Kisah Manusia Sholeh yang Allah Sembunyikan dari Dunia
Diriwayatkan,
bahwa Nabi Sulaiman as. pernah melakukan perjalanan di antara langit dan bumi
hingga sampailah Beliau di sebuah lautan yang dalam.
Beliau
melihat di laut itu ada ombak yang hebat. Lalu Beliau memerintahkan kepada
angin supaya tenang, maka angin pun menjadi tenang. Kemudian Beliau menyuruh
seorang jin ifrit supaya menyelam ke dalam laut itu. Maka jin ifrit itu
pun menyelam ke dalam laut. Ketika ia sampai ke dasar laut, tampak olehnya
sebuah kubah yang terbuat dari mutiara putih yang tidak berlubang.
Kemudian benda itu dikeluarkannya dan diletakkannya di hadapan Nabi
Sulaiman as. Melihat benda itu, Beliau merasa heran dan kagum, lalu Beliau
berdoa kepada Allah, sehingga terbukalah pintu kubah itu.
Ternyata
di dalamnya ada seorang anak muda yang sedang bersujud. Maka Nabi Sulaiman
as. bertanya kepadanya : “Wahai anak muda, siapakah engkau, apakah engkau
dari golongan malaikat, atau jin, atau manusia?".
Anak
muda itu menjawab : “Saya adalah manusia”.
Nabi
Sulaiman as. bertanya pula : “Dengan sebab apakah engkau berhasil
mencapai kemuliaan seperti ini?”.
Anak
muda itu menjawab : “Dengan sebab berbuat baik kepada kedua ibu-bapak. Ketika
dahulu, ibu saya telah tua renta, saya menggendongnya di atas punggungku. Dan
beliau selalu berdoa untukku : “Ya Allah, anugerahilah dia rasa puas, dan jadikanlah
tempatnya sesudah wafatku, di suatu tempat, bukan di bumi dan bukan pula di
langit”. Setelah ibuku meninggal dunia, saya pergi berkeliling di suatu
pantai, lalu saya lihat di situ ada sebuah kubah dari mutiara putih.
Kemudian saya mendekatinya, sekonyong-konyong kubah itu terbuka untukku,
maka saya pun masuk ke dalamnya.
Lantas,
dengan seizin Allah Taala, kubah itu menutup kembali. Sejak itu, saya
tidak tahu, apakah saya berada di angkasa atau pun di bumi. Namun, dalam kubah
itu, Allah telah menyediakan rezeki untukku”.
Nabi
Sulaiman as. bertanya : “Bagaimana Allah memberi rezeki di dalamnya ?”.
Anak
muda itu menjawab : “Apabila saya merasa lapar, maka Allah menciptakan sebuah
pohon yang berbuah lebat. Dari buah itulah, Allah memberi rezeki
kepadaku. Dan apabila saya merasa haus, maka dari kubah itu keluar mata
air yang warnanya lebih putih daripada susu, dan rasanya lebih manis
daripada madu, serta lebih sejuk daripada es”.
Nabi
Sulaiman as. bertanya pula: “Bagaimana engkau mengetahui perbedaan malam dan
siang di dalamnya?”.
Anak
muda itu menjawab : “Apabila masuk waktu Subuh, maka menjadi putihlah warna
kubah itu, sehingga saya tahu bahwa hari telah siang. Dan apabila
matahari terbenam, kubah itu menjadi gelap, sehingga saya pun tahu bahwa
malam telah tiba”
Kemudian
Nabi Sulaiman as. berdoa kepada Allah Taala, maka tertangkuplah kembali kubah
itu, sedang anak muda itu berada di dalamnya seperti semula.
Jejak Kenabian Pasca-Adam: Perjuangan Nabi Syits dan Nabi Idris dalam Menjaga Moralitas Umat
Sejarah
umat manusia tidak lepas dari bimbingan para nabi yang diutus untuk menjaga
tauhid dan memperbaiki akhlak. Dalam sebuah tausiyah yang disampaikan oleh
**Ustadz Abu Humairoh** melalui kanal YouTube "Kanal Masjid", beliau
mengulas secara mendalam kisah Nabi Syits AS dan Nabi Idris AS. Pembahasan ini
menjadi sangat relevan karena menelusuri akar sejarah munculnya berbagai
kemungkaran pertama di dunia, seperti pembunuhan, zina, hingga asal-usul
kesyirikan. Melalui artikel ini, kita akan memahami bagaimana para nabi
terdahulu berjuang mempertahankan nilai-nilai ketuhanan di tengah godaan iblis
yang terus mengintai anak cucu Adam.
**Pembahasan
Utama**
**Nabi
Syits: Sang "Hibatullah" Pengganti Habil**
Setelah
peristiwa pembunuhan Habil oleh Qobil—yang merupakan pembunuhan pertama dalam
sejarah manusia—Nabi Adam AS sangat berduka karena Habil adalah putra yang
mewarisi akhlak dan agamanya. Sebagai penghibur dan pengganti, Allah
menganugerahkan putra bernama Syits, yang dalam bahasa Ibrani berarti
**"Hibatullah"** atau pemberian Allah. Nabi Syits dididik langsung
oleh Adam AS dengan ilmu agama, akhlak mulia, serta amalan ibadah siang dan
malam.
Nabi
Syits memimpin kaumnya yang menetap di wilayah perbukitan, sementara keturunan
Qobil tinggal di wilayah lembah. Pada masa itu, penyimpangan akidah
(kesyirikan) belum terjadi; manusia masih mentauhidkan Allah, namun mulai
terjadi pembusukan akhlak di kalangan keturunan Qobil karena ketiadaan nabi
yang membimbing mereka.
**Awal
Mula Kemungkaran: Musik, Tabarruj, dan Zina**
Kerusakan
moral pertama kali muncul di kabilah Qobil yang berada di lembah. Tanpa
bimbingan agama, para wanita dari kaum Qobil mulai melakukan **tabarruj** atau
bersolek dan menampakkan aurat. Iblis kemudian memanfaatkan peluang ini dengan
menyamar sebagai manusia dan menciptakan alat musik pertama berupa seruling
untuk memalingkan manusia dari jalan Allah.
Suara
musik yang hingar-bingar dari lembah menarik perhatian para pemuda dari kaum
Nabi Syits di perbukitan yang memiliki paras tampan. Pertemuan antara pemuda
tampan dari kaum Syits dan wanita cantik yang bersolek dari kaum Qobil memicu
terjadinya **ikhtilat** (percampuran pria-wanita) dan berakhir pada perzinahan
pertama di alam semesta. Nabi Syits telah berupaya keras mendakwahi kaumnya dan
melarang mereka berinteraksi dengan kaum Qobil, sebuah perjuangan yang ia
teruskan hingga akhir hayatnya.
**Nabi
Idris: Pelopor Pena, Ilmu, dan Jihad**
Nabi
Idris AS, atau yang dikenal dengan nama Honuk, adalah nabi ketiga setelah Adam
dan Syits. Beliau dianugerahi kecerdasan luar biasa dan menjadi manusia pertama
yang mencatat menggunakan pena serta gemar membaca. Dalam sejarah kenabian,
Idris AS menerima 30 *suhuf* (lembaran wahyu) dari total 100 *suhuf* yang
diturunkan sebelum kitab-kitab besar lainnya.
Selain
dikenal karena ilmunya, Nabi Idris adalah nabi pertama yang melancarkan
**jihad** untuk memerangi kemungkaran kaum Qobil yang semakin rusak. Beliau
juga nabi pertama yang menawan musuh dan mengambil harta rampasan perang,
meskipun pada saat itu harta tersebut tidak boleh dimanfaatkan dan harus
diletakkan di bukit untuk dibakar oleh api langit sebagai tanda diterimanya
jihad tersebut. Al-Qur'an memuji beliau sebagai sosok yang jujur dan diangkat
ke tempat yang tinggi.
**Akar
Kesyirikan dan Munculnya Berhala**
Penyimpangan
akidah atau kesyirikan pertama kali tidak terjadi pada masa Nabi Idris,
melainkan sekitar 1.000 tahun setelah wafatnya beliau. Hal ini bermula dari
wafatnya orang-orang saleh dari keluarga Wadd, Suwa', Yaghuth, Ya'uq, dan Nasr.
Untuk mengenang kebaikan mereka, generasi awal membuat patung sebagai pengingat
ibadah. Namun, setan membisikkan kepada generasi-generasi berikutnya—yang sudah
kehilangan ilmu agama—bahwa nenek moyang mereka menyembah patung-patung
tersebut untuk meminta bantuan. Inilah awal mula penyembahan berhala di dunia
yang kemudian memicu diutusnya Rasul pertama, Nabi Nuh AS.
**Rangkuman
Detail / Intisari**
Berikut
adalah poin-poin utama dari sejarah Nabi Syits dan Nabi Idris:
**Nabi
Syits AS:** Diberikan Allah sebagai pengganti Habil; ia memimpin kaum di
perbukitan dan menjaga syariat Adam AS.
**Kemungkaran
Awal:** Musik (seruling), tabarruj, dan zina pertama kali muncul di kabilah
Qobil akibat campur tangan iblis.
**Wahyu
Suhuf:** Sebanyak 100 suhuf diturunkan, di mana Nabi Syits menerima 50 lembar
dan Nabi Idris menerima 30 lembar.
**Keutamaan
Nabi Idris AS:** Manusia pertama yang menulis dengan pena, melakukan jihad, dan
diangkat derajatnya oleh Allah.
**Munculnya
Syirik:** Kesyirikan baru muncul 1.000 tahun pasca-Idris karena penyimpangan
tujuan pembuatan patung orang saleh.
**Penutup**
Kisah
Nabi Syits dan Nabi Idris memberikan pelajaran berharga bahwa kerusakan moral
sering kali menjadi pintu masuk bagi kerusakan akidah. Iblis bekerja secara
bertahap, mulai dari menggoda manusia melalui musik dan pergaulan bebas, hingga
akhirnya menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesyirikan melalui pengultusan
tokoh. Pesan utama dari sejarah ini adalah pentingnya menjaga ilmu agama dan
bimbingan ulama agar generasi mendatang tidak kehilangan arah. Kita diharapkan
dapat mengambil hikmah untuk tetap teguh pada tauhid dan waspada terhadap
langkah-langkah setan yang sering kali dimulai dari hal-hal yang tampak kecil.
Wallahu’alam
Abu Mihjan Al-Tsaqafi : Sang Pemabuk Pengejar Syahid
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab (636M) terjadilah peperangan melawan bangsa Persia. Khalifah Umar bin Khattab menunjuk sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai komandan utama dengan didukung 4000 pasukan. Berita tentang panggilan jihad itu pun terdengar oleh Abu Mihjan, namun karena dia seorang pemabuk, Khalifah Umar bin Khattab menyuruh agar Abu Mihjan diasingkan ke suatu tempat sebagai hukuman tambahan baginya.
Di tengah perjalanan ke tempat pengasingan nya, Abu Mihjan berhasil kabur dan menyusul pasukan muslim yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash ke Medan tempur Qadisiyah. Sesampainya di Qadisiyah, Abu Mihjan pun langsung menemui Sa’ad bin Abi Waqqash dan meminta izin untuk ikut berperang dan dia pun diizinkan.
Pada saat itu Sa’ad bin Waqqash sendiri tidak bisa turut serta didalam medan pertempuran langsung dikarenakan sedang menderita penyakit bisul di sekujur tubuhnya dan hanya bisa mengomandoi dari sebuah tenda di dataran yang agak tinggi sehingga dapat memberikan arahan terhadap pergerakan pasukan kaum muslimin.
Peperangan akhirnya pecah saat komandan utama yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash mengumandangkan takbir. Pertempuran sengit pun berlangsung, 4000 pasukan muslim melawan 130.000 pasukan Persia tentu bukan hal yang mudah, terbukti kaum muslimin sangat kewalahan.
Ditambah lagi pasukan Persia memakai strategi menggunakan gajah untuk menakut-nakuti kuda perang yang ditunggangi kaum muslimin, sehingga tidak berani untuk maju.
Setelah berlarut dalam pertempuran yang sangat sengit, akhirnya kedua belah pihak menarik mundur pasukannya untuk beristirahat dan mengatur ulang strategi. Di saat inilah godaan khamr menghampiri diri Abu Mihjan, karena tak kuasa menahan keinginan yang sudah berubah menjadi kebutuhannya tersebut, maka iapun meminumnya.
Mengetahui hal itu, Sa’ad bin Abi Waqqash menyuruh agar Abu Mihjan di kurung dan tidak diperkenankan ikut berperang. Di dalam kurungannya itu pun ia menyesali perbuatannya, sehingga ia pun bersyair untuk menutupi kesedihannya itu. Dalam syairnya itu ia berkata;
"Sedih
menyelimuti hatiku,
karena
aku terbelenggu di balik jeruji besi,
Bila
engkau melepaskan besi yang membelenggu diriku ini,
Niscaya
akan aku raih syahid dalam perang,
Diriku
kaya akan harta dan kawan,
Namun
kini mereka meninggalkan ku sebatang kara,
Tubuhku
kering karena sengatan matahari,
Kuperbaiki
timbangan yang rusak,
Hanya ampunan Allah yang kuharapkan. "
Syairnya itupun didengar oleh istri Sa’ad bin Waqqash. Abu Mihjan pun merayu dan memohon agar istri Sa’ad bin Waqqash itu mau melepaskan dirinya agar bisa ikut berperang bersama pasukan muslim dan dia berjanji jika tidak mendapatkan mati syahid di medan perang, maka ia akan kembali lagi ke dalam kurungannya tersebut.
Mendengar perkataan Abu Mihjan yang dipenuhi kesedihannya itupun, akhirnya istri Sa’ad bin Abi Waqqash melepaskannya dan memberikan kuda perang berwarna hitam milik suaminya yang bernama Balqa ‘.
Sementara itu di medan pertempuran, kaum muslimin tetap kesulitan menembus baris pertahanan musuh yang begitu rapat dan kokoh, meskipun bala bantuan telah berdatangan diantaranya pasukan dari Iraq yang dipimpin oleh Al-mutsanna dan pasukan dari yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid telah datang membantu, namun tetap saja formasi barisan musuh tidak bisa di pecah.
Di tengah kegentingan itulah tiba-tiba muncul seseorang yang menunggangi kuda berwarna hitam dan wajahnya ditutupi oleh kain berwarna hitam pula, sehingga hanya menyisakan kedua bola matanya saja. Orang itupun maju bagaikan singa yang kelaparan, menembus barisan pertahanan musuh dan mengobrak-abrik nya.
Terlihat jelas bahwa tidak ada rasa takut sedikitpun dari orang itu. Seluruh mata kaum muslimin yang ada di medan peperangan itupun memandangnya dengan penuh kagum dan bertanya-tanya siapakah orang tersebut. Dia adalah Abu Mihjan Al-Tsaqafi, ksatria pemabuk pengejar syahid.
Sa’ad bin Waqqash yang melihat hal itu pun sangat senang karena bantuan datang walaupun hanya dari satu orang saja, namun kekuatannya sebanding dengan seribu orang. Sa’ad bin Waqqash pun bergumam, “Jika Abu Mihjan tidak ada di dalam jeruji kurungannya, maka aku sangat yakin bahwa orang itu adalah dia, dan apabila Balqa’ tidak ada di kandangnya, maka aku sangat yakin bahwa kuda yang ditungganginya itu adalah Balqa’. “
Melihat barisan musuh yang mulai kocar-kacir, maka spontan pasukan inti muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid kembali semangat dan menggempur habis-habisan pasukan Persia. Hingga akhirnya pimpinan pasukan Persia bernama Rustum berhasil dibunuh oleh seorang prajurit muslim yang bernama Hilal bin Ullafah.
Kemenangan
pun Allah takdirkan ke pihak muslimin. Seusai peperangan tersebut, maka Abu
Mihjan kembali ke dalam kurungan dan menepati janjinya, dan bertobat dari
kebiasaan mabuknya.
Itulah kisah heroik Abu Mihjan Al-Tsaqafi, “sang pemabuk” pengejar syahid yang menjadi pahlawan bagi kemenangan kaum muslimin dalam Pertempuran.
Sumber : @Shabat Kisah
Hindun binti ‘Utbah : Wanita Pendendam dan Pembenci Rasulullah yg Mendapat Hidayah
Kisah Sayyidina Husain : Air Mata Rasulullah Saat Mendengar Kabar dari Jibril A.S
Air mata
Rasulullah SAW tak terbendung kala malaikat Jibril alaihisalam datang membawa
kabar duka tentang cucunya, Husain bin Ali Abi Thalib.
Dalam
sebuah riwayat dijelaskan:
Diceritakan
dari Ummi Salamah –radhiyallaahu ‘anhaa- beliau berkata: Adalah Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wasallam didalam rumahku, tiba-tiba masuklah Husain
radhiyallaahu ‘anhu kepada beliau. Maka aku memandang keduanya dari pintu.
Saat itu
Husain radhiyallaahu ‘anhu bermain-main diatas dada Nabi shallallaahu ‘alaihi
wasallam, sementara ditangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ada sebongkah
tanah, dan air mata beliau mengalir.
Dan
ketika Husain radhiyallaahu ‘anhu sudah keluar, maka aku pun masuk kepada
beliau, maka aku berkata: “Dengan bapakku dan dengan ibuku jadi tebusannya, aku
melihat engkau, ditangan engkau ada tanah sambil engkau menangis, maka
beliaupun bersabda kepadaku: “Ketika aku bersuka-cita dengannya sementara dia
diatas dadaku sambil bermain-main, maka datanglah Jibril ‘alaihissalaam
kepadaku. Dia memberiku tanah yang mana dia akan dibunuh diatasnya, maka karena
itulah aku menangis.
Dalam
kitab Nuuruzhzhalaam karya Syeikh Nawawi al Bantani halaman 35
Diceritakan,
sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberinya (Ummu Salamah)
sebuah botol yang di dalamnya ada tanah tempat dibunuhnya Husain. Botol
tersebut ditinggalkan di sisinya.
Hal itu
adalah ketika Jibril mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan dia
mengkhabarkan beliau bahwasanya Husain akan dibunuh diatas tanah ini, dan dia
(Jibril) memperlihatkan kepada beliau dari tanahnya bumi dimana Husain akan
dibunuh diatasnya, dan beliaupun mencium tanah tersebut seraya berkata: “Celaka
Karbala !”
Dan
beliau berkata kepada Ummu Salamah: “Jika tanah ini sudah menjadi darah, maka
cucuku, Husain dibunuh.”
Dan
suatu ketika (dilihatnya tanah menjadi darah) maka terperanjatlah Ummu Salamah.
Dia berkata kepada budak perempuannya: “Pergilah engkau kepasar. Lihatlah ada
berita apa (disana).”. (diapun pergi kepasar) dan kembali lagi kepada Ummu
Salamah. Dia berkata dengan gemetar: Husain bin Ali radhiyallaahu ‘anhu
dibunuh.”
beberapa
puluhan tahun kemudian ucapan Nabi SAW menjadi kenyataan. Tepat pada hari
Asyura’ (10 Muharram), Husain bin Ali radliyallahu anhu cucu Rasulullah gugur
syahid di tangan orang-orang yang dzalim.
