Tampilkan postingan dengan label Renungan & Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan & Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kisah Nyata : Sujud Terakhir di malam Pesta Penikahan

Kisah nyata yang diceritakan oleh Syaikh Abdul Muhsin ini terjadi di Abha, ibu kota Provinsi Asir Arab Saudi. “Setelah melaksanakan shalat Maghrib dia berhias, menggunakan gaun pengantin putih yang indah, mempersiapkan diri untuk pesta pernikahannya. Lalu dia mendengar azan Isya, dan dia sadar kalau wudhunya telah batal.

Dia berkata pada ibunya : “Bu, saya mau berwudhu dan shalat Isya.” Ibunya terkejut : “Apa kamu sudah gila? Tamu telah menunggumu untuk melihatmu, bagaimana dengan make-up mu? Semuanya akan terbasuh oleh air.” Lalu ibunya menambahkan : “Aku ibumu, dan ibu katakan jangan shalat sekarang! Demi Allah, jika kamu berwudhu sekarang, ibu akan marah kepadamu” Anaknya menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan pergi dari ruangan ini, hingga saya shalat. Ibu, ibu harus tahu “bahwa tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta”!!

Ibunya berkata : “ Apa yang akan dikatakan tamu-tamu kita tentang mu, ketika kamu tampil dalam pesta pernikahanmu tanpa make-up?? Kamu tidak akan terlihat cantik dimata mereka! dan mereka akan mengolok-olok dirimu!.........Anak nya berkata dengan tersenyum : “Apakah ibu takut karena saya tidak akan terrlihat cantik di mata makhluk? Bagaimana dengan Penciptaku? Yang saya takuti adalah jika dengan sebab kehilangan shalat, saya tidak akan tampak cantik dimata-Nya”.

Lalu dia berwudhu, dan seluruh make-up nya terbasuh. Tapi dia tidak merasa bermasalah dengan itu. Lalu dia memulai shalatnya. Dan pada saat itu dia bersujud, dia tidak menyadari itu, bahwa itu akan menjadi sujud terakhirnya. Pengantin wanita itu wafat dengan cara yang indah, bersujud di hadapan Pencipta-Nya.

Ya, ia wafat dalam keadaan bersujud. Betapa akhir yang luar biasa bagi seorang muslimah yang teguh untuk mematuhi Robb-nya! Banyak orang tersentuh mendengarkan kisah ini. Ia telah menjadikan Allah dan ketaatan kepada-Nya sebagai prioritas pertama.

Pilih Surga/Neraka, Jika masih Sengaja Menunda Sholat.

 

Share:

Kegiatan Penghuni Neraka, Kesibukan Abadi Penuh Penyesalan

 

Ketika hari perhitungan telah selesai, ketika amal perbuatan ditimbang dan keputusan Allah telah ditetapkan, manusia pun terpisah. Sebagian menuju rahmat, sebagian menuju azab. Bagi mereka yang menolak kebenaran, meremehkan perintah Allah, dan wafat tanpa taubat, dimulailah kehidupan baru yang tidak mengenal istirahat.

Itulah kehidupan para penghuni neraka.

Bukan tidur, Bukan mati, Bukan pula sekadar api.

Melainkan kesibukan abadi yang penuh azab dan penyesalan.

Jeritan dan Permohonan yang Tak Pernah Berhenti

Sejak pertama kali dilemparkan ke dalam neraka, suara yang terdengar bukan hanya gemuruh api, melainkan jeritan manusia yang tiada henti.

Allah berfirman:

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu bergolak.”

(QS. Al-Mulk: 7)

Hari demi hari, bahkan selama-lamanya, mereka berteriak dan memohon:

Allah berfirman:

“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya. Jika kami kembali (berbuat durhaka), sungguh kami orang-orang yang zalim.”

(QS. Al-Mu’minun: 107)

Namun jawaban yang datang hanyalah kehinaan:

Allah berfirman:

“Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah berbicara dengan-Ku.”

(QS. Al-Mu’minun: 108)

Doa mereka tidak lagi didengar.

Terbakar, Kulit Diganti, Lalu Terbakar Kembali

Api neraka bukan seperti api dunia. Ia hidup, menyala, dan menguliti.

Allah berfirman:

“Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain agar mereka merasakan azab.”

(QS. An-Nisa’: 56)

Di dunia, kulit yang terbakar akan mati rasa.

Di neraka, kulit diganti agar rasa sakit terus hidup.

Ini bukan hukuman sesaat, melainkan kesibukan tanpa jeda.

Makanan dan Minuman yang Menambah Azab

Ketika lapar datang, mereka tidak diberi kelegaan, melainkan penderitaan tambahan.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya pohon zaqqum itu adalah makanan bagi orang yang banyak berdosa.”

(QS. Ad-Dukhan: 43–44)

Buahnya pahit, panas, dan menyiksa.

Tentang minuman mereka, Allah berfirman:

“Jika mereka meminta minum, mereka diberi air seperti besi yang mendidih, yang menghanguskan wajah.”

(QS. Al-Kahfi: 29)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika setetes dari zaqqum diteteskan ke dunia, niscaya akan merusak kehidupan penduduk dunia.”

(HR. Tirmidzi)

Mereka makan bukan untuk menghilangkan lapar, melainkan untuk menambah azab.

Saling Menyalahkan dan Bermusuhan

Di dunia mereka bersatu dalam dosa.

Di neraka mereka saling memusuhi.

Allah berfirman:

“Teman-teman akrab pada hari itu menjadi musuh satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”

(QS. Az-Zukhruf: 67)

Pengikut menyalahkan pemimpin.

Anak menyalahkan orang tua.

Istri menyalahkan suami.

Allah berfirman:

“Sekiranya kami menaati Allah dan Rasul, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka.”

(QS. Al-Ahzab: 66)

Namun penyesalan itu datang terlambat.

Ingin Mati, Tetapi Kematian Diharamkan

Di dunia, kematian adalah akhir.

Di neraka, kematian adalah harapan yang tidak pernah dikabulkan.

Allah berfirman:

“Mereka tidak mati di dalamnya dan tidak pula hidup.”

(QS. Al-A’la: 13)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Didatangkan kematian dalam bentuk kambing, lalu disembelih. Dikatakan: Wahai penghuni neraka, kalian kekal dan tidak ada kematian.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah azab terbesar: hidup tanpa harapan.

Penyesalan yang Tak Pernah Usai

Setiap detik para penghuni neraka diliputi penyesalan.

Allah berfirman:

“Alangkah baiknya sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka.”

(QS. Al-Mulk: 10)

Penyesalan menjadi aktivitas utama mereka.

Namun Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang cerdas adalah orang yang menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”

(HR. Tirmidzi)

Penyesalan hanya berguna sebelum kematian.

Oleh karennya mari kita berdoa dijauhkan dari siksanya api neraka.

Ya Allah, lindungilah kami dari neraka dan segala jalan yang mengantarkan kepadanya.

Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang menyesal ketika penyesalan tidak lagi berguna.

Masukkanlah kami ke dalam surga-Mu tanpa hisab, dengan rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Sumber : @Ustadz Fatih Karim

Share:

Tentang Dosa dan Kegelapan Hati

Nasehat sedih Nabiullah Muhammad S.A.W. Tentang dosa dan kegelapan hati.

" Wahai manusia....!!  Dosa itu tak selalu datang dengan wajah yang menakutkan, kadang ia datang seperti angin lembut yang kalian kira tak berbahaya. Tapi angin itulah yang memadamkan cahaya hati.

Ada hamba yang awalnya gemetar ketika berbuat salah. Namun setelah ia ulangi, gemetarnya hilang. Setelah ia biasakan hatinya mengeras, setelah hatinya keras ia tak lagi tahu malu kepada Tuhannya.

Seandanya kalian melihat bagaimana satu dosa bisa menjadi rantai yang menarik dosa lainnya, niscaya kalian akan berhati-hati seperti seseorang berjalan ditepi jurang pada malam  yang pekat.

Ingatlah...!!!
Dosa kecil yang ditumpuk akan lebih berat dari dosa besar yang disesali.

Sumber : @Muhammad Hasan Shan
Share:

Empat Pelajaran dari Kecelakaan Air Asia QZ8501

Pesawat udara Air Asia nomor penerbangan QZ8501 jurusan Surabaya – Singapura telah resmi dinyatakan mengalami kecelakaan setelah puing-puing dan jenazah korban ditemukan pada Rabu, 31 Desember 2014. Tanpa mengurangi rasa hormat dan simpati saya kepada keluarga korban, mari kita mengambil pelajaran dari peristiwa kecelakaan tersebut.

Pertama: tentang kematian yang pasti

Saudaraku, dari peristiwa kecelakaan Air Asia ini mengingatkan kita tentang kepastian kematian. Yaitu, bahwa kematian telah Allah tentukan waktu dan tempatnya. Tak ada seorang pun yang dapat berlari darinya. Dan tak ada seorang pun tahu di negeri mana ia akan mati.

Jika sekali waktu Anda membaca berita, “maskapai X masuk dalam daftar 10 penerbangan paling aman di dunia!”, maka — hemat saya — penerbangan tersebut sesungguhnya tidak benar-benar aman dari kematian. Bukankah Allah SWT berfirman, (artinya) “Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh…” (QS An-Nisa : 78)

Mari mengambil pelajaran dari peristiwa kecelakaan ini. Bahwa kematian adalah pasti dan Rasulullah SAW menggambarkan tentang beratnya detik-detik menjelang kematian.  Diriwayatkan dari Syahr bin Husyab dia berkata, Rasulullah saw ditanya tentang beratnya kematian. Rasulullah SAW menjawab, “kematian yang paling ringan adalah seperti bulu wol yang tercerabut dari kulit domba. Apakah mungkin kulit dapat keluar kecuali bersama bulu-bulunya itu?”

Kedua: tentang awan

Meskipun Badan Nasional Keselamatan Transportasi (BNKT) belum memberikan keterangan apapun tentang sebab-sebab kecelakaan, media massa ramai memberitakan bahwa awan adalah (dugaan) penyebab kecelakaan Air Asia dimaksud. Saya tidak ingin membahas tentang sebab kecelakaan itu, namun lebih tertarik untuk mendiskusikan awan dalam perspektif Al-Quran.

Ada banyak ayat dalam Al-Quran yang membahas tentang awan. Salah satunya QS An-Nur: 43 Artinya: “Tidakkah kamu melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan lalu mengumpulkannya, kemudian Allah menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari gunung-gunung tinggi, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dihindarkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan”. Ayat ini sangat jelas membahas tentang kandungan awan dan potensi yang dimilikinya. Para ahli mengatakan awan ini sebagai awan Cumulonimbus.

Selain soal awan, pemahaman tentang cuaca secara umum dalam penerbangan memang sangat urgen. Kita tahu, cuaca berubah setiap saat, terutama di bulan Desember dan Januari ini. Angin adalah agen perubahan cuaca yang sangat dahsyat. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Dan, telah kami turunkan dari angin, air yang banyak tercurah.”  (QS An-Naba:14)

Pada ayat ini, Allah SWT menyebutkan bahwa anginlah yang mengantarkan hujan. Sekilas, kita mendapati ayat ini biasa saja. Tetapi, bila kita telaah, sesungguhnya angin yang menjadi katalisator pembentukan hujan. Singkatnya begini, di atas permukaan laut dan samudra, terjadi gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya yang terbentuk akibat buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, jutaan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter terlempar ke udara. Partikel ini dikenal dengan aerosol bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin, dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer bumi. Partikel-partikel tersebut dibawa ke atas oleh angin dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini lalu terkumpul membentuk awan dan kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk hujan. Karena itu pula, wajib dan mutlak diperlukan dalam dunia penerbangan pemahaman tentang cuaca sebagai syarat penerbangan yang aman.
 
Ketiga: Tentang manfaat besi

Kecelakaan Air Asia ini juga membuka mata kita, umat Islam, untuk lebih menguasai teknologi, terutama teknologi dirgantara. Pesawat udara sering kita dengar dengan sebutan “burung besi.” Dan, kita bersyukur bahwa salah satu ahli yang kita miliki dalam teknologi burung besi adalah Profesor BJ Habibie. Namun, tentu satu BJ Habibie tak cukup. Kita perlu para ahli lain yang mampu mengantarkan bangsa ini pada kemajuan teknologi dirgantara.

Al-Quran dengan tegas mengisyaratkan tentang besi dan bagaimana kita — umat manusia — diminta mampu mengoptimalkan besi. Dalam Al-Quran, bahkan, besi menjadi satu surah sendiri: surah al-hadid atau surah (tentang) besi. Besi adalah bahan dasar utama pembuatan pesawat terbang, dan — karena itu — mutlak wajib dikuasai oleh negara pengolahan dan penjualan besi di negeri ini. Syukurlah kini telah ada aturan (UU Minerba) yang mewajibkan ekspor biji besi (iron ore) setelah dilakukan purifikasi lewat cara smelter, dan dengan demikian kekayaan alam kita tidak beralih ke luar negeri secara semena-mena.

Kembali ke Al-Quran, surah al-Hadid ini sejak awal mendiskusikan kekuasaan Allah SWT, kewajiban manusia untuk percaya pada qadha dan qadar-Nya serta berlaku adil dalam menegakkan kebenaran. Secara khusus, Allah SWT berfirman, “لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ” (QS: Al-Hadid 25) 
 
Artinya: “Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menurunkan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia…”

Para ahli tafsir generasi awal, agak kesulitan menafsirkan kata “telah kami turunkan besi” pada ayat ini. Sebab, “nazala” tidak punya makna lain kecuali “turun”. Sementara, manusia mengambil biji besi (iron ore) dari perut bumi, bagaimana mungkin ia “diturunkan”. Dalam tafsir Jalalain, misalnya, disebutkan “sungguh telah kami kirim utusan kami (malaikat) kepada para nabi dengan dalil-dalil yang tegas. Dan telah kami turunkan kepada mereka al-Kitab (wahyu) dan kami ciptakan atau kami sediakan bagi manusia besi.”  Terlihat sekali, penulis tafsir Jalalain menghindari penafsiran “kami turunkan” besi dengan menggantinya menjadi “kami ciptakan”. Penafsiran yang mirip dianut oleh Imam As-Suyuthi, ar-Razi dan Ibn Katsir, termasuk terjemahan Departemen Agama. Hanya Ibn Abbas yang mengatakan, “besi diturunkan sebagaimana Adam diturunkan dari surga.”

Sesungguhnya, (biji) besi memang diturunkan Allah SWT ke muka bumi ini. Penemuan para ahli pada awal abad ke-delapan belas membuktikan itu. Biji besi (iron ore) adalah “benda langit” yang jatuh ke bumi lewat “hujan meteor”, entah berapa juta tahun silam. Apa yang menarik dari ayat tentang besi ini? Allah SWT mengingatkan kepada kita betapa pentingnya peran besi dalam peradaban manusia. Bahkan, turunnya besi disandingkan dengan turunnya kitab suci. Untuk itu, umat Islam wajib mempelajari besi sebagai bahan dasar pesawat terbang dan menguasai ilmu dirgantara, setelahnya.

Keempat: tentang sidik jari

Kini, setelah jenazah korban Air Asia ditemukan, kita sering mendengar istilah ante mortem dan post mortem untuk memastikan identitas jenazah. Menurut para ahli, selain gigi dan tes DNA, sidik jari adalah salah satu cara primer untuk memastikan identitas seseorang. Sumber dokter di Kompas TV, (saya lupa namanya) menyebutkan kemungkinan kesamaan sidik jari adalah satu dari dua miliar manusia. Namun, para dokter akan mengalami kesulitan melakukan identifikasi sidik jari bila mayat telah terendam di dalam air selama sekian hari.

Subhanallah, empat belas abad yang lalu, Allah SWT telah berfirman, “بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ” (QS al-Qiyamah:4). Berabad-abad lamanya, para ahli tafsir “bingung” menafsirkan ayat tersebut. Mengapa Allah SWT memberi contoh kemampuan-Nya dengan mengembalikan ujung jari manusia pada hari kiamat nanti? Bukankah ujung jari hanya contoh yang kecil. Karena itu, Imam Al-Qurtubi bahkan hanya menafsirkan, “jika pada pengembalian jari saja mampu dilakukan, maka demikianlah pada tulang-belulang.”
 
Penafsiran al-Qurtubi (dan para ulama tafsir lainnya) itu tentu tidak memuaskan. Namun, setelah Jan Evangelista Purkyně (1787–1869), seorang profesor anatomi dari Universitas Breslau, Republik Ceko, menemukan sembilan formula sidik jari, penafsiran ayat “sidik jari” ini menarik untuk dilakukan. Artinya, pada setiap manusia, sidik jarinya berbeda, dan Al-Quran telah menegaskan itu, yaitu bahwa pada saat kiamat nanti, ketika orang-orang kafir berkata, apakah mungkin Allah mengembalikan manusia sementara telah menjadi tulang belulang. Al-Quran menegaskan bahwa Allah bahkan mampu mengembalikan manusia kepada setiap sidik jarinya. Allahu akbar!

Demikian catatan singkat saya, semoga manfaat. Amin.

Share:

Qarun: Kesombongan Dan Keserakahan Membawanya Kepada Azab

Banyak diantara manusia beranggapan bahwa harta yang dimilikinya mampu untuk menjadikannya menjadi manusia terhormat dan terpuji. Namun anggapan mereka terbalik, harta yang mereka miliki justru menjerumuskannya ke dalam kebinasaan dan kehinaan, bahkan  Allah SWT mengazabnya karena harta itu.

Dan inilah kisah seorang manusia yang terperangkap dan terjebak oleh gelimangnya harta yang mengakibatkan Allah SWT mengazabnya dengan menenggelamkan dirinya dan seluruh hartanya ke dalam bumi. Sebagaimana Allah Firmankan dalam Al-Qur’an QS  76-82, Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa (anak paman Musa) ia berbuat aniaya kepada mereka. Dan telah Kami anugerahkan kepada mereka harta kekayaan yang anak-anak kuncinya  begitu berat dan tidak terangkat oleh beberapa orang yang kuat. Kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau congkak! Sesungguhnya Allah tidak mengasihani orang-orang yang congkak. Dan carilah dengan rezeki yang diberikan Allah kepadamu kebahagiaan di kampung akhirat. Dan jangan kamu lupakan kebahagiaanmu (kemakmuran) di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Qarun telah banyak mencapai kemajuan dunia, sungguhpun demikian, dia selalu merasa iri terhadap Musa a.s.  Berkata Musa a.s kepadanya, “Allah telah memerintahkan saya untuk memungut zakat darimu.” Tetapi Qorun telah mengingkari zakat dan mengatakan kepada orang-orang bahwa Musa a.s. telah memakan harta orang-orang atas nama zakat. 

Qarun berkata, “Musa telah memerintahkan kamu untuk shalat dan kamu telah terima. Kemudian dia telah memberi  perintah-perintah lainnya dan kamu telah menerima semuanya. Kini Musa memberi perintah untuk zakat, apakah ini bisa diterima juga?

