Makkah. Jika mereka juga melihatnya, barulah kita percaya.” Ketika para musafir datang, mereka berkata: “Kami melihat bulan terbelah di langit.” Namun kesombongan telah menutup hati mereka. Mukjizat sebesar langit pun tak mampu menembus hati yang terkunci.

MAKNA di BALIK BULAN yang TERBELAH

Mukjizat ini bukan sekadar keajaiban visual. Ia adalah peringatan keras:

• Bahwa hari Kiamat sudah dekat

• Bahwa alam tunduk pada perintah Allah

• Bahwa Rasulullah ﷺ adalah utusan Allah 

  yang haq

Jika bulan saja bisa terbelah dengan izin Allah, maka hati manusia pun seharusnya bisa terbelah dari kesombongan menuju iman.

PESAN MORAL

Kaum Quraisy melihat bulan terbelah dengan mata kepala mereka, namun tetap kafir. Sementara kita… melihat ayat-ayat Allah setiap hari:

• Al-Qur’an,

• kehidupan,

• kematian,

• doa yang dikabulkan,

• dosa yang ditutupi.

Namun sering kali kita menunda taubat. Allah berfirman: “Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya serta kepada cahaya (Al-Qur’an) yang telah Kami turunkan.” (QS. At-Taghabun: 8).

Mukjizat membelah bulan adalah saksi bahwa Rasulullah ﷺ benar-benar Nabi Allah. Namun mukjizat terbesar beliau tetaplah Al-Qur’an—yang hingga hari ini masih terbuka bagi siapa pun yang mau beriman.

Semoga Allah membelah hati kita dari kelalaian, dan menyatukannya kembali dengan cahaya iman.

Allahumma shalli ‘ala sayyidin Muhammad ﷺ

والله اعلام بصواب

Sumber : @Citra Islam

 

Share:

Doa Nabi S.A.W Yang Menggetarkan Arsy Saat Perang Badar

Permohonan Nabi Saat Di Perang Badar, Do’a Yang Menggetarkan Arsy Demi Tegaknya Kalimat Tauhid

Menjelang perang, Rasulullah SAW melihat perbandingan kekuatan yang sangat tidak seimbang. 313 kaum Muslimin yang minim perlengkapan harus menghadapi 1.000 pasukan Quraisy dengan persenjataan lengkap. Beliau masuk ke dalam tenda (al-’Arisy) dan terus menerus berdoa dengan penuh kepasrahan.

Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya begitu tinggi ke arah kiblat hingga selendang beliau terjatuh dari pundaknya. Beliau memohon dengan kalimat yang sangat masyhur:

"Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok Islam ini, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini." (HR. Muslim no. 1763)

Saking khusyuk dan emosionalnya permohonan tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menemani beliau merasa iba, lalu mengambil selendang yang jatuh dan meletakkannya kembali ke pundak Rasulullah. Abu Bakar kemudian memegang pundak beliau sambil berkata:

"Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia pasti akan menepati apa yang telah Dia janjikan kepadamu."

Allah SWT langsung menjawab doa Nabi dengan menjanjikan bantuan ribuan malaikat, yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur'an.

"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: 'Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut'." (QS. Al-Anfal: 9)

Hikmah dari Penjelasan Ulama:

Para ulama, termasuk Imam An-Nawawi, menjelaskan bahwa perkataan Nabi "Engkau tidak akan disembah lagi" bukanlah bentuk keraguan, melainkan bentuk Ibtihal (permohonan yang sangat mendalam). Beliau menyadari bahwa kaum Muslimin saat itu adalah satu-satunya penjaga tauhid di muka bumi. Jika mereka binasa, maka syariat Allah akan terputus dari dunia.

Kesimpulan: Peristiwa ini mengajarkan bahwa sekuat apa pun persiapan manusia, doa dan sandaran total kepada Allah adalah kunci kemenangan sejati. Perang Badar bukan hanya kemenangan fisik, tapi kemenangan iman atas keputusasaan. Allahu Akbar……

Sumber : @Sahabat Kisah

Share:

Kisah Pernikahan Mulia Rasulullah S.A.W dengan Khadijah R.A yang Penuh Hikmah

Dikutip dari Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Nabi Muhammad SAW merupakan pemuda yang memiliki akhlak baik dan bekerja sebagai pedagang, sedangkan Khadijah RA merupakan seorang janda 40 tahun yang terpandang, cantik, kaya, terhormat, dan dikenal sebagai pedagang yang sukses.

Pertemuan pertama antara Khadijah RA dan Nabi Muhammad SAW terjadi ketika Khadijah RA mempekerjakan Nabi Muhammad SAW untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Nabi Muhammad SAW pun pergi ke Syam bersama pelayan Khadijah RA yang bernama Maisarah. Mereka mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dari hasil penjualan tersebut.

Maisarah mengabarkan kepada Khadijah RA tentang sifat mulia, kecerdikan, dan kejujuran Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut membuat Khadijah RA kagum dan tertarik dengan Nabi Muhammad SAW.

Khadijah RA meminta rekannya, Nafisah binti Munyah, untuk menemui Nabi Muhammad SAW dan membuka jalan agar beliau mau menikah dengannya. Nabi Muhammad SAW pun menerima tawaran tersebut dan menemui paman-pamannya. Kemudian paman Nabi Muhammad SAW menemui paman Khadijah RA untuk mengajukan lamaran.

Setelah semua dianggap selesai, maka pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah pun dilaksanakan dengan maskawin 20 ekor unta.

Khadijah RA adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak pernah menikahi wanita lain sampai Khadijah RA meninggal.

Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya Sirah Nabawiyah Jilid 1 mengemukakan, pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA mendapat karunia dua anak laki-laki dan empat anak perempuan.