Peristiwa
memilukan ini terjadi pada hari Jum’at 10 Muharram tahun 61 Hijriyyah. Kejadian
ini sangat memilukan, menyedihkan dan merupakan musibah yang sangat besar bagi
kaum muslimin.
Husain
adalah putra Ali dan Fatimah radliallahu anhuma cucu Rasulullah yang sangat
mirip dengan Nabi SAW baik fisik maupun akhlaknya. Husain bin Ali adalah
seorang pemimpin yang shaleh, bertakwa, wara’ dan zahid. Mengenai keutamaan
beliau dan saudaranya (al-Hasan bin Ali) Rasulullah shallallahu ‘alayhi
wasallam bersabda:
Maknanya:
“al-Hasan dan al-Husain adalah sayyid (pemimpin) para pemuda di surga”. (HR.
Tirmidzi).
Sumber : @Sahabat Kisah
Benci Dosanya, Rangkul Pelakunya” – Hikmah Lembut dari Abu Darda’ RA yang Menyentuh Hati

Uwaimir
bin Amir bin Malik bin Zaid bin Qaish Al-Anshari, yang lebih dikenal dengan
panggilan Abu Darda’ RA, adalah salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang dikenal
karena kebijaksanaan, kecerdikan, dan kelembutan nasihatnya. Ucapannya
menyejukkan hati, dan petuahnya menjadi obat bagi jiwa-jiwa yang sedang terluka
oleh kesalahan dan dosa.
Abu
Nu’aim Al-Ashfahani menggambarkan sosok mulia ini dengan penuh kekaguman: “Abu
Darda’ adalah seorang sahabat Rasulullah yang bijak dan cerdik. Nasihatnya
berlimpah, hikmah dan ilmunya menjadi obat bagi orang-orang yang terjangkiti
berbagai penyakit. Apabila ia berbicara, ia berani, menolak kebanggaan dunia,
dan mengumpulkan tingkatan-tingkatan akhirat.”
Kebijaksanaan
Abu Darda’ tidak hanya tampak dalam kata-kata indah, tetapi juga dalam sikapnya
saat menghadapi kesalahan orang lain.
Kisah
yang Mengajarkan Kelapangan Hati
Dikisahkan
dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani, suatu hari Abu
Darda’ melewati sekelompok orang yang sedang mencaci seorang lelaki karena
telah melakukan suatu dosa. Caci maki dan hinaan terlontar tanpa henti.
Melihat
hal itu, Abu Darda’ tidak ikut menyalahkan. Ia justru mendekat dan bertanya
dengan lembut, “Menurut kalian, seandainya kalian melihat seseorang terjatuh ke
dalam sumur, tidakkah kalian akan mengeluarkannya?”
Mereka
menjawab, “Tentu saja, iya.”
Abu
Darda’ pun berkata,
“Kalau
begitu, janganlah kalian mencaci saudaramu. Pujilah Allah yang telah menjaga
kalian dari terjatuh ke dalam maksiat yang sama.”
Orang-orang
itu terdiam. Lalu mereka bertanya, “Apakah engkau tidak membencinya?”
Abu
Darda’ menjawab dengan penuh hikmah,
“Aku
hanya membenci perbuatannya. Jika ia meninggalkan perbuatan itu, maka ia adalah
saudaraku.”
Kemudian
ia menambahkan nasihat yang begitu dalam, “Berdoalah kepada Allah di masa
senangmu, semoga Allah memperkenankan doamu di masa susahmu.”
Pelajaran
Berharga dari Seorang Sahabat Mulia
Dari
kisah ini, kita diajarkan satu prinsip besar dalam kehidupan beriman: Islam
tidak mengajarkan kita membenci manusia, tetapi membenci dosa dan maksiat. Kita
semua bukanlah manusia yang ma’shum, bukan pula terbebas dari kesalahan seperti
para nabi. Bisa jadi, hari ini kita melihat orang lain terjatuh dalam dosa,
namun esok hari kitalah yang diuji dengan kesalahan yang sama atau bahkan lebih
berat.
Karena
itu, sikap terbaik bukanlah mencaci atau merendahkan, melainkan bersyukur
kepada Allah karena telah menjaga kita, serta mendoakan saudara kita agar
diberi jalan kembali menuju kebaikan.
Penutup
Nasihat
Abu Darda’ RA mengajarkan bahwa kelembutan hati adalah bagian dari keimanan.
Membenci maksiat adalah kewajiban, tetapi merangkul pelakunya dengan doa dan
harapan adalah wujud kasih sayang seorang mukmin.
Semoga
kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga lisan, melapangkan hati, dan
selalu memuji Allah atas perlindungan-Nya dari dosa.
Wallahu
Ta’ala a’lam.
Abdurrahman Bin Auf : Pedagang Jujur Yang Lulus Ujian Kekayaan
Abdurrahman
bin Auf radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang termasuk
As-Sabiqunal Awwalun, orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Ia masuk
Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, jauh sebelum hijrah ke Madinah.
Di Makkah, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai pedagang yang kaya, Namun ketika tekanan dan siksaan terhadap kaum Muslimin semakin berat, ia memilih meninggalkan seluruh hartanya demi mempertahankan iman dan berhijrah bersama Rasulullah ﷺ.
Persaudaraan
di Madinah
Sesampainya
di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin
Rabi’ RA, seorang sahabat Anshar yang kaya dan dermawan. Sa’ad bin Rabi’
berkata: “Aku adalah orang Anshar yang paling kaya. Aku akan membagi dua
hartaku untukmu.” Namun Abdurrahman bin Auf menjawab dengan penuh kehormatan
dan tulus : “Barakallahu laka fi ahlika wa malika, tunjukkan aku di mana
pasar.” Ia tidak meminta harta, tidak bergantung pada manusia, tetapi
bertawakal penuh kepada Allah. Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 2048.
Keberkahan
dalam Bisnis
Abdurrahman
bin Auf mulai berdagang di pasar Bani Qainuqa’. Ia berdagang dengan kejujuran,
amanah, dan tanpa riba. Tidak lama kemudian, Allah memberkahi usahanya.
Suatu
hari Rasulullah ﷺ melihat bekas warna kuning (wewangian) pada tubuh Abdurrahman
bin Auf, lalu beliau bertanya. Abdurrahman menjawab bahwa ia telah menikah dan
memberikan mahar berupa emas seberat biji kurma. Rasulullah ﷺ bersabda : “Adakanlah
walimah walau hanya dengan seekor kambing.” Riwayat : HR. Al-Bukhari no.
2049, HR. Muslim no. 1427.
Kaya
Raya, Tapi Sangat Dermawan
Meski
menjadi salah satu sahabat terkaya, Abdurrahman bin Auf tak pernah menjadikan
harta sebagai tujuan hidup. Ia pernah : Menyedekahkan 700 ekor unta beserta
muatannya, membebaskan banyak budak, menyumbangkan harta besar untuk jihad dan
kaum fakir. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : “Abdurrahman
bin Auf akan masuk surga dengan merangkak. ”Perkataan ini bukan celaan, tetapi
peringatan bahwa banyaknya harta akan panjang hisabnya, hingga Abdurrahman bin
Auf sering menangis karena takut kepada Allah. Riwayat : HR. Ahmad (hadits
hasan menurut sebagian ulama).
Takut
Dunia, Rindu Akhirat ketika disajikan makanan mewah, Abdurrahman bin Auf pernah
menangis dan berkata : “Mush’ab bin ‘Umair lebih baik dariku, ia gugur dan
bahkan kafannya tidak cukup menutupi tubuhnya.”Ia khawatir jika kenikmatan
dunia disegerakan baginya, sementara sahabat-sahabatnya telah wafat dalam
kesederhanaan. Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 4042.
Kedudukan
Yang Sangat Mulia
Abdurrahman
bin Auf termasuk:
1. 10
sahabat yang dijamin masuk surga
2.
Sahabat yang hartanya menjadi penopang dakwah Islam
3.
Teladan bahwa kaya tidak identik dengan cinta dunia
Riwayat
10 sahabat dijamin surga : HR. At-Tirmidzi no. 3747 (hasan shahih).
Pelajaran
Besar dari Abdurrahman bin Auf
1.
Kekayaan bukan penghalang taqwa
2.
Bisnis bisa menjadi jalan ibadah
3. Harta
di tangan, bukan di hati
4.
Ikhlas dan jujur membuka pintu keberkahan
Abdurrahman
bin Auf mengajarkan kita : Bekerjalah sekuat tenaga, bertawakallah sepenuh
hati, dan jadikan harta sebagai jalan menuju Allah, bukan tujuan hidup. Semoga
Allah menjadikan kita seperti Abdurrahman bin Auf, diberi rezeki yang luas,
namun hati tetap tunduk dan ringan bersedekah.
Sumber : @Majelis Tausiyah Cinta
Zuljanah : Kuda Imam Husain Yang Setia Hingga Akhir
Semua
sumber sejarah awal baik yang ditulis oleh sejarawan Muslim Sunni maupun
riwayat yang berkembang di kalangan Syiah sepakat bahwa Imam Husain bin Ali
memiliki seekor kuda yang menemaninya pada hari Asyura di Karbala (61 H).
Beberapa
riwayat sejarah paling tua, seperti Tarikh al-Tabari dan Ansab al-Asyraf,
menyebut bahwa kuda itu bernama Al-Murtajiz. Sementara itu, dalam tradisi Ahlul
Bait dan karya sastra setelahnya, kuda ini dikenal luas dengan nama Zuljanah.
Kedua
nama tersebut tidak bertentangan karena menggambarkan kuda yang sama dari dua
tradisi penamaan yang berbeda.
𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵?
Zuljanah
adalah kuda perang Arab yang kuat, tangguh, dan setia. Menjadi tunggangan
Husain pada perjalanan dari Makkah hingga Karbala. Mengantar Husain pada
hari-hari terakhirnya. Menjadi saksi bisu tragedi paling memilukan dalam
sejarah umat.
Nama
“Zuljanah” hidup kuat dalam budaya dan ingatan umat Muslim sebagai simbol
kesetiaan yang tidak tergoyahkan.
𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶𝘄𝗮 𝗞𝗮𝗿𝗯𝗮𝗹𝗮 — 𝗣𝗲𝗻𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗨𝘁𝗮𝗺𝗮
Bagian
ini merupakan inti dari kisah Zuljanah. Riwayat-riwayat sejarah lintas mazhab
menegaskan sejumlah momen penting yang melibatkan kuda Husain pada hari Asyura.
𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗛𝘂𝘀𝗮𝗶𝗻 𝗸𝗲 𝗠𝗲𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿
Ketika
Husain bersiap menuju medan pertempuran, ia menaiki kudanya. Sumber sejarah
sepakat bahwa kuda itu tetap tenang, seolah memahami bahwa tuannya sedang
menghadapi situasi yang sangat berat.
Husain
mengusap leher kudanya, menenangkan hewan itu lalu berangkat dengan penuh
keteguhan. Kedekatan ini menjadi simbol hubungan antara manusia mulia dan hewan
yang setia.
𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗞𝗼𝗸𝗼𝗵 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴
Riwayat
dari Tabari dan Abu Mikhnaf menggambarkan bagaimana Husain dikepung dari
berbagai sisi. Pada saat itu, kuda Husain memainkan peran penting: Tetap
berdiri meskipun rentetan serangan dating, bergerak memutar untuk melindungi
sisi-sisi tubuh Husain, menolak bergerak mundur walau situasi semakin genting.
Kuda Arab dikenal sangat loyal pada penunggangnya, dan riwayat-riwayat itu
menggambarkan kesetiaan itu dengan jelas.
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗛𝘂𝘀𝗮𝗶𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝘁𝘂𝗵
Pada
fase paling kritis, tubuh Husain yang penuh luka jatuh dari punggung kudanya.
Sumber-sumber sejarah tidak menggambarkan dramatisasi berlebihan, tetapi
menyampaikan satu fakta yang sangat menyentuh: Kuda itu tidak langsung pergi,
Ia tetap berdiri di sisi tuannya. Bahkan tampak enggan meninggalkan Husain
meski pasukan memukulnya agar menjauh. Inilah momen paling menggetarkan, seekor
hewan yang tidak bisa bicara, tetapi tindakan dan gerakannya menunjukkan
kesetiaan absolut.
𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗲 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗵 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗟𝘂𝗸𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗿𝗮𝗵
Hampir
semua riwayat menyebutkan satu adegan yang konsisten: Kuda Husain kembali ke
kemah keluarga tanpa penunggang, tubuhnya terluka, pelananya berlumuran darah,
Ia meringkik keras, memicu kepanikan di dalam tenda. Inilah bagian yang paling
banyak dicatat sejarawan, karena menjadi pertanda bagi keluarga bahwa tragedi
besar telah terjadi. Peristiwa ini bersifat lintas-mazhab, dicatat oleh: Abu
Mikhnaf, Al-Baladzuri, Narasi sejarah umum Ahlul Bait, Sastrawan abad-abad
setelahnya. Momen ini menjadikan Zuljanah simbol kesetiaan, duka, dan kejujuran
hati seekor hewan.
𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗞𝗲𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗮𝗻
Terlepas
dari perbedaan penamaan, Zuljanah diakui sebagai: pendamping perjuangan, saksi
mata jatuhnya Husain, dan makhluk yang setia hingga detik terakhir.
Dalam
budaya Islam, nama Zuljanah hidup terus dalam: prosesi Muharram, syair-syair
Karbala, tradisi Persia, Urdu, Arab, serta seni visual kontemporer.
Kesetiaan
kuda ini menjadi bagian dari warisan emosional umat Muslim selama lebih dari
1.300 tahun. Zuljanah menjadi lambang kesetiaan yang melampaui kata-kata, dan
bagian tak terpisahkan dari kisah pengorbanan Husain di Karbala.
Sumber : @Musliminsight
Kisah Syahidnya Sayidina Hasan Cucu Rasulullah
Hasan
bin Ali meninggal dunia dalam situasi perseteruan kaum Muslimin dengan
sesamanya karena badai politik yang berkepanjangan. Pada 10 Muharam 61 Hijriyah
atau 10 Oktober 680 Masehi, Husein, anak kedua Ali bin Abi Thalib wafat di
Karbala dalam sebuah pembantaian yang dilakukan rezim Yazid bin Muawiyah.
Beberapa
tahun sebelumnya, yakni pada 28 Safar 50 Hijriyah, atau 1 April 670 Masehi,
tepat hari ini 1351 tahun silam, Hasan, kakak Husein, meninggal dunia di
Madinah karena diracun. Pungkas hayat kakak beradik cucu kesayangan Rasulullah
ini tak lepas dari pusaran pertikaian dalam dunia Islam setelah Rasulullah dan
tiga khalifah meninggal dunia. Berbeda dengan Husein yang terus menuju Kufah
meski marabahaya mengintainya, sang kakak justru memilih menghindari peperangan
dengan kubu Muawiyah demi persatuan umat Islam.
Para
sejarawan menilai sikap Hasan yang lebih lunak daripada Husein adalah dari
sabda Rasulullah yang berdoa kepada Allah agar cucunya tersebut menjadi orang
yang mendamaikan dua golongan kaum Muslimin.
Hasan
dibaiat menjadi khalifah setelah ayahnya, Ali bin Abi Thalib, meninggal dunia
karena dibunuh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Khawarij itu
menebaskan pedangnya saat khalifah keempat tersebut tengah menunaikan salat
Subuh.
Diangkatnya
Hasan sebagai khalifah tentu membuat Muawiyah tidak setuju, sebab keturunan
Umayyah tersebut telah melakukan pemberontakan sejak khalifah Ali bin Abi
Thalib. Ia berambisi menduduki puncak pimpinan kaum Muslimin.
Sadar
posisinya diincar, Muawiyah yang berkedudukan di Damaskus, Syam, Hasan justru
secara persuasif menulis surat kepada Muawiyah. Ia memilih tidak menyerbu
kekuatan oposisi.
“Janganlah
engkau terus-menerus terbenam di dalam kebatilan dan kesesatan. Bergabunglah
dengan orang-orang yang telah menyatakan baiat kepadaku. Sebenarnya engkau
telah mengetahui, bahwa aku lebih berhak menempati kedudukan sebagai pemimpin
umat Islam. Lindungilah dirimu dari siksa Allah dan tinggalkanlah perbuatan
durhaka. Hentikanlah pertumpahan darah, sudah cukup banyak darah mengalir yang
harus kau pikul tanggungjawabnya di akhirat kelak. Nyatakanlah kesetiaanmu
kepadaku dan janganlah engkau menuntut sesuatu yang bukan hakmu, demi kerukunan
dan persatuan umat Islam,” tulis Hasan seperti dikutip Al-Hamid Al-Husaini
dalam Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya
(1978).
Surat
tersebut jelas menggambarkan Hasan sebagai orang yang lebih suka menghindari
pertikaian dan pertumpahan darah. Ia juga menekankan pentingnya kerukunan dan
persatuan umat Islam.
Namun,
Muawiyah yang sudah makan asam garam dalam dunia politik, serta telah
mengobarkan peperangan demi posisi khalifah sejak zaman Ali, jelas menolak
mentah-mentah permintaan Hasan.
“Jika
aku yakin bahwa engkau lebih tepat menjadi pemimpin daripada diriku, dan jika
aku yakin bahwa engkau sanggup menjalankan politik untuk memperkuat kaum
Muslimin dan melemahkan kekuatan musuh, tentu kedudukan khalifah akan
kuserahkan kepadamu,” balasnya.
Jawaban
tersebut jelas bukan yang diharapkan Hasan. Apalagi tak lama setelah itu,
Muawiyah menyiapkan ribuan pasukan perang yang hendak ia bawa ke Kufah untuk
menggempur kekuatan Hasan sebagai khalifah.
Sebagai
seorang pemimpin, Hasan lebih menyukai perdamaian. Tapi bukan berarti ia
berdiam diri saat mendapat ancaman untuk mengudetanya. Ia kemudian mengumpulkan
penduduk Kufah dan mengabarkan bahwa kotanya akan diserang pasukan Muawiyah
yang bergerak dari Syam.
Hasan
memerintahkan kepada setiap lelaki Kufah yang mampu berperang untuk bersiap
menghadapi ancaman tersebut. Sebuah dusun bernama Nukhailah dipilih Hasan
sebagai markas pusat militer yang hendak melawan pasukan penyerbu dari Syam.
Pertempuran
antara Muawiyah dan Hasan bin Ali tidak terjadi dalam bentuk perang besar,
melainkan berakhir dengan Perjanjian Perdamaian (Amul Jama'ah) pada tahun 41 H
(661 M), di mana Hasan menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah untuk
menghindari pertumpahan darah lebih lanjut, mengakhiri Perang Saudara Islam
Pertama. Ini terjadi setelah Muawiyah menolak kekhalifahan Hasan, yang memimpin
pasukan ke Irak, namun moral pasukan Hasan menurun drastis karena pengkhianatan
dan serangan terhadapnya, sehingga Hasan memilih perdamaian dengan
syarat-syarat tertentu yang sebagian besar dilanggar oleh Muawiyah.
Pada 28
Safar tahun 50 Hijriyah, atau sebelas tahun sebelum kelak adiknya meninggal di
padang Karbala, Hasan wafat dalam usia 46. Beberapa saat sebelum mengembuskan
napasnya yang terakhir, Hasan berkata kepada Husein, adiknya.
“Tiga
kali aku pernah menderita keracunan, tetapi tidak sehebat yang kualami sekarang
ini,” ucapnya.
Husein
bertanya kepada kakaknya siapakah kiranya yang telah meracuninya. Namun, dengan
semangat persatuan Hasan menolak memberitahu orang yang telah meracuninya. Ia
khawatir adiknya yang berkarakter lebih keras daripada dirinya akan menuntut
balas sehingga akan terjadi pertumpahan darah sesama kaum Muslimin.
Al-Hamid
Al-Husaini menerangkan sebagian besar para penulis sejarah meyakini bahwa yang
meracun hasan adalah istrinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Al-Asy’ats atas
perintah Muawiyah dengan iming-iming uang sebesar 100.000 dinar.
Sumber : @Sahabat Kisah
Doa Nabi S.A.W Yang Menggetarkan Arsy Saat Perang Badar
Permohonan
Nabi Saat Di Perang Badar, Do’a Yang Menggetarkan Arsy Demi Tegaknya Kalimat
Tauhid
Menjelang
perang, Rasulullah SAW melihat perbandingan kekuatan yang sangat tidak
seimbang. 313 kaum Muslimin yang minim perlengkapan harus menghadapi 1.000
pasukan Quraisy dengan persenjataan lengkap. Beliau masuk ke dalam tenda
(al-’Arisy) dan terus menerus berdoa dengan penuh kepasrahan.
Rasulullah
SAW mengangkat kedua tangannya begitu tinggi ke arah kiblat hingga selendang
beliau terjatuh dari pundaknya. Beliau memohon dengan kalimat yang sangat
masyhur:
"Ya
Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau
janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok Islam ini,
niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini." (HR. Muslim no.
1763)
Saking
khusyuk dan emosionalnya permohonan tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang
menemani beliau merasa iba, lalu mengambil selendang yang jatuh dan
meletakkannya kembali ke pundak Rasulullah. Abu Bakar kemudian memegang pundak
beliau sambil berkata:
"Wahai
Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia pasti akan
menepati apa yang telah Dia janjikan kepadamu."
Allah
SWT langsung menjawab doa Nabi dengan menjanjikan bantuan ribuan malaikat, yang
kemudian diabadikan dalam Al-Qur'an.
"(Ingatlah),
ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu:
'Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu
malaikat yang datang berturut-turut'." (QS. Al-Anfal: 9)
Hikmah
dari Penjelasan Ulama:
Para
ulama, termasuk Imam An-Nawawi, menjelaskan bahwa perkataan Nabi "Engkau
tidak akan disembah lagi" bukanlah bentuk keraguan, melainkan bentuk
Ibtihal (permohonan yang sangat mendalam). Beliau menyadari bahwa kaum Muslimin
saat itu adalah satu-satunya penjaga tauhid di muka bumi. Jika mereka binasa,
maka syariat Allah akan terputus dari dunia.
Kesimpulan:
Peristiwa ini mengajarkan bahwa sekuat apa pun persiapan manusia, doa dan
sandaran total kepada Allah adalah kunci kemenangan sejati. Perang Badar bukan
hanya kemenangan fisik, tapi kemenangan iman atas keputusasaan. Allahu Akbar……
Sumber : @Sahabat Kisah
Kisah Pernikahan Mulia Rasulullah S.A.W dengan Khadijah R.A yang Penuh Hikmah
Dikutip
dari Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Nabi Muhammad
SAW merupakan pemuda yang memiliki akhlak baik dan bekerja sebagai pedagang,
sedangkan Khadijah RA merupakan seorang janda 40 tahun yang terpandang, cantik,
kaya, terhormat, dan dikenal sebagai pedagang yang sukses.
Pertemuan
pertama antara Khadijah RA dan Nabi Muhammad SAW terjadi ketika Khadijah RA
mempekerjakan Nabi Muhammad SAW untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Nabi
Muhammad SAW pun pergi ke Syam bersama pelayan Khadijah RA yang bernama
Maisarah. Mereka mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dari hasil
penjualan tersebut.
Maisarah
mengabarkan kepada Khadijah RA tentang sifat mulia, kecerdikan, dan kejujuran
Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut membuat Khadijah RA kagum dan tertarik dengan
Nabi Muhammad SAW.
Khadijah
RA meminta rekannya, Nafisah binti Munyah, untuk menemui Nabi Muhammad SAW dan
membuka jalan agar beliau mau menikah dengannya. Nabi Muhammad SAW pun menerima
tawaran tersebut dan menemui paman-pamannya. Kemudian paman Nabi Muhammad SAW
menemui paman Khadijah RA untuk mengajukan lamaran.
Setelah
semua dianggap selesai, maka pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah pun
dilaksanakan dengan maskawin 20 ekor unta.
Khadijah
RA adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak pernah
menikahi wanita lain sampai Khadijah RA meninggal.
Ali
Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya Sirah Nabawiyah Jilid 1 mengemukakan,
pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA mendapat karunia dua anak
laki-laki dan empat anak perempuan.
Anak
pertama laki-laki bernama Al-Qasim dan anak kedua bernama Abdullah. Mereka
wafat pada saat masih kecil. Adapun, anak perempuan mereka bernama Zainab,
Ruqayah, Ummu Kultsum, da Fathimah. Mereka semua masuk Islam dan ikut hijrah ke
Madinah serta menikah.
Masih
mengutip dari sumber buku yang sama, bahwa dari kisah pernikahan Nabi Muhammad
SAW dengan Khadijah RA di atas memiliki beberapa hikmah, di antaranya:
Berdagang
dengan Cara Amanah dan Jujur
Nabi
Muhammad SAW dan Khadijah RA menerapkan cara untuk berdagang dengan amanah dan
jujur. Hal tersebut memberikan keuntungan yang cukup besar. Allah SWT
menganugerahkan berkah kepada Khadijah melalui usaha yang dijalankan oleh Nabi
Muhammad SAW.
Berdagang
Merupakan Sumber Penghasilan atau Rezeki
Nabi
Muhammad SAW sebelum diutus menjadi nabi dan rasul melakukan kegiatan berdagang
untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau selalu mempelajari dunia bisnis dari
pamannya.
Pernikahan
Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA adalah takdir Allah SWT
Allah
SWT telah memilih Khadijah RA untuk dijadikan istri Nabi Muhammad SAW. Khadijah
RA diharapkan akan meringankan beban kehidupan ekonomi Nabi Muhammad SAW dan
membantu beliau dalam mengemban Islam, serta menemani duka Nabi Muhammad SAW.
Pernikahan
Bukan Sekadar untuk Kenikmatan Biologis
Nabi
Muhammad SAW menikahi Khadijah RA yang berusia 40 tahun, yakni lebih tua dari
usia Nabi Muhammad SAW. Beliau menikah dengan Khadijah RA karena dia adalah
wanita terhormat dan terpandang di tengah kaumnya. Khadijah RA juga memiliki
predikat sebagai wanita suci dan terjaga kehormatannya.
Terdapat
hikmah dibalik wafatnya kedua putra mereka yang belum menginjak dewasa. Allah
SWT telah menganugerahkan mereka anak laki-laki agar tidak menjadi bahan cemooh
karena tidak bisa memberikan keturunan anak laki-laki.
Meskipun
Nabi Muhammad SAW dan Khadijah RA mendapatkan ujian berat ini, mereka tetap
tabah menerimanya karena hal ini merupakan cobaan yang diberikan oleh Allah
SWT.
Sumber :
@Sahabat Kisah
Isra' Mi'raj : Menembus Batas Kemampuan Makhluk Manapun Menerima Hadiah Sholat dibawah Sidratul Muntaha
Di Bawah
Sidratul Muntaha: Hadiah Salat untuk Umat Nabi Muhammad ﷺ
Saat
Rasulullah ﷺ tiba di langit ketujuh dan bertemu dengan Nabi Ibrahim عليه السلام,
perjalanan Mi’raj belum berakhir. Dari sana, beliau melanjutkan langkah menuju
Sidratul Muntaha—batas tertinggi yang menjadi puncak perjalanan ruhani Nabi
Muhammad ﷺ.
Sidratul
Muntaha digambarkan sebagai sebuah pohon agung yang menandai akhir pengetahuan
makhluk. Dari tunas-tunasnya mengalir empat sungai; dua mengalir menuju surga,
dan dua lainnya mengalir ke bumi. Daun-daunnya selebar telinga gajah, dan di
sekitarnya tampak keindahan yang tak terlukiskan, dihiasi cahaya serta kilau
yang memancarkan kemuliaan Ilahi.
Namun,
perjalanan menuju Sidratul Muntaha ini tidak ditemani oleh Malaikat Jibril عليه
السلام. Jibril berhenti di langit ketujuh dan berkata,
“Batas
kemampuanku hanya sampai di sini. Jika aku melangkah lebih jauh, aku akan
hancur.”
Maka
Rasulullah ﷺ melangkah sendiri, menembus batas yang tak mampu dijangkau makhluk
lain.
Ketika
sampai di Sidratul Muntaha, Rasulullah ﷺ merasa bingung bagaimana mengucapkan
salam kepada Allah ﷻ. Dalam kebingungan itu, Allah ﷻ mewahyukan kepada beliau
kalimat salam. Maka Rasulullah ﷺ pun mengucapkan:
“At-taḥiyyātu,
al-mubārakātu, aṣ-ṣalawātu, aṭ-ṭayyibātu lillāh.”
(Segala
penghormatan, keberkahan, salawat, dan kebaikan hanyalah milik Allah.)
Allah ﷻ
kemudian menjawab:
“As-salāmu
‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh.”
(Salam
sejahtera, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu, wahai Nabi.)
Mendengar
jawaban salam dari Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ teringat kepada umatnya. Dengan penuh
kasih, beliau menjawab:
“As-salāmu
‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn.”
(Kesejahteraan
semoga tercurah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh.)
Betapa
besar kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Bahkan di puncak pertemuannya
dengan Allah ﷻ, beliau tidak melupakan kita. Lebih dari seribu empat ratus
tahun yang lalu, nama umatnya telah disertakan dalam doa beliau di Sidratul
Muntaha.
Setelah
itu, Rasulullah ﷺ menerima perintah agung dari Allah ﷻ: kewajiban salat bagi
umat Islam sebanyak lima puluh waktu dalam sehari.
Beliau
pun turun kembali ke langit ketujuh dan melihat Nabi Ibrahim عليه السلام
bersandar di Baitul Ma’mur. Perjalanan dilanjutkan ke langit keenam, di mana
beliau bertemu dengan Nabi Musa عليه السلام.
Nabi
Musa bertanya,
“Wahai
Muhammad, apakah yang engkau dapatkan dari Tuhanmu?”
Rasulullah
ﷺ menjawab,
“Aku
diperintahkan untuk melaksanakan salat lima puluh waktu dalam sehari.”
Nabi
Musa berkata dengan penuh keprihatinan,
“Sesungguhnya
aku telah menguji umatku, dan mereka tidak mampu memikul beban seberat itu.
Bagaimana dengan umatmu?”
Maka
Nabi Musa menyarankan Rasulullah ﷺ untuk kembali menghadap Allah ﷻ dan memohon
keringanan. Rasulullah ﷺ pun kembali ke Sidratul Muntaha. Setiap kali kembali,
Allah ﷻ mengurangi kewajiban itu lima waktu.
Hingga
sembilan kali Rasulullah ﷺ bolak-balik antara langit keenam dan Sidratul
Muntaha, memohon keringanan bagi umatnya. Akhirnya, Allah ﷻ menetapkan
kewajiban salat menjadi lima waktu dalam sehari.
Ketika
Rasulullah ﷺ kembali bertemu Nabi Musa, beliau kembali disarankan untuk meminta
keringanan. Namun Rasulullah ﷺ berkata dengan penuh rasa malu dan syukur,
“Aku
telah memohon hingga sembilan kali. Kini aku merasa malu kepada Tuhanku. Lima
waktu ini adalah ketetapan-Nya. Dan setiap satu waktu bernilai sepuluh pahala.”
Maka
lima waktu salat bagi umat Islam tetap bernilai lima puluh dalam timbangan
kebaikan.
Pada
malam 27 Rajab, Rasulullah ﷺ menerima hadiah terbesar bagi umatnya: kewajiban
salat lima waktu. Sebuah hadiah yang bukan sekadar perintah, melainkan jalan
untuk mendekat kepada Allah ﷻ.
Wahai
saudara-saudara yang dirahmati Allah, jangan pernah mengabaikan hadiah ini.
Karena
salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan
sendi-sendi agama. Dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan
sendi-sendi agama.
Wallāhu
a‘lam biṣ-ṣawāb.
Sumber : @Sepenggal Kisah