Mereka menjawab, “Kita tidak bisa menerima perintah ini. Dapatkah engkau mengusulkan suatu cara untuk kami supaya kami tidak menunaikan perintah itu?”

Qarun berkata, “Saya telah membuat suatu muslihat. Kita bujuk seorang wanita nakal untuk membuat tuduhan palsu terhadap Musa a.s. di depan umum dengan mengatakan bahwa Musa a.s. telah berzina degannya.” Maka mereka segera pergi kepada seorang wanita pelacur dan membujuknya untuk memfitnah Musa a.s. di depan umum, dengan janji akan diberinya upah yang besar, dan pelacur itupun setuju.


Ketika Qarun mengetahui bahwa pelacur itu menyetujui, maka ia pergi kepada Musa a.s lalu berkata, “Kumpulkan semua Bani Israil dan sampaikan kepada mereka perintah dan hukum-hukum Allah”.

Musa a.s. menyetujuinya kemudian mengumpulkan Bani Israil dan mengumumkan kepada mereka, “Allah telah memerintahkan kepada kalian supaya beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu. Jagalah hubungan silaturahmi, dan perintah-perintah lainnya termasuk barang siapa telah beristri tetapi masih berzina maka dia mesti dihukum rajam (dilempari batu hingga mati).”


Maka para pengikut Qarun bertanya, “Jika engkau sendiri berzina?

Musa a.s. menjawab, “Kalau aku berzina, maka akupun harus dirajam.”


Mereka berkata, “Engkaupun telah berzina.”

Musa a.s. (dengan keheranan) berkata, “Aku telah berzina?”

Mereka menjawab, “Ya, engkau telah berzina.” Lalu mereka memanggil

wanita pelacur tadi dan berkata, “Berikan keteranganmu mengenai Musa a.s.”

Musa a.s. menyuruh wanita itu bersumpah lalu bertanya, “Apakah yang akan engkau sampaikan?” Wanita itu berkata, “Apabila engkau menyuruhku bersumpah, maka terpaksa aku menceritakan hal yang sebenarnya. Orang-orang ini sudah berjanji untuk memberiku harta yang banyak agar aku memfitnah engkau. Sesungguhnya engkau suci dari segala kesalahan.”

Mendengar pengakuan wanita ini, Musa a.s. menangis lalu bersujud. Dalam keadaan sujud itu, Allah SWT mewahyukan kepada Musa a.s. “Mengapa engkau menangis? Aku telah memerintahkan bumi untuk menaati perintahmu supaya menyiksa orang-orang itu. Engkau boleh memerintahkan bumi melakukan apa saja terhadap mereka sekehendakmu.”


Maka Musa a.s. pun bangkit dari sujud lalu memerintahkan bumi, “Telanlah mereka!” Seketika itu juga tanah menelan tubuh mereka sampai kepada persendian kakinya. Dengan lemah lembut dan merendahkan diri, mereka meminta tolong kepada Musa a.s. maka Musa a.s. memerintahkan lagi kepada tanah, “Telanlah mereka!” maka tanah pun menelan mereka hingga ke lutut mereka. Mereka berteriak dan memohon kepada Musa a.s. agar memaafkan kesalahan mereka. Tetapi sekali lagi Musa a.s. memerintahkan kepada tanah, “Telanlah mereka!” maka tanahpun menelan tubuh mereka hingga ke leher. Dan akhirnya seluruh tubuh mereka terbenam ke dalam tanah.

Atas peristiwa ini Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa a.s. “Mereka telah merendahkan diri dihadapan engkau dan telah memohon kepada engkau berkali-kali dengan lemah lembut. Demi kemuliaan-Ku, jika mereka memohon kepada-Ku dan berdoa kepada-Ku, pastilah Aku akan mengabulkan permohonan mereka.”

Share: