Tampilkan postingan dengan label Kisah Para Sahabat & Salafus Sholeh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Para Sahabat & Salafus Sholeh. Tampilkan semua postingan

Kisah Ulama Penakluk Singa tapi "Susis" (Suami Takut Istri)

Di abad ke-4 Hijriah, ada seorang ulama besar namanya Syekh Abul Hasan Alkaraqi yang tinggal di desa Kharakan, Persia. Beliau ini bukan kaleng-kaleng, soalnya tokoh gede kayak Ibnu Sina sama Jalaluddin Rumi aja ngefans banget sama kedalaman ilmu rohaninya. Orangnya bener-bener jentel, zuhud, dan hatinya lembut parah.

Tapi nih, meskipun beliau dihormati banget, ternyata ujian hidupnya datang dari orang terdekat, yaitu istrinya sendiri. Istrinya ini tipe yang mulutnya pedas banget alias omongannya kasar tiap hari. Syekh sering dicaci maki gara-gara masalah sepele, bahkan direndahin di depan umum.

Bayangin aja, ribuan murid rela datang jauh-jauh cuma buat salim sama Syekh, tapi istrinya malah bilang kalau suaminya itu orang bodoh yang nggak guna.

Suatu hari, ada calon murid yang bela-belain datang dari negeri jauh buat nemuin Syekh. Eh, pas nyampe depan rumah, dia malah disambut teriakan kasar dari istrinya. Istrinya bilang, "Ngapain nyari orang bodoh itu? Dia cuma penipu, mending pulang aja!". Si murid langsung shock dan sedih banget dengernya.

Si murid akhirnya nyari Syekh ke hutan. Pas ketemu, dia makin melongo. Syekh lagi bawa kayu bakar, tapi di sampingnya ada seekor singa yang nemenin beliau. Singa itu nurut banget gara-gara karomah kesabaran beliau.

Si murid langsung nanya dengan bingung, "Guru, kok bisa Anda yang ditakuti singa tapi mau-mauanya dihina sama istri sendiri? Kenapa nggak dicerai aja biar hidup tenang?".

Mendengar itu, Syekh nggak marah sama sekali. Matanya berkaca-kaca karena rasa kasih sayang yang tulus. Beliau jawab begini: "Gini lho, aku milih bertahan karena aku takut kalau dia nikah sama orang lain yang nggak sesabar aku, orang itu mungkin bakal main tangan atau zalim karena nggak tahan sama omongannya.".

Beliau bilang kalau beliau milih jadi perisai buat istrinya. Syekh udah melatih hatinya biar nggak baperan sama omongan manusia. Harapannya simpel, kalau beliau bisa sabar sama luka yang dikasih istrinya, semoga Allah juga bakal sabar sama dosa-dosa beliau di hari kiamat nanti.

Sumber : @Kisah Sufisik
Share:

Abu Mihjan Al-Tsaqafi : Sang Pemabuk Pengejar Syahid

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab (636M) terjadilah peperangan melawan bangsa Persia. Khalifah Umar bin Khattab menunjuk sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai komandan utama dengan didukung 4000 pasukan. Berita tentang panggilan jihad itu pun terdengar oleh Abu Mihjan, namun karena dia seorang pemabuk, Khalifah Umar bin Khattab menyuruh agar Abu Mihjan diasingkan ke suatu tempat sebagai hukuman tambahan baginya.

Di tengah perjalanan ke tempat pengasingan nya, Abu Mihjan berhasil kabur dan menyusul pasukan muslim yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash ke Medan tempur Qadisiyah. Sesampainya di Qadisiyah, Abu Mihjan pun langsung menemui Sa’ad bin Abi Waqqash dan meminta izin untuk ikut berperang dan dia pun diizinkan.

Pada saat itu Sa’ad bin Waqqash sendiri tidak bisa turut serta didalam medan pertempuran langsung dikarenakan sedang menderita penyakit bisul di sekujur tubuhnya dan hanya bisa mengomandoi dari sebuah tenda di dataran yang agak tinggi sehingga dapat memberikan arahan terhadap pergerakan pasukan kaum muslimin.

Peperangan akhirnya pecah saat komandan utama yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash mengumandangkan takbir. Pertempuran sengit pun berlangsung, 4000 pasukan muslim melawan 130.000 pasukan Persia tentu bukan hal yang mudah, terbukti kaum muslimin sangat kewalahan.

Ditambah lagi pasukan Persia memakai strategi menggunakan gajah untuk menakut-nakuti kuda perang yang ditunggangi kaum muslimin, sehingga tidak berani untuk maju.

Setelah berlarut dalam pertempuran yang sangat sengit, akhirnya kedua belah pihak menarik mundur pasukannya untuk beristirahat dan mengatur ulang strategi. Di saat inilah godaan khamr menghampiri diri Abu Mihjan, karena tak kuasa menahan keinginan yang sudah berubah menjadi kebutuhannya tersebut, maka iapun meminumnya.

Mengetahui hal itu, Sa’ad bin Abi Waqqash menyuruh agar Abu Mihjan di kurung dan tidak diperkenankan ikut berperang. Di dalam kurungannya itu pun ia menyesali perbuatannya, sehingga ia pun bersyair untuk menutupi kesedihannya itu. Dalam syairnya itu ia berkata;

"Sedih menyelimuti hatiku,

karena aku terbelenggu di balik jeruji besi,

Bila engkau melepaskan besi yang membelenggu diriku ini,

Niscaya akan aku raih syahid dalam perang,

Diriku kaya akan harta dan kawan,

Namun kini mereka meninggalkan ku sebatang kara,

Tubuhku kering karena sengatan matahari,

Kuperbaiki timbangan yang rusak,

Hanya ampunan Allah yang kuharapkan. "

Syairnya itupun didengar oleh istri Sa’ad bin Waqqash. Abu Mihjan pun merayu dan memohon agar istri Sa’ad bin Waqqash itu mau melepaskan dirinya agar bisa ikut berperang bersama pasukan muslim dan dia berjanji jika tidak mendapatkan mati syahid di medan perang, maka ia akan kembali lagi ke dalam kurungannya tersebut.

Mendengar perkataan Abu Mihjan yang dipenuhi kesedihannya itupun, akhirnya istri Sa’ad bin Abi Waqqash melepaskannya dan memberikan kuda perang berwarna hitam milik suaminya yang bernama Balqa ‘.

Sementara itu di medan pertempuran, kaum muslimin tetap kesulitan menembus baris pertahanan musuh yang begitu rapat dan kokoh, meskipun bala bantuan telah berdatangan diantaranya pasukan dari Iraq yang dipimpin oleh Al-mutsanna dan pasukan dari yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid telah datang membantu, namun tetap saja formasi barisan musuh tidak bisa di pecah.

Di tengah kegentingan itulah tiba-tiba muncul seseorang yang menunggangi kuda berwarna hitam dan wajahnya ditutupi oleh kain berwarna hitam pula, sehingga hanya menyisakan kedua bola matanya saja. Orang itupun maju bagaikan singa yang kelaparan, menembus barisan pertahanan musuh dan mengobrak-abrik nya.

Terlihat jelas bahwa tidak ada rasa takut sedikitpun dari orang itu. Seluruh mata kaum muslimin yang ada di medan peperangan itupun memandangnya dengan penuh kagum dan bertanya-tanya siapakah orang tersebut. Dia adalah Abu Mihjan Al-Tsaqafi, ksatria pemabuk pengejar syahid.

Sa’ad bin Waqqash yang melihat hal itu pun sangat senang karena bantuan datang walaupun hanya dari satu orang saja, namun kekuatannya sebanding dengan seribu orang. Sa’ad bin Waqqash pun bergumam, “Jika Abu Mihjan tidak ada di dalam jeruji kurungannya, maka aku sangat yakin bahwa orang itu adalah dia, dan apabila Balqa’ tidak ada di kandangnya, maka aku sangat yakin bahwa kuda yang ditungganginya itu adalah Balqa’. “

Melihat barisan musuh yang mulai kocar-kacir, maka spontan pasukan inti muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid kembali semangat dan menggempur habis-habisan pasukan Persia. Hingga akhirnya pimpinan pasukan Persia bernama Rustum berhasil dibunuh oleh seorang prajurit muslim yang bernama Hilal bin Ullafah.

Kemenangan pun Allah takdirkan ke pihak muslimin. Seusai peperangan tersebut, maka Abu Mihjan kembali ke dalam kurungan dan menepati janjinya, dan bertobat dari kebiasaan mabuknya. 

Itulah kisah heroik Abu Mihjan Al-Tsaqafi, “sang pemabuk” pengejar syahid yang menjadi pahlawan bagi kemenangan kaum muslimin dalam Pertempuran. 

Sumber : @Shabat Kisah

Share:

Hindun binti ‘Utbah : Wanita Pendendam dan Pembenci Rasulullah yg Mendapat Hidayah

Hindun binti ‘Utbah adalah istri Abu Sufyan, tokoh besar Quraisy Makkah. Ayahnya, ‘Utbah bin Rabi‘ah, dan keluarganya tewas dalam Perang Badar, dikalahkan oleh kaum Muslimin. 

Sejak saat itu, Hindun menyimpan dendam yang sangat dalam kepada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Puncak Kekejaman: Perang Uhud
Pada Perang Uhud, Hindun menjadi sosok yang sangat terkenal karena tindakan paling mengerikan dalam sejarah peperangan Arab saat itu.

Ia mengupah seorang budak bernama Wahsyi untuk membunuh Hamzah bin ‘Abdul Muththalib رضي الله عنه, paman Rasulullah ﷺ yang dijuluki Singa Allah.
👉 Wahsyi berhasil membunuh Hamzah dengan tombak.

Namun yang membuat Hindun dikenang sebagai wanita paling kejam adalah apa yang ia lakukan setelahnya:
Ia mutilasi jasad Hamzah
Hidung dan telinganya dipotong
Perut Hamzah dibelah
Hatinya diambil, dikunyah, lalu dimuntahkan.

Ia lalu memakai potongan tubuh Hamzah sebagai perhiasan
Perbuatan ini sangat mengejutkan bangsa Arab, karena bahkan dalam tradisi jahiliyah sekalipun, mutilasi jenazah adalah tindakan yang sangat hina.

Kebencian yang Membutakan Hati
Hindun bukan sekadar membenci, ia:
Menyanyikan syair kebencian
Menghasut kaum Quraisy
Menari di medan perang merayakan kematian Hamzah
Menjadikan kekejaman sebagai pelampiasan dendam.

Inilah sebabnya para sejarawan Muslim menyebutnya:
“Wanita paling kejam dalam sejarah Islam — sebelum hidayah datang kepadanya.”

Perubahan Tak Terduga: Masuk Islam
Namun kisah Hindun tidak berakhir di titik kelam itu.

Saat Fathu Makkah (Penaklukan Makkah), Rasulullah ﷺ memiliki kekuasaan penuh untuk membalas dendam. Banyak orang takut akan pembalasan, termasuk Hindun.

Tetapi Rasulullah ﷺ justru berkata:
“Pergilah, kalian semua bebas.”
Hindun datang menyamar, lalu bersyahadat di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika identitasnya terbongkar, para sahabat terdiam… menunggu keputusan Nabi.
Namun Rasulullah ﷺ menerima Islamnya dan tidak membalas dendam sedikit pun.

Hindun menangis dan berkata:
“Dulu tidak ada keluarga yang lebih aku benci daripada keluargamu, wahai Muhammad. Kini tidak ada keluarga yang lebih aku cintai selain keluargamu.”

Pelajaran Besar dari Kisah Ini
Kebencian dapat menjadikan manusia lebih kejam dari binatang
Islam menghapus dosa masa lalu
Hidayah bisa datang kepada siapa saja
Akhlak Rasulullah ﷺ lebih kuat daripada pedang. Wallahu a'lam 🙏

Sumber : @Pepatah Ulama Syalafi

Share:

Kisah Sayyidina Husain : Air Mata Rasulullah Saat Mendengar Kabar dari Jibril A.S

Air mata Rasulullah SAW tak terbendung kala malaikat Jibril alaihisalam datang membawa kabar duka tentang cucunya, Husain bin Ali Abi Thalib.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan:

Diceritakan dari Ummi Salamah –radhiyallaahu ‘anhaa- beliau berkata: Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam didalam rumahku, tiba-tiba masuklah Husain radhiyallaahu ‘anhu kepada beliau. Maka aku memandang keduanya dari pintu.

Saat itu Husain radhiyallaahu ‘anhu bermain-main diatas dada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, sementara ditangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ada sebongkah tanah, dan air mata beliau mengalir.

Dan ketika Husain radhiyallaahu ‘anhu sudah keluar, maka aku pun masuk kepada beliau, maka aku berkata: “Dengan bapakku dan dengan ibuku jadi tebusannya, aku melihat engkau, ditangan engkau ada tanah sambil engkau menangis, maka beliaupun bersabda kepadaku: “Ketika aku bersuka-cita dengannya sementara dia diatas dadaku sambil bermain-main, maka datanglah Jibril ‘alaihissalaam kepadaku. Dia memberiku tanah yang mana dia akan dibunuh diatasnya, maka karena itulah aku menangis.

Dalam kitab Nuuruzhzhalaam karya Syeikh Nawawi al Bantani halaman 35

Diceritakan, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberinya (Ummu Salamah) sebuah botol yang di dalamnya ada tanah tempat dibunuhnya Husain. Botol tersebut ditinggalkan di sisinya.

Hal itu adalah ketika Jibril mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan dia mengkhabarkan beliau bahwasanya Husain akan dibunuh diatas tanah ini, dan dia (Jibril) memperlihatkan kepada beliau dari tanahnya bumi dimana Husain akan dibunuh diatasnya, dan beliaupun mencium tanah tersebut seraya berkata: “Celaka Karbala !”

Dan beliau berkata kepada Ummu Salamah: “Jika tanah ini sudah menjadi darah, maka cucuku, Husain dibunuh.”

Dan suatu ketika (dilihatnya tanah menjadi darah) maka terperanjatlah Ummu Salamah. Dia berkata kepada budak perempuannya: “Pergilah engkau kepasar. Lihatlah ada berita apa (disana).”. (diapun pergi kepasar) dan kembali lagi kepada Ummu Salamah. Dia berkata dengan gemetar: Husain bin Ali radhiyallaahu ‘anhu dibunuh.”

beberapa puluhan tahun kemudian ucapan Nabi SAW menjadi kenyataan. Tepat pada hari Asyura’ (10 Muharram), Husain bin Ali radliyallahu anhu cucu Rasulullah gugur syahid di tangan orang-orang yang dzalim.

Peristiwa memilukan ini terjadi pada hari Jum’at 10 Muharram tahun 61 Hijriyyah. Kejadian ini sangat memilukan, menyedihkan dan merupakan musibah yang sangat besar bagi kaum muslimin.

Husain adalah putra Ali dan Fatimah radliallahu anhuma cucu Rasulullah yang sangat mirip dengan Nabi SAW baik fisik maupun akhlaknya. Husain bin Ali adalah seorang pemimpin yang shaleh, bertakwa, wara’ dan zahid. Mengenai keutamaan beliau dan saudaranya (al-Hasan bin Ali) Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

Maknanya: “al-Hasan dan al-Husain adalah sayyid (pemimpin) para pemuda di surga”. (HR. Tirmidzi).

Sumber : @Sahabat Kisah

Share:

Benci Dosanya, Rangkul Pelakunya” – Hikmah Lembut dari Abu Darda’ RA yang Menyentuh Hati

Uwaimir bin Amir bin Malik bin Zaid bin Qaish Al-Anshari, yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Darda’ RA, adalah salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang dikenal karena kebijaksanaan, kecerdikan, dan kelembutan nasihatnya. Ucapannya menyejukkan hati, dan petuahnya menjadi obat bagi jiwa-jiwa yang sedang terluka oleh kesalahan dan dosa.

Abu Nu’aim Al-Ashfahani menggambarkan sosok mulia ini dengan penuh kekaguman: “Abu Darda’ adalah seorang sahabat Rasulullah yang bijak dan cerdik. Nasihatnya berlimpah, hikmah dan ilmunya menjadi obat bagi orang-orang yang terjangkiti berbagai penyakit. Apabila ia berbicara, ia berani, menolak kebanggaan dunia, dan mengumpulkan tingkatan-tingkatan akhirat.”


Kebijaksanaan Abu Darda’ tidak hanya tampak dalam kata-kata indah, tetapi juga dalam sikapnya saat menghadapi kesalahan orang lain.

Kisah yang Mengajarkan Kelapangan Hati

Dikisahkan dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani, suatu hari Abu Darda’ melewati sekelompok orang yang sedang mencaci seorang lelaki karena telah melakukan suatu dosa. Caci maki dan hinaan terlontar tanpa henti.

Melihat hal itu, Abu Darda’ tidak ikut menyalahkan. Ia justru mendekat dan bertanya dengan lembut, “Menurut kalian, seandainya kalian melihat seseorang terjatuh ke dalam sumur, tidakkah kalian akan mengeluarkannya?”

Mereka menjawab, “Tentu saja, iya.”

Abu Darda’ pun berkata,

“Kalau begitu, janganlah kalian mencaci saudaramu. Pujilah Allah yang telah menjaga kalian dari terjatuh ke dalam maksiat yang sama.”

Orang-orang itu terdiam. Lalu mereka bertanya, “Apakah engkau tidak membencinya?”

Abu Darda’ menjawab dengan penuh hikmah,

“Aku hanya membenci perbuatannya. Jika ia meninggalkan perbuatan itu, maka ia adalah saudaraku.”

Kemudian ia menambahkan nasihat yang begitu dalam, “Berdoalah kepada Allah di masa senangmu, semoga Allah memperkenankan doamu di masa susahmu.”

Pelajaran Berharga dari Seorang Sahabat Mulia

Dari kisah ini, kita diajarkan satu prinsip besar dalam kehidupan beriman: Islam tidak mengajarkan kita membenci manusia, tetapi membenci dosa dan maksiat. Kita semua bukanlah manusia yang ma’shum, bukan pula terbebas dari kesalahan seperti para nabi. Bisa jadi, hari ini kita melihat orang lain terjatuh dalam dosa, namun esok hari kitalah yang diuji dengan kesalahan yang sama atau bahkan lebih berat.

Karena itu, sikap terbaik bukanlah mencaci atau merendahkan, melainkan bersyukur kepada Allah karena telah menjaga kita, serta mendoakan saudara kita agar diberi jalan kembali menuju kebaikan.

Penutup

Nasihat Abu Darda’ RA mengajarkan bahwa kelembutan hati adalah bagian dari keimanan. Membenci maksiat adalah kewajiban, tetapi merangkul pelakunya dengan doa dan harapan adalah wujud kasih sayang seorang mukmin.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga lisan, melapangkan hati, dan selalu memuji Allah atas perlindungan-Nya dari dosa.

Wallahu Ta’ala a’lam.

Share:

Abdurrahman Bin Auf : Pedagang Jujur Yang Lulus Ujian Kekayaan

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang termasuk As-Sabiqunal Awwalun, orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Ia masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, jauh sebelum hijrah ke Madinah.

Di Makkah, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai pedagang yang kaya, Namun ketika tekanan dan siksaan terhadap kaum Muslimin semakin berat, ia memilih meninggalkan seluruh hartanya demi mempertahankan iman dan berhijrah bersama Rasulullah ﷺ.

Persaudaraan di Madinah

Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’ RA, seorang sahabat Anshar yang kaya dan dermawan. Sa’ad bin Rabi’ berkata: “Aku adalah orang Anshar yang paling kaya. Aku akan membagi dua hartaku untukmu.” Namun Abdurrahman bin Auf menjawab dengan penuh kehormatan dan tulus : “Barakallahu laka fi ahlika wa malika, tunjukkan aku di mana pasar.” Ia tidak meminta harta, tidak bergantung pada manusia, tetapi bertawakal penuh kepada Allah. Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 2048.

Keberkahan dalam Bisnis

Abdurrahman bin Auf mulai berdagang di pasar Bani Qainuqa’. Ia berdagang dengan kejujuran, amanah, dan tanpa riba. Tidak lama kemudian, Allah memberkahi usahanya.

Suatu hari Rasulullah ﷺ melihat bekas warna kuning (wewangian) pada tubuh Abdurrahman bin Auf, lalu beliau bertanya. Abdurrahman menjawab bahwa ia telah menikah dan memberikan mahar berupa emas seberat biji kurma. Rasulullah ﷺ bersabda : “Adakanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing.” Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 2049, HR. Muslim no. 1427.

Kaya Raya, Tapi Sangat Dermawan

Meski menjadi salah satu sahabat terkaya, Abdurrahman bin Auf tak pernah menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Ia pernah : Menyedekahkan 700 ekor unta beserta muatannya, membebaskan banyak budak, menyumbangkan harta besar untuk jihad dan kaum fakir. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : “Abdurrahman bin Auf akan masuk surga dengan merangkak. ”Perkataan ini bukan celaan, tetapi peringatan bahwa banyaknya harta akan panjang hisabnya, hingga Abdurrahman bin Auf sering menangis karena takut kepada Allah. Riwayat : HR. Ahmad (hadits hasan menurut sebagian ulama).

Takut Dunia, Rindu Akhirat ketika disajikan makanan mewah, Abdurrahman bin Auf pernah menangis dan berkata : “Mush’ab bin ‘Umair lebih baik dariku, ia gugur dan bahkan kafannya tidak cukup menutupi tubuhnya.”Ia khawatir jika kenikmatan dunia disegerakan baginya, sementara sahabat-sahabatnya telah wafat dalam kesederhanaan. Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 4042.

Kedudukan Yang Sangat Mulia

Abdurrahman bin Auf termasuk:

1. 10 sahabat yang dijamin masuk surga

2. Sahabat yang hartanya menjadi penopang dakwah Islam

3. Teladan bahwa kaya tidak identik dengan cinta dunia

Riwayat 10 sahabat dijamin surga : HR. At-Tirmidzi no. 3747 (hasan shahih).

Pelajaran Besar dari Abdurrahman bin Auf

1. Kekayaan bukan penghalang taqwa

2. Bisnis bisa menjadi jalan ibadah

3. Harta di tangan, bukan di hati

4. Ikhlas dan jujur membuka pintu keberkahan

Abdurrahman bin Auf mengajarkan kita : Bekerjalah sekuat tenaga, bertawakallah sepenuh hati, dan jadikan harta sebagai jalan menuju Allah, bukan tujuan hidup. Semoga Allah menjadikan kita seperti Abdurrahman bin Auf, diberi rezeki yang luas, namun hati tetap tunduk dan ringan bersedekah.

Sumber : @Majelis Tausiyah Cinta

Share:

Zuljanah : Kuda Imam Husain Yang Setia Hingga Akhir

Semua sumber sejarah awal baik yang ditulis oleh sejarawan Muslim Sunni maupun riwayat yang berkembang di kalangan Syiah sepakat bahwa Imam Husain bin Ali memiliki seekor kuda yang menemaninya pada hari Asyura di Karbala (61 H).

Beberapa riwayat sejarah paling tua, seperti Tarikh al-Tabari dan Ansab al-Asyraf, menyebut bahwa kuda itu bernama Al-Murtajiz. Sementara itu, dalam tradisi Ahlul Bait dan karya sastra setelahnya, kuda ini dikenal luas dengan nama Zuljanah.

Kedua nama tersebut tidak bertentangan karena menggambarkan kuda yang sama dari dua tradisi penamaan yang berbeda.

𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵?

Zuljanah adalah kuda perang Arab yang kuat, tangguh, dan setia. Menjadi tunggangan Husain pada perjalanan dari Makkah hingga Karbala. Mengantar Husain pada hari-hari terakhirnya. Menjadi saksi bisu tragedi paling memilukan dalam sejarah umat.

Nama “Zuljanah” hidup kuat dalam budaya dan ingatan umat Muslim sebagai simbol kesetiaan yang tidak tergoyahkan.

𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶𝘄𝗮 𝗞𝗮𝗿𝗯𝗮𝗹𝗮 — 𝗣𝗲𝗻𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗨𝘁𝗮𝗺𝗮

Bagian ini merupakan inti dari kisah Zuljanah. Riwayat-riwayat sejarah lintas mazhab menegaskan sejumlah momen penting yang melibatkan kuda Husain pada hari Asyura.

𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗛𝘂𝘀𝗮𝗶𝗻 𝗸𝗲 𝗠𝗲𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿

Ketika Husain bersiap menuju medan pertempuran, ia menaiki kudanya. Sumber sejarah sepakat bahwa kuda itu tetap tenang, seolah memahami bahwa tuannya sedang menghadapi situasi yang sangat berat.

Husain mengusap leher kudanya, menenangkan hewan itu lalu berangkat dengan penuh keteguhan. Kedekatan ini menjadi simbol hubungan antara manusia mulia dan hewan yang setia.

𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗞𝗼𝗸𝗼𝗵 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴

Riwayat dari Tabari dan Abu Mikhnaf menggambarkan bagaimana Husain dikepung dari berbagai sisi. Pada saat itu, kuda Husain memainkan peran penting: Tetap berdiri meskipun rentetan serangan dating, bergerak memutar untuk melindungi sisi-sisi tubuh Husain, menolak bergerak mundur walau situasi semakin genting. Kuda Arab dikenal sangat loyal pada penunggangnya, dan riwayat-riwayat itu menggambarkan kesetiaan itu dengan jelas.

𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗛𝘂𝘀𝗮𝗶𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝘁𝘂𝗵

Pada fase paling kritis, tubuh Husain yang penuh luka jatuh dari punggung kudanya. Sumber-sumber sejarah tidak menggambarkan dramatisasi berlebihan, tetapi menyampaikan satu fakta yang sangat menyentuh: Kuda itu tidak langsung pergi, Ia tetap berdiri di sisi tuannya. Bahkan tampak enggan meninggalkan Husain meski pasukan memukulnya agar menjauh. Inilah momen paling menggetarkan, seekor hewan yang tidak bisa bicara, tetapi tindakan dan gerakannya menunjukkan kesetiaan absolut.

𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗲 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗵 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗟𝘂𝗸𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗿𝗮𝗵

Hampir semua riwayat menyebutkan satu adegan yang konsisten: Kuda Husain kembali ke kemah keluarga tanpa penunggang, tubuhnya terluka, pelananya berlumuran darah, Ia meringkik keras, memicu kepanikan di dalam tenda. Inilah bagian yang paling banyak dicatat sejarawan, karena menjadi pertanda bagi keluarga bahwa tragedi besar telah terjadi. Peristiwa ini bersifat lintas-mazhab, dicatat oleh: Abu Mikhnaf, Al-Baladzuri, Narasi sejarah umum Ahlul Bait, Sastrawan abad-abad setelahnya. Momen ini menjadikan Zuljanah simbol kesetiaan, duka, dan kejujuran hati seekor hewan.

𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗞𝗲𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗮𝗻

Terlepas dari perbedaan penamaan, Zuljanah diakui sebagai: pendamping perjuangan, saksi mata jatuhnya Husain, dan makhluk yang setia hingga detik terakhir.

Dalam budaya Islam, nama Zuljanah hidup terus dalam: prosesi Muharram, syair-syair Karbala, tradisi Persia, Urdu, Arab, serta seni visual kontemporer.

Kesetiaan kuda ini menjadi bagian dari warisan emosional umat Muslim selama lebih dari 1.300 tahun. Zuljanah menjadi lambang kesetiaan yang melampaui kata-kata, dan bagian tak terpisahkan dari kisah pengorbanan Husain di Karbala.

Sumber : @Musliminsight

Share:

Kisah Syahidnya Sayidina Hasan Cucu Rasulullah

Hasan bin Ali meninggal dunia dalam situasi perseteruan kaum Muslimin dengan sesamanya karena badai politik yang berkepanjangan. Pada 10 Muharam 61 Hijriyah atau 10 Oktober 680 Masehi, Husein, anak kedua Ali bin Abi Thalib wafat di Karbala dalam sebuah pembantaian yang dilakukan rezim Yazid bin Muawiyah.

Beberapa tahun sebelumnya, yakni pada 28 Safar 50 Hijriyah, atau 1 April 670 Masehi, tepat hari ini 1351 tahun silam, Hasan, kakak Husein, meninggal dunia di Madinah karena diracun. Pungkas hayat kakak beradik cucu kesayangan Rasulullah ini tak lepas dari pusaran pertikaian dalam dunia Islam setelah Rasulullah dan tiga khalifah meninggal dunia. Berbeda dengan Husein yang terus menuju Kufah meski marabahaya mengintainya, sang kakak justru memilih menghindari peperangan dengan kubu Muawiyah demi persatuan umat Islam.

Para sejarawan menilai sikap Hasan yang lebih lunak daripada Husein adalah dari sabda Rasulullah yang berdoa kepada Allah agar cucunya tersebut menjadi orang yang mendamaikan dua golongan kaum Muslimin.

Hasan dibaiat menjadi khalifah setelah ayahnya, Ali bin Abi Thalib, meninggal dunia karena dibunuh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Khawarij itu menebaskan pedangnya saat khalifah keempat tersebut tengah menunaikan salat Subuh.

Diangkatnya Hasan sebagai khalifah tentu membuat Muawiyah tidak setuju, sebab keturunan Umayyah tersebut telah melakukan pemberontakan sejak khalifah Ali bin Abi Thalib. Ia berambisi menduduki puncak pimpinan kaum Muslimin.

Sadar posisinya diincar, Muawiyah yang berkedudukan di Damaskus, Syam, Hasan justru secara persuasif menulis surat kepada Muawiyah. Ia memilih tidak menyerbu kekuatan oposisi.

“Janganlah engkau terus-menerus terbenam di dalam kebatilan dan kesesatan. Bergabunglah dengan orang-orang yang telah menyatakan baiat kepadaku. Sebenarnya engkau telah mengetahui, bahwa aku lebih berhak menempati kedudukan sebagai pemimpin umat Islam. Lindungilah dirimu dari siksa Allah dan tinggalkanlah perbuatan durhaka. Hentikanlah pertumpahan darah, sudah cukup banyak darah mengalir yang harus kau pikul tanggungjawabnya di akhirat kelak. Nyatakanlah kesetiaanmu kepadaku dan janganlah engkau menuntut sesuatu yang bukan hakmu, demi kerukunan dan persatuan umat Islam,” tulis Hasan seperti dikutip Al-Hamid Al-Husaini dalam Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya (1978).

Surat tersebut jelas menggambarkan Hasan sebagai orang yang lebih suka menghindari pertikaian dan pertumpahan darah. Ia juga menekankan pentingnya kerukunan dan persatuan umat Islam.    

Namun, Muawiyah yang sudah makan asam garam dalam dunia politik, serta telah mengobarkan peperangan demi posisi khalifah sejak zaman Ali, jelas menolak mentah-mentah permintaan Hasan.      

“Jika aku yakin bahwa engkau lebih tepat menjadi pemimpin daripada diriku, dan jika aku yakin bahwa engkau sanggup menjalankan politik untuk memperkuat kaum Muslimin dan melemahkan kekuatan musuh, tentu kedudukan khalifah akan kuserahkan kepadamu,” balasnya.

Jawaban tersebut jelas bukan yang diharapkan Hasan. Apalagi tak lama setelah itu, Muawiyah menyiapkan ribuan pasukan perang yang hendak ia bawa ke Kufah untuk menggempur kekuatan Hasan sebagai khalifah.

Sebagai seorang pemimpin, Hasan lebih menyukai perdamaian. Tapi bukan berarti ia berdiam diri saat mendapat ancaman untuk mengudetanya. Ia kemudian mengumpulkan penduduk Kufah dan mengabarkan bahwa kotanya akan diserang pasukan Muawiyah yang bergerak dari Syam.

Hasan memerintahkan kepada setiap lelaki Kufah yang mampu berperang untuk bersiap menghadapi ancaman tersebut. Sebuah dusun bernama Nukhailah dipilih Hasan sebagai markas pusat militer yang hendak melawan pasukan penyerbu dari Syam.

Pertempuran antara Muawiyah dan Hasan bin Ali tidak terjadi dalam bentuk perang besar, melainkan berakhir dengan Perjanjian Perdamaian (Amul Jama'ah) pada tahun 41 H (661 M), di mana Hasan menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut, mengakhiri Perang Saudara Islam Pertama. Ini terjadi setelah Muawiyah menolak kekhalifahan Hasan, yang memimpin pasukan ke Irak, namun moral pasukan Hasan menurun drastis karena pengkhianatan dan serangan terhadapnya, sehingga Hasan memilih perdamaian dengan syarat-syarat tertentu yang sebagian besar dilanggar oleh Muawiyah. 

Pada 28 Safar tahun 50 Hijriyah, atau sebelas tahun sebelum kelak adiknya meninggal di padang Karbala, Hasan wafat dalam usia 46. Beberapa saat sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir, Hasan berkata kepada Husein, adiknya.

“Tiga kali aku pernah menderita keracunan, tetapi tidak sehebat yang kualami sekarang ini,” ucapnya.

Husein bertanya kepada kakaknya siapakah kiranya yang telah meracuninya. Namun, dengan semangat persatuan Hasan menolak memberitahu orang yang telah meracuninya. Ia khawatir adiknya yang berkarakter lebih keras daripada dirinya akan menuntut balas sehingga akan terjadi pertumpahan darah sesama kaum Muslimin.

Al-Hamid Al-Husaini menerangkan sebagian besar para penulis sejarah meyakini bahwa yang meracun hasan adalah istrinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Al-Asy’ats atas perintah Muawiyah dengan iming-iming uang sebesar 100.000 dinar.

Sumber : @Sahabat Kisah

Share:

Ummu Mutiah : Wanita Ahli Surga Yang Sempat Membuat Fatimah Azzahra Cemburu

Ummu Mutiah termasuk dalam golongan perempuan yang dijamin masuk surga setelah Ummul Mukminin. Kesetiaan kepada sang suami menjadikan Mutiah memperoleh balasan terbaik di akhirat. Mutiah disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai calon penghuni surga. Sang putri, Fatimah Az-Zahra kemudian merasa penasaran atas amalan apa yang dilakukan Mutiah sampai ia dijaminkan surganya Allah SWT.

Dikutip dari buku Ia Hidup Kembali Setelah Mati 100 Tahun: Kisah-Kisah Haru yang Mempertebal Iman oleh Ust. Ahmad Zacky El-Syafa, kisah cemburunya Fatimah Az-Zahra kepada Mutiah ini karena Fatimah ingin tahu kebiasaan beribadahnya.

Suatu hari, Fatimah az-Zahra datang menemui Rasulullah SAW dan menanyakan tentang sosok perempuan yang menjadi calon penghuni surga. Melihat kedatangan Fatimah, Rasulullah pun menyambutnya dengan gembira.

"Ada apakah gerangan putriku sehingga datang menemuiku?" tanya Rasulullah SAW.

"Wahai ayahanda, siapakah calon penghuni surga?" tanya Fatimah.

Sambil tersenyum, Rasulullah menjawab, "Calon penghuni surga itu adalah Mutiah."

Mendengar jawaban Rasulullah itu, Fatimah pun sedih. Namun, Rasulullah segera menghiburnya dan mengabarkan bahwa putrinya itu akan selalu bersamanya di surga nanti. Mendengar hal itu, bergembiralah Fatimah. Namun, ia penasaran dengan jawaban Rasulullah SAW, tentang Mutiah yang akan menjadi calon penghuni surga.

Gerangan apakah yang membuat Mutiah layak mendapatkan balasan kehormatan itu.

Suatu hari, Fatimah bersama Hasan kecil, putranya, datang berkunjung ke rumah Mutiah. Dari balik pintu, Fatimah memberi salam dan dijawab oleh Mutiah. Lalu, Mutiah bertanya, "Siapakah itu?" Fatimah menjawab: "Saya, Fatimah bersama anak saya, Hasan."

Mendengar hal itu, Mutiah pun senang. "Alangkah senangnya menerima kedatangan putri dari seorang yang mulia," jawab Mutiah. "Tapi mohon maaf, bisakah engkau datang besok karena saya belum dapat izin dari suami saya untuk menerima Hasan," tambah Mutiah.

Dengan heran, Fatimah pun bertanya, "Bukankah Hasan anak kecil?"

"lya, tapi ia laki-laki dan saya belum dapat izin dari suami," kata Mutiah.

Atas hal itu, Fatimah pun memakluminya dan berjanji akan datang besok pagi.

Keesokan harinya, Fatimah datang lagi ke rumah Mutiah. Kali ini, ia bersama Hasan dan Husein. Namun, jawaban yang sama disampaikan Mutiah karena ia hanya mendapatkan izin untuk menerima Fatimah dan Hasan, tapi tidak untuk Husein.

Lalu, Fatimah kembali pulang ke rumahnya dan berjanji akan datang lagi besok.

Esok harinya, Fatimah datang lagi bersama Hasan dan Husein. Setelah memberi salam dan menyampaikan kedatangannya bersama kedua anaknya, Mutiah pun menyambutnya dengan penuh gembira. Mutiah lantas menyampaikan permohonan maaf atas sikapnya dua hari terakhir yang menolak kedatangan Fatimah ke rumahnya disebabkan belum adanya izin dari sang suami.

Atas hal ini, Fatimah pun memakluminya. Selama di rumah Mutiah, Fatimah tak menemukan suatu ibadah yang menunjukkan Mutiah layak mendapat kehormatan sebagai calon penghuni surga.

Fatimah kemudian melihat sebuah cambuk di atas meja. la pun menanyakan hal itu kepada Mutiah. 

"Cambuk itu selalu aku letakkan di sisi suamiku," ujar Mutiah. "Apakah suamimu suka memukulmu?" tanya Fatimah.

Mutiah menjawab bahwa suaminya adalah seseorang yang sangat sayang kepada dirinya. Lalu, Fatimah bertanya lagi, mengapa cambuk itu diberikan kepada suamimu?

"Saya memberikan cambuk itu padanya agar apabila dia melihat sesuatu yang salah dan kurang dari pelayanan yang kuberikan, ia bisa memukulku. Alhamdulillah, selama ini suamiku belum pernah mempergunakannya untuk mencambuk diriku," jawab Mutiah.

Fatimah pun kagum akan kesetiaan dan kehormatan yang senantiasa dijaga oleh Mutiah bila suaminya sedang tidak berada di rumah. Atas perbuatannya itu, Fatimah dapat mengambil kesimpulan bahwa pantaslah Mutiah mendapat predikat calon penghuni surga.

Sumber : @Sahabat Kisah

Share:

Kisah Masyitoh, Pelayan Fir'aun : Kesetiaan Seorang Ibu Yang Mengharumkan Langit

Masyitoh adalah julukan bagi seorang perempuan sederhana yang bekerja sebagai pelayan di istana Fir’aun. Tugasnya sehari-hari adalah menyisir rambut putri Fir’aun. Meski hidup di lingkungan istana yang penuh kemewahan dan kekuasaan, hati Masyitoh telah terpaut kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihissalam.

Suatu hari, ketika Masyitoh tengah menyisir rambut sang putri, sisir di tangannya terjatuh. Tanpa sadar, ia mengucapkan nama Allah. Ucapan singkat itu terdengar jelas oleh putri Fir’aun. Sang putri terkejut, sebab nama tersebut adalah nama yang ditentang oleh ayahnya—Fir’aun—dan merupakan seruan dakwah Nabi Musa ‘alaihissalam.

Putri Fir’aun pun melaporkan kejadian itu kepada ayahnya. Mendengar laporan tersebut, Fir’aun sangat murka. Ia tidak menyangka di dalam istananya sendiri ada seorang pelayan yang beriman kepada ajaran Musa. Fir’aun, yang dikenal kejam dan bengis, tak segan-segan menghukum siapa pun yang menolak mengakui dirinya sebagai tuhan.

Masyitoh kemudian dihadapkan kepada Fir’aun. Dengan nada angkuh, Fir’aun berkata,

“Wahai Masyitoh, kudengar engkau dan seluruh keluargamu telah mengikuti ajaran Musa dan Harun. Benarkah itu?”

Dengan penuh keberanian dan keimanan, Masyitoh menjawab,

“Benar. Aku dan seluruh keluargaku telah beriman kepada Musa. Ketahuilah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, termasuk engkau.”

Jawaban itu membuat Fir’aun semakin murka. Ia memerintahkan agar sebuah kuali besar dipanaskan hingga mendidih. Dengan kejam ia mengancam,

“Jika engkau tetap pada pendirianmu, engkau dan keluargamu akan aku masukkan ke dalam kuali ini.”

Satu per satu, anak-anak Masyitoh dilemparkan ke dalam kuali yang mendidih. Namun, luar biasa, anak-anaknya justru memberi keteguhan kepada sang ibu, agar ia tetap berpegang teguh pada imannya dan tidak berpaling dari agama Allah.

Puncak ujian terjadi ketika bayi Masyitoh yang masih dalam gendongan hendak dilemparkan ke dalam kuali. Hati seorang ibu mana yang tidak terguncang melihat bayinya dalam bahaya? Di saat itulah iman Masyitoh benar-benar diuji.

Namun, dengan izin Allah, terjadilah sebuah keajaiban. Bayi itu tiba-tiba berbicara dan berkata,

“Wahai Ibu, janganlah engkau ragu. Sesungguhnya engkau berada di jalan yang benar. Kelak kita akan berkumpul kembali di surga Allah yang penuh kenikmatan.”

Mendengar perkataan bayinya, hati Masyitoh menjadi mantap. Ia tidak lagi ragu. Dengan keyakinan penuh, ia memilih tetap berdiri di jalan Allah. Akhirnya, Masyitoh dan bayinya pun dilemparkan bersama ke dalam kuali yang mendidih, mengakhiri hidup mereka sebagai syuhada yang mulia.

Kesyahidan Masyitoh dan keluarganya inilah yang kelak menjadi sebab Rasulullah ﷺ mencium aroma wangi yang semerbak ketika beliau melaksanakan Isra dan Mi’raj. Aroma itu adalah harum keimanan, keteguhan, dan pengorbanan Masyitoh beserta keluarganya.

Kisah Masyitoh mengajarkan kepada kita bahwa keimanan sejati menuntut keberanian, keteguhan, dan pengorbanan, bahkan ketika harus berhadapan dengan kekuasaan paling zalim sekalipun. Wallahu A’lam bis Shawab.

Sumber : @Sepenggal Kisah

Share:

Kisah Jalaibib : Si buruk rupa yang jadi rebutan Bidadari

Seorang sahabat Nabi bernama Julaibib RA. Dia lahir di dunia tanpa mengetahui siapa kedua orangtuanya dan dia tidak mengetahui nasabnya. Bagi masyarakat di zaman itu orang yang tidak memiliki nasab jelas merupakan suatu aib. Julaibib memiliki tampilan fisik bisa dibilang buruk rupa, sehingga karena buruk rupanya jarang ada orang mau mendekatinya.

Julaibib adalah orang yang sangat bertaqwa kepada Allah dan Rasulnya, dia juga adalah salah satu prajurit perangnya nabi Muhammad. Walaupun banyak orang mengucilkan dia tapi tidak dengan Nabi Muhammad. Suatu ketika selesai menjalankan shalat Nabi sempat memanggilnya. "Julaibib, tidakah engkau ingin menikah?" tanya Rasul dengan lembut sambil tersenyum kepadanya.

"Siapakah orang yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini Ya Rasulullah?" jawab Julaibib sambil tersenyum. Lalu Rasulullah menjawabnya dengan senyuman. Julibib menyadari dirinya tidak mempunyai apa-apa dan menurut dia tidak ada seorangpun yang mau menikahkan anaknya untuk dia. 

Keesokan harinya Nabi Muhammad bertemu lagi dengan Julaibib, Lalu Rasulullah kembali bertanya kepadanya "Julaibib, tidakkah engkau menikah?" dengan jawaban yang sama Julaibib menjawab pertanyaan Rasulullah. 

Sampai pada akhirnya nabi Muhammad menarik tangan Julaibib dan mengajaknya ke suatu rumah pemimpin Anshar yang dikenal mempunyai anak yang sangat cantik. Setibanya di rumah pemimpin Anshar, Nabi Muhammad bertemu dengan ayah dari wanita yang cantik itu dan Rasulullah mengatakan.

"Aku ingin menikahkan putri kalian," kata Rasulullah pada si pemilik rumah.

Melihat perkataan Rasulullah yang ingin menikahi anaknya sang pemimpin Anshar itu pun senang "Betapa indahnya dan betapa berkahnya," Jawaban pemimpin Anshar dengan wajah yang senang, mengira bahwa sang Nabi lah calon menantunya. "Ya Rasulullah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram di rumah kami."

"Tetapi bukan untukku, Melainkan untuk Julaibib," ujar Rasulullah.

Sang pemimpin Anshar itupun kaget mengetahui bahwa anaknya akan dinikahi oleh laki-laki buruk rupa yang tidak diketahui nashabnya dan langsung mengatakan bahwa dia harus mempertimbangkan dengan istrinya. "Ya Rasulullah. Saya harus meminta pertimbangan istri saya tentang hal ini," kata pemimpin Anshar.

"Dengan Julaibib?", istrinya menjawab, "Bagaimana bisa? Julaibib berwajah jelek, tidak bernasab, tidak berkabilah, tidak berpangkat, dan tidak berharta. Demi Allah tidak. Tidak akan pernah putri kita menikah dengan Julaibib".

Mendengar perdebatan itu sang perempuan yang cantik anak dari pemimpin Anshar itupun keluar. dan mengatakan "Siapa yang meminta?", lalu Sang ayah dan sang ibunya pun menjelaskan. Perempuan yang cantik ini memang dikenal salehah yang sangat mengerti dengan agama.

"Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tiada akan membawa kehancuran dan kerugian bagiku".

Perempuan salehah itu lalu membaca ayat (yang artinya): 

"Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata". (QS. Al-Ahzab: 36).

Mendengar jawaban dari perempuan cantik nan soleha itu nabi Muhammad pun tertunduk lalu mendoakan sang perempuan itu.

“Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atasnya, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Jangan kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah,"

Akhirnya, kedua orang tua sang gadis setuju dan menikahkan putrinya dengan Julaibib RA., orang tua gadis itu berkata, "Kami serahkan urusan gadis kami ini kepadamu, wahai Rasulullah." Artinya, mereka mempercayai Rasulullah SAW atas kebaikan putri yang mereka cintai.

Tak lama setelah pernikahan Sang Buruk Rupa dengan gadis salihah itu, Rasulullah SAW memerintahkan sahabat dan mujahidin untuk pergi berperang melawan musuh Islam. Julaibib RA pun ikut serta dalam jihad ini.

Peperangan akhirnya dimenangkan oleh kaum muslimin. Begitu perang usai, Rasulullah SAW merasa kehilangan seseorang dari kalangan sahabatnya. Beliau lalu bertanya, "Apakah di antara kalian ada yang terbunuh?"

Mereka menjawab, "Kami kehilangan fulan dan fulan."

Rasulullah SAW bertanya lagi, "Apakah di antara kalian ada yang terbunuh?"

Mereka menjawab lagi, "Tidak ada lagi wahai Rasulullah."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Akan tetapi sepertinya aku kehilangan Julaibib."

Rasulullah SAW memerintahkan sahabat untuk mencari Julaibib RA. Mereka pun menemukannya tergeletak di antara tujuh orang musuh yang berhasil Julaibib RA bunuh sebelum mereka membunuhnya.

Lalu Rasulullah SAW bersabda, "Julaibib telah berhasil membunuh tujuh orang musuh, sebelum akhirnya mereka berhasil membunuhnya, ia adalah bagian dariku dan diriku adalah bagian darinya." Beliau mengulang ucapan ini sebanyak tiga kali.

Julaibib RA pun berakhir meninggal sebagai syuhada. Sehingga mayatnya tidak dimandikan namun langsung dikuburkan. Sebab, sudah ada bidadari surga yang menunggu di sana untuk memandikannya. 

Maka benarlah doa Nabi Muhammad. Tak lama kemudian Allah karuniakan jalan keluar baginya. Kebersamaan di dunia ternyata tidak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang istri salehah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukan Julaibib di Surga. Julaibib, sahabat Nabi yang buruk muka, lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang tidak bersahabat padanya.

Sumber Penulis : @Kangen Rasulullah SAW. 
Share:

Kisah Nusaibah Binti Ka'ab : Simbol Keberanian, Pengorbanan dan Keteguhan Iman.

Nusaibah Binti Kaab yg dikenal sebagai Ummu Umara, adalah salah satu perempuan paling berani dalam sejarah awal Islam yang berasal dari Arab yang terkenal dengan keberaniannya di medan perang.

Awalnya ia hadir untuk memberi air dan merawat para pejuang, namun dalam perang uhud ia mengangkat pedang dan perisai ketika barisam kaum mislimin terdesak, berdiri melindungi Nabi Muhammad dari serangan musuh dengan tubuhnya sendiri.

Ummu Umara mengalami banyak luka parah termasuk tebasan pedang dan tusukan tombak, tetapi tetap bertahan hingga pertempuran terakhir.

Keberaniannya membuat Nabi Muhammad memujinya secara langsung, menyatakan bahwa di manapun beliau menoleh saat perang, ia selalu melihat Ummu Umara berjuang.

Kisah Nusaibah Binti Ka'ab dikenang sebagai simbol keberanian, pengorbanan dan keteguhan iman yang melampaui batasan zaman dan peran gender.

Sumber : @HR FAKTA

Share:

Kisah Permintaan Jabatan Abu Dzar al Ghifari Kepada Rasulullah

Abu Dzar al Ghifari, suatu ketika bermaksud meminta jabatan kepada`Rasulullah Saw. "Wahai Rasulullah, tidakkah anda menjadikanku sebagai pegawai (pejabat)?", kata Abu Dzar kepada Beliau. Sembari menepuk bahu Abu Dzar, Rasulullah bersabda: "Wahai Abu Dzar, kamu ini lemah (untuk memegang jabatan) padahal jabatan merupakan amanah. Pada hari kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi siapa yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar." Demikianlah cerita Abu Dzar seperti yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Sahihnya.

Siapa yang tak kenal Abu Dzar Al Ghifari?. Beliau adalah sahabat dekat Rasulullah Saw, seorang lelaki dari Bani Ghifar yang sangat pemberani. Abu Dzar masuk Islam di saat kaum Qurays mendustakan Rasulullah dan bergegas bergabung dengan Rasulullah di Madinah saat ia mendengar Rasul telah berhijrah. Kedekatannya dengan Rasulullah tak dapat diragukan lagi. Ia senantiasa menempel kemanapun Rasulullah pergi. Tempat tinggalnya di Masjid Nabawi dan senantiasa menjadi pelayan Rasulullah.

Keberaniannya tak dapat disangsikan. Abu Dzar mengumumkan ke-Islamannya secara terang-terangan di dekat Ka’bah, padahal Rasulullah telah berpesan untuk menyembunyikannya. Alhasil Abu Dzar babak belur dikeroyok kaum Qurays. Sepeninggal Rasulullah, pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Abu Dzar menetap di wilayah Syam yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan. Abu Dzar tak segan-segan untuk mengkritik Muawiyah hingga putra Abu Sufyan itu merasa jengah dan meminta Khalifah Utsman untuk segera memanggilnya ke Madinah. Akhir cerita, akhirnya Abu Dzar mengasingkan diri ke sebuah wilayah terpencil, yang tak ada satupun orang bermukim di sana, di daerah perbukitan Rabadzah di luar kota Madinah. Meski demikian, sesuai pesan Rasulullah kepadanya, Abu Dzar adalah orang yang sangat mentaati amirnya.

Disamping berbagai wasiat Rasulullah kepadanya, diriwayatkan pula pujian dari Nabi Saw  kepada Abu Dzar. Rasulullah memujinya: “Tidak ada makhluk yang berbicara di kolong langit yang biru dan yang dipikul oleh bumi, yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya jilid 3 hal 161, juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya, hadits ke 3801 dari Abdullah bin Amr ra). Pujian lainnya yang disanjungkan Rasulullah kepada Abu Dzar, seperti ditulis oleh Ibnu Saad dalam Thabaqatnya:  “Orang yang paling dekat diantara kalian dariku di hari kiamat, adalah yang keadaan hidupnya ketika meninggal dunia, seperti keadaannya ketika aku meninggalkannya untuk mati.”

Jika memang demikian tinggi kedudukan Abu Dzar di mata Rasulullah Saw, lantas mengapa Beliau menolak permintaan Abu Dzar untuk menjadi pejabat?. Karena Rasulullah tahu persis kapasitas dan kapabilitas Abu Dzar, hingga beliau mengatakan bahwa Abu Dzar adalah orang yang ‘lemah’ untuk memegang jabatan. Padahal, kata Rasulullah Saw, jabatan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di akhirat. Jabatan akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang-orang yang mengambilnya dengan haq dan melaksanakan tugas dengan benar. Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda: “....jabatan itu akan menjadi penyesalan dihari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan” (HR. Imam Bukhari).

Karena itulah, dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah menolak memberikan jabatan kepada orang yang memintanya dan kepada orang yang ambisius. "Kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang yang memintanya, tidak juga kepada orang yang ambisi terhadapnya."

Lima belas abad yang lalu, Rasulullah telah berpesan kepada umat Islam mengenai ‘panasnya’ kursi jabatan ini. Meski demikian, untuk orang-orang tertentu yang dinilai mampu dan amanah, Rasulullah Saw juga tak segan-segan mengangkatnya menjadi pemimpin. Seperti yang terjadi pada Usamah bin Zaid. Saat itu, karena dinilai masih sangat muda, para sahabat memprotes pengangkatan Usamah menjadi panglima pasukan yang dibentuk Rasulullah. Maka beliaupun bersabda,


"Apabila kalian mengecam kepemimpinan Usmah bin Zaid, maka berarti kalian juga mengecam kepemimpinan ayahnya sebelum itu. Demi Allah, sungguh ia memang layak dengan jabatan itu. Demi Allah, sungguh ia orang yang paling aku senangi. Dan demi Allah sungguh jabatan tersebut memang layak untuk Usamah bin Zaid. Dan demi Allah, jika ia adalah orang yang paling aku senangi setelah bapaknya, maka aku wasiatkan kepada kalian untuk mentaati perintahnya, karena ia termasuk orang yang baik diantara kalian."

Jadi, jangan coba-coba duduk di atas kursi panas itu jika kita merasa tidak mampu menjalankannya secara benar. Karena ia hanya akan menjadi penyesalan kelak di akhirat. Wallahul Muwafiq ila Aqwamit Thariiq.
Share: