Isra' Mi'raj : Menembus Batas Kemampuan Makhluk Manapun Menerima Hadiah Sholat dibawah Sidratul Muntaha

Di Bawah Sidratul Muntaha: Hadiah Salat untuk Umat Nabi Muhammad ﷺ

Saat Rasulullah ﷺ tiba di langit ketujuh dan bertemu dengan Nabi Ibrahim عليه السلام, perjalanan Mi’raj belum berakhir. Dari sana, beliau melanjutkan langkah menuju Sidratul Muntaha—batas tertinggi yang menjadi puncak perjalanan ruhani Nabi Muhammad ﷺ.

Sidratul Muntaha digambarkan sebagai sebuah pohon agung yang menandai akhir pengetahuan makhluk. Dari tunas-tunasnya mengalir empat sungai; dua mengalir menuju surga, dan dua lainnya mengalir ke bumi. Daun-daunnya selebar telinga gajah, dan di sekitarnya tampak keindahan yang tak terlukiskan, dihiasi cahaya serta kilau yang memancarkan kemuliaan Ilahi.

Namun, perjalanan menuju Sidratul Muntaha ini tidak ditemani oleh Malaikat Jibril عليه السلام. Jibril berhenti di langit ketujuh dan berkata,

“Batas kemampuanku hanya sampai di sini. Jika aku melangkah lebih jauh, aku akan hancur.”

Maka Rasulullah ﷺ melangkah sendiri, menembus batas yang tak mampu dijangkau makhluk lain.

Ketika sampai di Sidratul Muntaha, Rasulullah ﷺ merasa bingung bagaimana mengucapkan salam kepada Allah ﷻ. Dalam kebingungan itu, Allah ﷻ mewahyukan kepada beliau kalimat salam. Maka Rasulullah ﷺ pun mengucapkan:

“At-taḥiyyātu, al-mubārakātu, aṣ-ṣalawātu, aṭ-ṭayyibātu lillāh.”

(Segala penghormatan, keberkahan, salawat, dan kebaikan hanyalah milik Allah.)

Allah ﷻ kemudian menjawab:

“As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh.”

(Salam sejahtera, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu, wahai Nabi.)

Mendengar jawaban salam dari Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ teringat kepada umatnya. Dengan penuh kasih, beliau menjawab:

“As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn.”

(Kesejahteraan semoga tercurah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh.)

Betapa besar kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Bahkan di puncak pertemuannya dengan Allah ﷻ, beliau tidak melupakan kita. Lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu, nama umatnya telah disertakan dalam doa beliau di Sidratul Muntaha.

Setelah itu, Rasulullah ﷺ menerima perintah agung dari Allah ﷻ: kewajiban salat bagi umat Islam sebanyak lima puluh waktu dalam sehari.

Beliau pun turun kembali ke langit ketujuh dan melihat Nabi Ibrahim عليه السلام bersandar di Baitul Ma’mur. Perjalanan dilanjutkan ke langit keenam, di mana beliau bertemu dengan Nabi Musa عليه السلام.

Nabi Musa bertanya,

“Wahai Muhammad, apakah yang engkau dapatkan dari Tuhanmu?”

Rasulullah ﷺ menjawab,

“Aku diperintahkan untuk melaksanakan salat lima puluh waktu dalam sehari.”

Nabi Musa berkata dengan penuh keprihatinan,

“Sesungguhnya aku telah menguji umatku, dan mereka tidak mampu memikul beban seberat itu. Bagaimana dengan umatmu?”

Maka Nabi Musa menyarankan Rasulullah ﷺ untuk kembali menghadap Allah ﷻ dan memohon keringanan. Rasulullah ﷺ pun kembali ke Sidratul Muntaha. Setiap kali kembali, Allah ﷻ mengurangi kewajiban itu lima waktu.

Hingga sembilan kali Rasulullah ﷺ bolak-balik antara langit keenam dan Sidratul Muntaha, memohon keringanan bagi umatnya. Akhirnya, Allah ﷻ menetapkan kewajiban salat menjadi lima waktu dalam sehari.

Ketika Rasulullah ﷺ kembali bertemu Nabi Musa, beliau kembali disarankan untuk meminta keringanan. Namun Rasulullah ﷺ berkata dengan penuh rasa malu dan syukur,

“Aku telah memohon hingga sembilan kali. Kini aku merasa malu kepada Tuhanku. Lima waktu ini adalah ketetapan-Nya. Dan setiap satu waktu bernilai sepuluh pahala.”

Maka lima waktu salat bagi umat Islam tetap bernilai lima puluh dalam timbangan kebaikan.

Pada malam 27 Rajab, Rasulullah ﷺ menerima hadiah terbesar bagi umatnya: kewajiban salat lima waktu. Sebuah hadiah yang bukan sekadar perintah, melainkan jalan untuk mendekat kepada Allah ﷻ.

Wahai saudara-saudara yang dirahmati Allah, jangan pernah mengabaikan hadiah ini.

Karena salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan sendi-sendi agama. Dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan sendi-sendi agama.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Sumber : @Sepenggal Kisah


Share:

0 komentar:

Posting Komentar