Imam Ibnu Hajar Al-Haitami adalah ulama besar yang memiliki karamah luar biasa. Lahir di Mahallah Abi Al-Haitam, Mesir bagian Barat pada bulan Rajab 909 Hijriyah dan wafat di Makkah pada bulan Rajab 973 Hijriyah. Beliau adalah seorang ulama ahli fikih mazhab Syafi'i, ahli kalam dan tasawuf.
Ibnu Hajar Al-Haitami telah hafal Al-Qur'an di waktu kecil. Guru-gurunya mengizinkannya berfatwa dan mengajar dan pada waktu usianya belum mencapai 20 tahun.
Di balik kedalaman ilmunya, tersimpan kisah rumah tangga yang sederhana, namun menggetarkan—tentang cinta, kesabaran, dan pilihan hidup yang tidak tunduk pada kilau dunia.
Imam Ibnu Hajar Al-Haitami hidup dalam kemiskinan selama 4 tahun. Beliau tak pernah makan daging karena tak punya uang untuk membelinya, walaupun sesungguhnya dia sangat menginginkannya.
Suatu hari, sang istri mengungkapkan keinginannya untuk mandi air hangat di pemandian umum. Ibnu Hajar tersenyum lembut.
“Bersabarlah, wahai istriku. Aku akan mengumpulkan uang untuk tiket masuk.”
Ujar Ibnu Hajar Al-Haitami, sang penulis Kitab Tuhfat al-Muhtaj.
Sejak saat itu, ia menyisihkan sedikit demi sedikit dari apa yang dimilikinya, hingga terkumpul setengah riyal—jumlah yang cukup pada masa itu. Dengan penuh kebahagiaan, uang itu ia serahkan kepada istrinya.
Sang istri pun berangkat dengan hati berbunga. Namun setibanya di pemandian, langkahnya terhenti. Penjaga loket berkata, “Maaf, hari ini pemandian ini disewa penuh oleh istri Imam Ar-Ramli bersama rombongan santri putrinya. Kami telah menerima dua puluh lima riyal untuk sehari penuh dan diminta tidak membuka pintu bagi siapa pun. Silakan datang besok.”
Kekecewaan mengalir dalam diam. Ia pulang dengan hati berat dan menyerahkan kembali uang itu kepada suaminya, meluapkan kesedihan yang bercampur keluh.
Ia membandingkan keadaan mereka dengan kemewahan yang dinikmati orang lain, seakan ilmu dan kesederhanaan yang mereka jalani tak menghasilkan apa-apa selain kepayahan.
Ibnu Hajar mendengarkan tanpa menyela. Dengan suara yang tenang, ia berkata, “Aku tidak mengejar harta dunia. Aku ridha dengan apa yang ditentukan oleh Allah. Jika engkau menginginkan kekayaan, mari ikut aku ke sumur Zamzam.”
Mereka pun berangkat. Di sana, Ibnu Hajar menurunkan timba ke dalam sumur. Ketika diangkat, timba itu penuh dengan dinar emas. Ia menoleh kepada istrinya, “Apakah ini cukup?” Sang istri menggeleng. Ia menimba lagi, dan timba itu kembali penuh. Untuk ketiga kalinya ia menimba, dan lagi-lagi emas memenuhi timba.
Lalu Ibnu Hajar berkata, “Aku memilih hidup sederhana atas kehendakku sendiri. Bagiku, harta dunia itu singgah sebentar, rasanya pahit, dan pesonanya menipu.
Sekarang pilihlah, kembalikan semua emas ini ke dalam sumur dan tetaplah menjadi istriku, atau ambil semuanya dan pulanglah ke rumah orang tuamu, lalu terimalah talak dariku.”
Sang istri mencoba merayu. Satu timba saja. Dua timba saja. Bahkan satu dinar pun cukup. Namun jawaban Ibnu Hajar tetap tegas—tidak.
Air mata pun mengalir. Dengan hati bergetar, ia mengembalikan seluruh emas itu ke dalam sumur. “Aku tidak ingin berpisah darimu. Kita telah mengarungi bahtera rumah tangga bertahun-tahun. Aku akan bersabar dan tidak tergoda oleh gemerlap dunia.”
Sejak hari itu, cinta mereka kian menguat. Bukan karena emas yang melimpah, melainkan karena kesetiaan yang dipilih. Ibnu Hajar menyembunyikan karamah itu dalam kesederhanaan, sementara istrinya menemukan kekayaan sejati dalam kebersamaan dan keteguhan hati.
Kisah ini disarikan dari Al-Fawaid Al-Mukhtarah li Salik Tariq al-Akhirah karya Al-Habib Zein Smith, halaman 378–380.
Semoga ia menjadi pengingat bahwa cinta sejati bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa tulus yang dipilih untuk dipertahankan.
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Sumber : @Citra Islam
0 komentar:
Posting Komentar