Anak pertama laki-laki bernama Al-Qasim dan anak kedua bernama Abdullah. Mereka wafat pada saat masih kecil. Adapun, anak perempuan mereka bernama Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum, da Fathimah. Mereka semua masuk Islam dan ikut hijrah ke Madinah serta menikah.

Masih mengutip dari sumber buku yang sama, bahwa dari kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA di atas memiliki beberapa hikmah, di antaranya:

Berdagang dengan Cara Amanah dan Jujur

Nabi Muhammad SAW dan Khadijah RA menerapkan cara untuk berdagang dengan amanah dan jujur. Hal tersebut memberikan keuntungan yang cukup besar. Allah SWT menganugerahkan berkah kepada Khadijah melalui usaha yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW.

Berdagang Merupakan Sumber Penghasilan atau Rezeki

Nabi Muhammad SAW sebelum diutus menjadi nabi dan rasul melakukan kegiatan berdagang untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau selalu mempelajari dunia bisnis dari pamannya.

Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA adalah takdir Allah SWT

Allah SWT telah memilih Khadijah RA untuk dijadikan istri Nabi Muhammad SAW. Khadijah RA diharapkan akan meringankan beban kehidupan ekonomi Nabi Muhammad SAW dan membantu beliau dalam mengemban Islam, serta menemani duka Nabi Muhammad SAW.

Pernikahan Bukan Sekadar untuk Kenikmatan Biologis

Nabi Muhammad SAW menikahi Khadijah RA yang berusia 40 tahun, yakni lebih tua dari usia Nabi Muhammad SAW. Beliau menikah dengan Khadijah RA karena dia adalah wanita terhormat dan terpandang di tengah kaumnya. Khadijah RA juga memiliki predikat sebagai wanita suci dan terjaga kehormatannya.

Terdapat hikmah dibalik wafatnya kedua putra mereka yang belum menginjak dewasa. Allah SWT telah menganugerahkan mereka anak laki-laki agar tidak menjadi bahan cemooh karena tidak bisa memberikan keturunan anak laki-laki.

Meskipun Nabi Muhammad SAW dan Khadijah RA mendapatkan ujian berat ini, mereka tetap tabah menerimanya karena hal ini merupakan cobaan yang diberikan oleh Allah SWT.

Sumber : @Sahabat Kisah


Share:

Isra' Mi'raj : Menembus Batas Kemampuan Makhluk Manapun Menerima Hadiah Sholat dibawah Sidratul Muntaha

Di Bawah Sidratul Muntaha: Hadiah Salat untuk Umat Nabi Muhammad ﷺ

Saat Rasulullah ﷺ tiba di langit ketujuh dan bertemu dengan Nabi Ibrahim عليه السلام, perjalanan Mi’raj belum berakhir. Dari sana, beliau melanjutkan langkah menuju Sidratul Muntaha—batas tertinggi yang menjadi puncak perjalanan ruhani Nabi Muhammad ﷺ.

Sidratul Muntaha digambarkan sebagai sebuah pohon agung yang menandai akhir pengetahuan makhluk. Dari tunas-tunasnya mengalir empat sungai; dua mengalir menuju surga, dan dua lainnya mengalir ke bumi. Daun-daunnya selebar telinga gajah, dan di sekitarnya tampak keindahan yang tak terlukiskan, dihiasi cahaya serta kilau yang memancarkan kemuliaan Ilahi.

Namun, perjalanan menuju Sidratul Muntaha ini tidak ditemani oleh Malaikat Jibril عليه السلام. Jibril berhenti di langit ketujuh dan berkata,

“Batas kemampuanku hanya sampai di sini. Jika aku melangkah lebih jauh, aku akan hancur.”

Maka Rasulullah ﷺ melangkah sendiri, menembus batas yang tak mampu dijangkau makhluk lain.

Ketika sampai di Sidratul Muntaha, Rasulullah ﷺ merasa bingung bagaimana mengucapkan salam kepada Allah ﷻ. Dalam kebingungan itu, Allah ﷻ mewahyukan kepada beliau kalimat salam. Maka Rasulullah ﷺ pun mengucapkan:

“At-taḥiyyātu, al-mubārakātu, aṣ-ṣalawātu, aṭ-ṭayyibātu lillāh.”

(Segala penghormatan, keberkahan, salawat, dan kebaikan hanyalah milik Allah.)

Allah ﷻ kemudian menjawab:

“As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh.”

(Salam sejahtera, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu, wahai Nabi.)

Mendengar jawaban salam dari Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ teringat kepada umatnya. Dengan penuh kasih, beliau menjawab:

“As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn.”

(Kesejahteraan semoga tercurah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh.)

Betapa besar kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Bahkan di puncak pertemuannya dengan Allah ﷻ, beliau tidak melupakan kita. Lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu, nama umatnya telah disertakan dalam doa beliau di Sidratul Muntaha.

Setelah itu, Rasulullah ﷺ menerima perintah agung dari Allah ﷻ: kewajiban salat bagi umat Islam sebanyak lima puluh waktu dalam sehari.

Beliau pun turun kembali ke langit ketujuh dan melihat Nabi Ibrahim عليه السلام bersandar di Baitul Ma’mur. Perjalanan dilanjutkan ke langit keenam, di mana beliau bertemu dengan Nabi Musa عليه السلام.

Nabi Musa bertanya,

“Wahai Muhammad, apakah yang engkau dapatkan dari Tuhanmu?”

Rasulullah ﷺ menjawab,

“Aku diperintahkan untuk melaksanakan salat lima puluh waktu dalam sehari.”

Nabi Musa berkata dengan penuh keprihatinan,

“Sesungguhnya aku telah menguji umatku, dan mereka tidak mampu memikul beban seberat itu. Bagaimana dengan umatmu?”

Maka Nabi Musa menyarankan Rasulullah ﷺ untuk kembali menghadap Allah ﷻ dan memohon keringanan. Rasulullah ﷺ pun kembali ke Sidratul Muntaha. Setiap kali kembali, Allah ﷻ mengurangi kewajiban itu lima waktu.

Hingga sembilan kali Rasulullah ﷺ bolak-balik antara langit keenam dan Sidratul Muntaha, memohon keringanan bagi umatnya. Akhirnya, Allah ﷻ menetapkan kewajiban salat menjadi lima waktu dalam sehari.

Ketika Rasulullah ﷺ kembali bertemu Nabi Musa, beliau kembali disarankan untuk meminta keringanan. Namun Rasulullah ﷺ berkata dengan penuh rasa malu dan syukur,

“Aku telah memohon hingga sembilan kali. Kini aku merasa malu kepada Tuhanku. Lima waktu ini adalah ketetapan-Nya. Dan setiap satu waktu bernilai sepuluh pahala.”

Maka lima waktu salat bagi umat Islam tetap bernilai lima puluh dalam timbangan kebaikan.

Pada malam 27 Rajab, Rasulullah ﷺ menerima hadiah terbesar bagi umatnya: kewajiban salat lima waktu. Sebuah hadiah yang bukan sekadar perintah, melainkan jalan untuk mendekat kepada Allah ﷻ.

Wahai saudara-saudara yang dirahmati Allah, jangan pernah mengabaikan hadiah ini.

Karena salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan sendi-sendi agama. Dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan sendi-sendi agama.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Sumber : @Sepenggal Kisah


Share:

ISRA' DAN MI'RAJ

Sebelumnya, mari kita bahas dulu Isra’–Mi‘raj. Apakah dapat dikatakan suatu perjalanan menembus ruang dan waktu?

Dapat dikatakan demikian, namun bukan dalam pengertian fisika modern secara literal, melainkan dalam kerangka mukjizat ilahi.

Mari kita bedah terlebih dahulu secara hati-hati, ilmiah, dan teologis.

1. Secara bahasa dan peristiwa: iya, itu menembus ruang. Isra’ secara eksplisit adalah perpindahan ruang:

“… dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha …."

(QS. Al-Isra’: 1).

Dalam satu malam, Nabi ﷺ berpindah lintas kota dan wilayah, melampaui jarak geografis yang secara normal mustahil ditempuh. Dalam arti ini, ruang jelas 'ditembus'.

2. Mi‘raj melampaui ruang fisik biasa.

Mi‘raj bukan sekadar naik secara vertikal. Akan tetapi perpindahan dari alam kasatmata (syahadah), menuju alam ghaib (malakut dan jabarut).

Langit-langit yang dilalui bukan atmosfer atau ruang kosmik sebagaimana dipahami sains modern, melainkan tingkatan eksistensi.

Jadi, Mi‘raj adalah transendensi ruang fisik menuju ruang metafisik.

3. Apakah juga menembus waktu?

Di sinilah kehati-hatian diperlukan.

Indikasi kuat dalam riwayat Isra’–Mi‘raj terjadi dalam satu malam, namun Nabi ﷺ menyaksikan para nabi lintas zaman, surga dan neraka, dan peristiwa-peristiwa masa depan. Ini menunjukkan bahwa dimensi waktu linear manusia tidak membatasi peristiwa tersebut. Namun tidak disebutkan sebagai 'time travel' literal.

Islam tidak menyebut Nabi kembali ke masa lalu manusia, atau melompat ke masa depan dunia. Yang terjadi adalah Allah memperlihatkan realitas di luar alur waktu duniawi.

4. Posisi ulama Ahlus Sunnah

Mayoritas ulama menyatakan Isra’–Mi‘raj adalah: perjalanan nyata, dengan jasad dan ruh, dalam keadaan sadar, sebagai mukjizat, bukan mimpi. Namun, mereka tidak mendefinisikannya dengan istilah filsafat atau fisika modern.

Kenapa?

Karena istilah seperti space-time adalah konsep kontemporer, sementara mukjizat tidak tunduk pada hukum alam, tetapi menangguhkannya.

Isra’–Mi‘raj adalah perjalanan mukjizat Nabi Muhammad ﷺ yang melampaui batas ruang dan waktu menurut hukum alam biasa, dengan kehendak Allah.

Kita tidak dapat menyamakannya langsung dengan wormhole, atau menjelaskan sepenuhnya dengan relativitas Einstein, karena itu mereduksi mukjizat menjadi eksperimen fisika.

Isra’–Mi‘raj bukan pelarian dari dunia, tetapi peneguhan untuk kembali ke dunia dengan shalat. Ini bukan soal seberapa jauh Nabi pergi, melainkan bagaimana manusia bisa tetap dekat dengan Allah di tengah waktu yang menekan dan ruang yang membatasi.

Oke, kita mulai!

Tahun yang Membuat Langit Terasa Jauh

Sekira tahun ke-10 kenabian Muhammad ﷺ. Mekah tidak berubah. Gunung-gunung tetap berdiri, pasar tetap ramai, Ka‘bah tetap dikelilingi orang-orang yang sama. Namun, bagi Nabi Muhammad ﷺ, dunia terasa retak dari dalam. Khadijah telah pergi. Perempuan yang menjadi rumah pertama bagi risalah itu, kini berbaring sunyi di bawah tanah Mekah.

Tak lama kemudian, Abu Thalib menyusul —paman yang selama ini menjadi tameng terakhir dari kekerasan Quraisy.

Tahun itu kelak disebut orang sebagai ‘Am al-Ḥuzn. Tahun duka.

Muhammad ﷺ pernah berdiri di Thaif, membawa harapan yang rapuh. Yang beliau terima adalah ejekan, dan batu-batu yang menghujani tubuhnya. Darah mengalir di kaki.

Flasback:

Thaif adalah sebuah kota di Jazirah Arab yang memiliki makna sangat penting dalam sejarah dakwah Nabi Muhammad ﷺ —bukan sekadar nama tempat, tetapi simbol luka, kesabaran, dan harapan.

Thaif, kota pegunungan di sebelah tenggara Mekah, berjarak sekira 80–90 kilometer, beriklim lebih sejuk daripada Mekah. Thaif dikenal sebagai kota kebun dan pertanian, tempat peristirahatan orang Quraisy, dan pusat suku Tsaqif.

Thaif sendiri dikenang karena peristiwa paling menyakitkan dalam dakwah Rasulullah ﷺ.

Sekitar tahun ke-10 kenabian, setelah wafatnya, Khadijah (istri beliau), Abu Thalib (paman dan pelindungnya). Inilah masa yang disebut ‘Am al-Ḥuzn (Tahun Kesedihan).

Apa yang terjadi di Thaif? Nabi Muhammad ﷺ datang ke kota itu bukan untuk untuk mengajak kepada Islam dan mencari perlindungan. Namun, apa yang terjadi? Para pemuka Tsaqif menolak dengan kasar, anak-anak dan budak diperintahkan melempari beliau dengan batu. Riwayat shahih menyebut, bahwa darah mengalir hingga membasahi sandal beliau. Zaid bin Haritsah berusaha melindungi tubuh Nabi ﷺ dan ikut terluka.

Dalam keadaan lemah dan terluka, Nabi ﷺ berdoa, “Ya Allah, kepadaMu aku adukan kelemahanku, kurangnya dayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia."

Jibril datang membawa tawaran. “Jika engkau mau, wahai Muhammad, aku akan menghimpitkan dua gunung ini kepada mereka.”

Nabi menggeleng pelan. “Jangan. Aku berharap kelak dari sulbi mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah.”

Malam itu, beliau kembali ke Makkah. Bukan sebagai pemenang, tetapi sebagai hamba yang berserah.

Di dekat Ka‘bah, dalam sunyi yang tidak disaksikan siapa pun, Muhammad ﷺ menengadah.

Tidak ada permintaan besar. Tidak ada keluhan panjang. Hanya satu kalimat yang jatuh pelan dari hatinya, “Ya Allah, kepadaMu aku adukan kelemahanku.”

Dan pada malam itulah, Allah menjawab.

***

Perjalanan yang Tidak Diminta, Nabi Muhammad ﷺ tidak mempersiapkan diri untuk keajaiban. Beliau tidak diberi tau bahwa malam itu dunia akan terlipat. Tidak ada tanda-tanda di langit. Tidak ada suara gemuruh.

Jibril datang, tenang seperti biasa. Sesosok tunggangan putih telah menunggu. Lebih besar dari keledai, lebih kecil dari bagal. Matanya jernih. Tubuhnya berkilau.

“Ini Buraq,” kata Jibril.

Nabi Muhammad ﷺ naik tanpa tanya. Seorang hamba tidak bertanya ke mana ketika dipanggil oleh Tuhannya.

Malam itu, jarak kehilangan makna. Mekah tertinggal, dan Masjidil Aqsha menyambut.

Di tanah yang diberkahi itu, para nabi telah berkumpul. Adam. Nuh. Ibrahim. Musa, dan Isa. Mereka berdiri, bukan sebagai masa lalu, melainkan sebagai saksi.

Jibril berkata, “Majulah, wahai Muhammad.”

Nabi ﷺ menjadi imam shalat. Mereka berdiri dalam shalat yang telah dikenal para nabi sejak dahulu, bukan shalat yang kelak akan diwajibkan malam itu. Belum ada hitungan rakaat. Belum ada beban kewajiban, yang ada hanya kepatuhan.

Ketika takbir dikumandangkan, seluruh sejarah risalah seakan menunduk.

Usai shalat, Musa mendekat. “Engkau telah membawa umat yang berat, wahai Muhammad.”

Nabi Muhammad ﷺ tersenyum. Beliau belum tau betapa beratnya amanah itu akan diturunkan malam ini.

Kemudian, Nabi Muhammad ﷺ kembali ke punggung Buroq dan melesat ke langit didampingi jibril. 

Di langit pertama, Nabi Adam menyambut di sana, menatap keturunannya dengan mata yang penuh doa.

Di langit kedua, Nabi Isa dan Yahya menyapa dengan kelembutan.

Di Langit ketiga berjumpa Nabi Yusuf dengan keindahan yang membuat iri para malaikat.

Di Langit keempat berjumpa Nabi Idris, yang diangkat karena kesabaran.

Langit kelima berjumpa dengan Nabi Harun, wajahnya penuh kasih.

Langit keenam berjumpa Nabi Musa, yang memandang lama.

Di langit ketujuh Nabi Muhammad ﷺ berjumpa dengan Ibrahim yang bersandar di Baitul Ma'mur. Ka‘bah langit yang setiap harinya dimasuki 70.000 malaikat dan mereka tidak pernah kembali lagi. Hanya satu kali datang selama eksistensi mereka.

Nabi Muhammad ﷺ menjadi imam para nabi di Masjidil Aqsha adalah suatu perjumpaan ruh nabi-nabi terdahulu, lalu dalam Mi‘raj beliau bertemu para nabi kembali di langit-langit sesuai maqam mereka. Ini bukan pengulangan, melainkan perbedaan alam dan tujuan perjumpaan. 

******

Sidratul Muntaha

Langit ketujuh bukanlah akhir. Setelah Nabi Ibrahim menyambutnya dengan wajah yang damai, perjalanan itu belum berhenti. Nabi Muhammad ﷺ masih dibawa naik melewati wilayah yang tak lagi dikenali oleh bahasa manusia. Cahaya semakin rapat, bukan menyilaukan mata, tetapi menekan kesadaran, seakan ruang itu bukan lagi ruang, dan waktu pun kehilangan denyutnya.

Di sanalah Sidratul Muntaha.

Nabi melihat serupa pohon yang tidak tumbuh di tanah, tidak pula di langit seperti yang dikenal manusia. Daunnya berlapis cahaya, buahnya menyerupai bejana, dan di sekitarnya mengalir sesuatu yang tidak dapat dinamai selain sebagai tanda-tanda kebesaran Allah.

Warna-warna menutupinya, bukan satu, bukan dua, melainkan hingga apa pun yang dipandang tidak dapat lagi dibedakan bentuknya.

Jibril, yang sejak awal perjalanan tak pernah beranjak dari sisi Nabi ﷺ, berhenti. Langkahnya tertahan. Sayapnya, yang sebelumnya membentang memenuhi cakrawala, kini terlipat dengan penuh adab. “Di sinilah batasku, aku tidak bisa melangkah lebih jauh," isyaratnya dengan penuh ketundukan.

Buraq pun berhenti. Makhluk yang sejak Mekah membawa Nabi ﷺ menembus malam dengan kecepatan yang tak terbayangkan itu kini diam, tenang, seakan memahami bahwa perjalanan ini telah memasuki wilayah yang tidak boleh dimasuki kecuali hanya oleh satu insan.

Nabi Muhammad ﷺ melangkah sendiri. Tidak ada suara. Tidak ada dialog yang dapat ditangkap telinga. Tidak ada bentuk yang dapat diserupakan. Yang ada hanyalah penetapan, sebuah amanah besar yang diletakkan langsung ke dalam diri beliau.

Di tempat bernama Sidratul Muntaha itulah, kepada Nabi Muhammad ﷺ shalat diwajibkan.

Bukan sebagai gerak tubuh semata, tetapi sebagai ikatan antara bumi dan langit. Lima puluh waktu dalam sehari semalam, Nabi Muhammad ﷺ menerimanya tanpa ragu, tanpa merasa berat karena datang dari sumber segala rahmat.

Kemudian, tanpa jeda yang dapat diukur oleh waktu manusia, perjalanan berbalik arah.

Turun Kembali

Jibril kembali mendampinginya. Buraq kembali bersiap. Langit-langit yang sebelumnya dilewati kini dilalui kembali, tetapi dengan beban yang berbeda, bukan beban fisik, melainkan amanah untuk umat yang belum lahir seluruhnya.

Ketika sampai di langit keenam, Nabi Musa menunggunya.

Nabi Musa tidak segera berbicara. Dia menatap Nabi Muhammad ﷺ dengan pandangan seorang pemimpin yang telah lama bergulat dengan umat yang keras, umat yang mencintai keringanan, dan sering goyah oleh beban perintah.

“Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas umatmu?” tanya Nabi Musa.

“Lima puluh shalat,” jawab Nabi Muhammad ﷺ dengan tenang.

Musa menarik napas panjang. Di wajahnya tidak ada penolakan, hanya kepedulian yang lahir dari pengalaman panjang.

“Umatmu tidak akan sanggup,” katanya pelan, "aku telah menguji Bani Israil. Kembalilah, minta keringanan.”

Nabi Muhammad ﷺ pun kembali naik. Turun, bertemu Nabi Musa kembali. Nabi naik lagi. Berkali-kali Nabi Musa menyarankan agar meminta untuk lebih diringankan lagi. Hingga akhirnya menjadi lima waktu. Ketika Nabi Musa masih menyarankan untuk meminta keringanan lagi, Nahi Muhammad ﷺ menunduk seraya bersabda, “Aku malu kepada Tuhanku.”

Lima waktu. Namun pahalanya tetap lima puluh.

*****

Kembali ke Bumi

Fajar menyingsing.

Nabi Muhammad ﷺ telah kembali ke Mekah. Dunia tampak sama, namun beliau tidak lagi sama. Ketika kisahsemalam  itu disampaikan, orang-orang tertawa.

“Dalam satu malam? Ke Syam dan kembali? Itu dusta!”

Abu Bakar mendengar kabar itu. Dia tidak bertanya panjang.

“Jika Muhammad yang mengatakan, maka itu benar," katanya.

Dan sejak hari itu, dia dipanggil Ash-Shiddiq.

*****

Tahun-tahun berlalu. Luka-luka belum berhenti. Umat Islam masih akan diuji. Namun, setiap kali seorang mukmin berdiri di malam sunyi, mengangkat tangan, dan bersujud, dia sedang menapaki jejak yang sama. 

Isra’–Mi‘raj bukan kisah tentang Nabi yang naik ke langit. Akan tetapi tentang Allah yang mengajarkan umat manusia melalui RasulNya cara menegakkan hidup di bumi. Dengan shalat. Dengan sujud. Dengan kembali kepadaNya membawa amal yang nantinya akan ditanyakan pertama kali itu.

Referensi:

- QS. Al-Isrā’: 1

- HR. Muslim no. 162

- Tafsir Ibnu Katsir & Syarh Shahih Muslim (an-Nawawi)

Note : Sebagian detail visual bersifat simbolik dan tidak disebutkan secara eksplisit dalam riwayat shahih.

Buraq digambarkan dalam riwayat shahih sebagai hewan putih, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari bagal, dengan kecepatan luar biasa. Detail visual lain merupakan simbol artistik.

Wallahu a'lam 🙏 

Semoga bermanfaat.

Sumber : @Pepatah Ulama Syalafi

Share:

Operasi Intelejen Dimasa Rasulullah (Bagian 2)

Koalisi pasukan-pasukan kafir –Quraisy, Ghatafan, Fazarrah, Marrah, Yahudi Bani Quraidhah, dan lainnya – dalam Perang Ahzab berakhir tragis. Gagal total dan hancur berantakan. Mereka tidak saling percaya antara satu dengan yang lain. Semua itu terjadi akibat operasi intelijen yang dilakukan oleh ‘agen’ Rasulullah Saw, Nu’aim bin Mas’ud.  

Allah Swt menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin dengan mengirimkan angin di malam-malam yang sangat dingin, menjungkirbalikkan periuk-periuk mereka dan memporak-porandakan kemah mereka. Dalam kondisi malam yang sangat dingin dan mencekam, untuk kedua kalinya Rasulullah melakukan operasi intelijen. Mencari informasi terkini perkembangan musuh-musuhnya. Dan untuk tugas mulia ini, beliau menunjuk sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman. 

Ibnu Hisyam dalam kitab Sirah Nabawiyah-nya menuliskan bahwa Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah SAW mendengar konflik yang terjadi di pasukan sekutu dan bagaimana Allah memecah belah persatuan mereka, beliau memanggil Hudzaifah bin Al-Yaman kemudian mengutusnya pergi kepada mereka untuk menyelidiki apa yang dikerjakan mereka di malam hari.”

altBeliau bersabda kepadanya, “Wahai Hudzaifah, pergilah, lalu menyusuplah ke tengah-tengah mereka, selanjutnya perhatikan apa yang mereka kerjakan. Dan kamu jangan melakukan sesuatu apapun sampai kamu kembali kepada kami!” 

Hudzaifah berkata, “Aku pergi, lalu menyusup ke tengah-tengah mereka. Angin dan tentara Allah telah menghajar mereka. Kuali, api, dan tenda yang mereka miliki sudah tidak tersisa lagi. Abu Sufyan berdiri lalu berkata: “Wahai orang-orang Quraisy, lihatlah orang yang menjadi teman duduknya?” Hudzaifah berkata, “Lalu aku mengambil tangan orang yang ada di sampingku. Aku bertanya, ‘Siapa kamu?’ Dia berkata, ‘Fulan bin Fulan.”  Kemudian Abu Sufyan berkata:

“Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, sebelum besok pagi kalian harus sudah ada di negeri kalian sendiri, (sebab) kuda dan unta telah lenyap semua, Bani Quraidhah telah mengecewakan kami, telah sampai kepada kami siapa yang memperdayainya, kami telah berhadapan dengan kekuatan angin seperti yang kalian lihat sendiri, kami sudah tidak memiliki kuali, tidak dapat menyalakan api, dan tidak memiliki tenda untuk didiami, pergilah, aku juga akan pergi.” Kemudian dia mendekati untanya yang sedang diikat, lau duduk di atasnya, dia memukul untanya, dan untanya baru mau melangkah setelah dipukul tiga kali. Demi Allah, dia tidak melepaskan ikatan untanya, kecuali dia dalam keadaan berdiri. Kalau saja tidak ada wasiat Rasulullah Saw kepadaku: “Kamu jangan melakukan sesuatu apapun sampai kamu kembali kepadaku.” Aku ingin membunuhnya dengan anak panah.” 

Kemudian Hudzaifah melanjutkan: “Aku kembali kepada Rasulullah, beliau sedang berdiri menjalankan shalat di atas Mirthi (pakaian yang terbuat dari bulu domba/wol, linen, atau yang sejenis keduanya) milik sebagian istrinya. Ketika beliau melihat aku, beliau mempersilakan aku masuk, beliau memakaikan ujung Mirthi kepadaku, kemudian beliau ruku’ dan sujud, sedang aku benar-benar ada di dekatnya. Ketika beliau telah salam, aku sampaikan informasi yang aku peroleh kepadanya. Aku mendengar bahwa orang-orang Ghathafan melakukan seperti yang dilakukan orang-orang Quraisy, mereka juga kembali ke negeri mereka. Ketika pagi tiba, Rasulullah Saw meninggalkan parit (Khandak) kembali ke Madinah, kaum muslimin yang bersamanya juga kembali, dan merekapun meletakkan senjata.” 

Dalam teori intelijen modern, operasi yang dijalankan Hudzaifah ini disebut sebagai Operasi Taktis. Menurut mantan Kepala BAKIN, ZA Maulani (alm), dalam bukunya Dasar-dasar Intelijen, aktivitas yang dijalankan oleh Rasulullah ini termasuk menjalankan empat fungsi utama lembaga intelijen, yaitu –to anticipate (mengatisipasi), to detect(mendeteksi), to identify (mengidentifikasi), and to forewarn (memperingatkan)-– secara mumpuni. Dan begitulah semestinya sebuah lembaga intelijen bekerja. Musuhlah (orang-orang kafir) yang dijadikan objek operasi mereka, bukan umat Islam. 

Share:

Operasi Intelejen Dimasa Rasulullah (Bagian 1)

Operasi intelijen digunakan untuk mengetahui kekuatan musuh dan untuk mengobrak-abrik pertahanan mereka. Bukan untuk ‘menginteli’ umat Islam, rakyatnya sendiri.

Dari sekian banyak peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah, Perang Ahzab atau Perang Khandaq (parit) adalah salah satu peperangan yang berlangsung sangat menegangkan, hingga memecahkan urat syaraf. Bagaimana tidak, 3 ribu pasukan umat Islam dan penduduk Madinah dikepung oleh 10 ribu tentara Ahzab gabungan kaum musyrikin Qurays, Bani Ghathafan, Bani Fazarah, Bani Marrah, dan kabilah lainnya. Ketegangan semakin memuncak, ketika Yahudi Bani Quraidhah yang sebelumnya telah menandatangani perjanjian damai dengan Rasulullah, ingkar  dan bersiap menyerang kaum muslimin dari belakang.

altDi tengah ketegangan dan kegentingan yang menyerang kaum muslimin, Allah Swt menurunkan pertolongan-Nya.  Adalah Nu’aim bin Mas’ud Al Asyja’i, seorang lelaki dari Bani Ghathafan, datang kepada Rasulullah Saw dan menyatakan diri telah masuk Islam. Ia kemudian menawarkan diri kepada Rasulullah untuk melaksanakan segala bentuk perintah yang diinginkan oleh beliau. Nu’aim berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah masuk Islam dan kaumku tidak mengetahui keIslamanku. Oleh karena itu, suruhlah aku apa saja yang engkau inginkan.” Beliau lalu memberinya tugas untuk memecah kekuatan musuh. Kepadanya, Rasulullah Saw bersabda, “Engkau salah seorang dari kami. Oleh karena itu, pecahkan persatuan mereka jika engkau mampu, karena perang adalah tipu daya”. 

Berbekal kemampuan dan kecerdasan (inteligensi) yang dimiliknya, Nu’aim bergegas melaksanakan tugas mulia itu. Pertama, Nu’aim mendatangi orang-orang Bani Quraidhah. Di masa jahiliyah, Nu’aim adalah teman Bani Quraidhah. Dia berkata, ”Sesungguhnya orang-orang  Qurays dan Ghatafan tidak seperti kalian, negeri ini negeri kalian, di dalamnya ada harta benda kalian, anak-anak kalian dan istri-istri kalian, kalian tidak dapat memindahkannya ke tempat lain.

Sesungguhnya, orang-orang Qurays dan Ghathafan datang untuk memerangi Muhammad dan para sahabatnya. Anehnya kalian mendukung mereka, padahal negeri, kekayaan dan wanita-wanita mereka bukan di negeri kalian. Jadi mereka tidak seperti kalian. Jika mereka mendapatkan kesempatan, mereka pasti mengambilnya. Jika mereka tidak mendapatkannya, mereka pulang ke negeri mereka dan meninggalkan kalian berhadapan dengan Muhammad di negeri kalian dan kalian tidak mempunyai kekuatan jika ia menyerang kalian. Oleh karena itu, janganlah kalian memerangi Muhammad bersama kaum tersebut hingga kalian mengambil gadai dari tokoh-tokoh mereka untuk menjadi jaminan di tangan kalian sehingga dengan demikian kalian dapat memerangi Muhammad dengan mereka hingga kalian berhasil mengalahkannya. Lantas orang-orang Bani Quraidhah berkata, “Engkau telah memberikan pertimbangan yang baik”.

Setelah itu, Nu’aim pergi mendatangi pemimpin-pemimpin Quraisy. Kepada mereka, Nu’aim manyampaikan ‘nasihat’ dan meminta agar ia dirahasiakan. Kaum Qurays pun menyetujuinya. Ia lantas memberitahukan bahwa Bani Quraidhah telah menyesal atas apa yang mereka lakukan dan secara sembunyi-sembunyi telah melakukan kesepakatan bersama Rasulullah Saw untuk mengambil beberapa pemimpin Quraisy dan Ghathafan untuk diserahkan kepada Nabi Muhammad Saw agar dibunuhnya. Nu’aim kemudian menasehati kaum Qurays, “Jadi, jika orang-orang Yahudi datang kepada kalian untuk meminta gadai dari tokoh-tokoh kalian, jangan serahkan seorang pun dari kalian kepada mereka”.

Terakhir, Nu’aim pergi mendatangi orang-orang Bani Ghathafan. Kepada mereka ia mengemukakan apa yang dikemukakannya kepada orang-orang Quraisy dan mengingatkan mereka seperti yang ia ingatkan kepada orang-orang Qurays. Ia juga meminta agar dirahasiakan dan Bani Ghathafan menyanggupinya.

Delagasi Qurays dan Ghathafan kemudian datang kepada Yahudi Bani Quraidhah untuk mengajak berperang. Kemudian, orang-orang Yahudi mengirimkan delegasi balasan kepada kaum Qurays dan Ghatafan untuk meminta gadai (jaminan) tokoh-tokoh mereka supaya tokoh-tokoh tersebut tinggal bersama kaum Yahudi hingga mereka berhasil mengalahkan Muhammad. Atas permintaan itu, Qurays dan Ghathafan membalas mengirim delegasi kepada Yahudi Quraidhah dengan membawa pesan mereka tidak akan menyerahkan seorangpun dari tokoh mereka kepada Bani Quraidhah. Ketiga kubu itu saling membenarkan apa yang dikatakan oleh Nu’aim bin Mas’ud. Akhirnya terjadi salah paham diantara mereka dan saling tidak mempercayai sehingga masing-masing dari mereka menuduh terhadap yang lainnya sebagai pengkhianat. Persekutuan di antara orang-orang kafir itu pun gagal total. Allah Swt kemudian menggagalkan rencana mereka dengan mengirimkan angin di malam-malam yang sangat dingin, menjungkirbalikkan periuk-periuk mereka dan memporak-porandakan kemah mereka. Subhanallah.

Demikianlah, operasi intelijen yang ditugaskan Rasulullah Saw kepada ‘agen’ Daulah Madinah, Nu’aim bin Mas’ud, mendapatkan keberhasilan. Misi selesai secara sempurna. Inilah contoh operasi intelijen yang benar, yang diarahkan untuk mengorek informasi dari musuh (luar negeri) dan menghancurkan kekuatan mereka. Hal ini bertolak belakang dengan operasi intelijen di negeri ini sekarang, agen-agen intelijen justru dipasang dan ditugaskan untuk ‘menginteli’ umat Islam yang nota benenya adalah rakyat sendiri. Sementara pada saat yang sama, penjajah asing dibiarkan bebas menjarah kekayaan alam dan menginjak-injak kedaulatan negeri ini. 

Share:

Penghancuran Patung Kaum Tsaqif

Penghancuran patung milik kaum Tsaqif menunjukkan bahwa tak ada tawar-menawar dalam urusan akidah.

Rombongan delegasi kaum Tsaqif (penduduk Thaif) datang menemui Rasulullah Saw pada bulan Ramadhan tahun kesembilan Hijriyah. Delegasi dipimpin oleh Kinanah bin Abdu Yalil. Saat itu Rasulullah Saw, para sahabat serta tentara kaum muslimin baru saja sampai sampai di Madinah setelah menyelesaikan Perang Tabuk. Mereka mendatangi Rasulullah karena sudah tak sanggup lagi menghadapi orang-orang Arab di sekitar mereka. Karena semuanya telah berbaiat kepada Rasulullah dan masuk Islam.

Di Madinah, delegasi ini tinggal beberapa hari. Rasulullah menempatkan mereka di sebuah kemah di Masjid, agar mereka dapat mendengarkan kaum muslimin membaca Al Quran dan mendirikan shalat. Berkali-kali mereka mendatangi Rasulullah dan juga sebaliknya, Rasulullah mendatangi mereka untuk menyampaikan ajaran Islam. Dalam Tabaqat Ibnu Saad diceritakan bahwa Rasulullah mendatangi mereka setiap malam seusai Isya’. Beliau berdiri di hadapan mereka, menjelaska tentang ajaran Islam, hingga kedua kaki beliau letih.

Akhirnya, Islam merasuk ke dalam hati mereka. Sebelum menyatakan diri masuk Islam, Kinanah bin Abdu Yalil bertanya kepada Rasulullah Saw, “Bagaimana tentang zina? Sesungguhnya, kami adalah kaum yang suka bepergian sehingga kami tidak bisa lepas darinya?” Nabi saw menjawab, “Zina adalah haram. Allah telah berfirman, ’Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya ia adalah perbuatan yang keji dan jalan yang nista.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana tentang riba? Sesungguhnya seluruh harta kami berasal dari riba?”. Nabi Saw menjawab, “Kalian hanya boleh mengambil pokok harta kalian. Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana tentang khamr? Sesungguhnya, ia adalah perasan dari buah-buahan hasil pertanian kami yang tidak dapat kami elakkan?” Nabi Saw menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkannya.” Nabi Saw lalu membaca ayat yang mengharamkan khamr.

Ibnu Ishaq berkata, “Mereka juga meminta agar dibebaskan dari kewajiban shalat lalu dijawab oleh Nabi Saw, “Tanpa shalat, agama tidak memiliki kebaikan apapun juga.”

Setelah bermusyawarah, mereka kembali menemui Rasulullah Saw seraya menyatakan kesiapan mereka untuk menerima semua hal tersebut. Akan tetapi, mereka meminta agar berhala (Latta) yang pernah mereka sembah dibiarkan selama tiga tahun, baru kemudian boleh dihancurkan. Rasulullah Saw menolak permintaan ini. Mereka kemudian meminta tenggat waktu selama satu tahun atau kalau tidak selama satu bulan , tetapi Rasulullah Saw tetap menolak untuk memberikan tenggat waktu bagi penghancuran berhala tersebut. Ibnu Ishaq berkata, “Mereka meminta hal tersebut supaya terhindar dari gangguan orang-orang bodoh, kaum wanita, dan anak cucu mereka, disamping khawatir penghancuran tersebut akan menghambat masuknya Islam ke dalam hati mereka.”

Mereka kemudian berkata kepada Rasulullah Saw, “Kalau begitu, kamulah yang menghancurkannya. Kami tidak akan menghancurkannya selama-lamanya.” Rasulullah Saw menjawab, “Aku akan mengutus orang yang akan menghancurkannya.”  Akhirnya, mereka berpamitan kepada Rasulullah Saw. Mereka diijinkan pergi oleh Nabi Saw dengan diiringi penghormatan dan doa pelepasan. Utsman bin Abil Ash ditunjuk oleh Nabi Saw sebagai amir mereka mengingat kesunguhannya dalam ber-Islam. Sebelum pergi, ia telah mempelajari beberapa surat dalam Al Qur’an.

Setelah keberangkatan mereka, Rasulullah Saw memberangkatkan rombongan dibawah pimpinan Khalid bin Walid. Diantara rombongan terdapat Mughirah bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb guna menghancurkan berhala yang bernama Latta. Ketika berhala itu dihancurkan, para wanita Tsaqif keluar seraya menangis menyesali dan meratapi berhala itu. Ketika Mughirah memukul berhala itu dengan kapaknya, Abu Sufyan meledek, “Aduh, kasihan kamu,” seraya menirukan ratapan wanita-wanita Tsaqif terhadap berhala itu.

Ibnu Sa’ad berkata di dalam Thabaqat-nya meriwayatkan dari Mughirah, “Tsaqif kemudian masuk Islam. Aku tidak mengetahui kabilah Arab yang lebih kuat keIslamannya daripada i Tsaqif.”

Ibrah dari peristiwa ini menurut Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy dalam kitabnya, Fiqhus Sirah, adalah bahwa kewajiban penghancuran patung berlaku secara mutlak dan dalam segala keadaan, baik patung atau berhala itu disembah ataupun tidak, mengingat keumuman dalil yang menunjukkannya. Dalil lain yang menguatkannya ialah perintah Rasulullah Saw untuk menghancurkan patung-patung yang telah dikeluarkan dari Ka’bah, padahal patung-patung itu tidak disembah sebagaimana berhala-berhala yang lain. Ini juga menunjukkan haramnya membuat patung dalam berbagai bentuknya. Juga haram memilikinya dengan alasan apapun juga.Wallahu a’lam.

Share: