Kisah Ulama Penakluk Singa tapi "Susis" (Suami Takut Istri)

Di abad ke-4 Hijriah, ada seorang ulama besar namanya Syekh Abul Hasan Alkaraqi yang tinggal di desa Kharakan, Persia. Beliau ini bukan kaleng-kaleng, soalnya tokoh gede kayak Ibnu Sina sama Jalaluddin Rumi aja ngefans banget sama kedalaman ilmu rohaninya. Orangnya bener-bener jentel, zuhud, dan hatinya lembut parah.

Tapi nih, meskipun beliau dihormati banget, ternyata ujian hidupnya datang dari orang terdekat, yaitu istrinya sendiri. Istrinya ini tipe yang mulutnya pedas banget alias omongannya kasar tiap hari. Syekh sering dicaci maki gara-gara masalah sepele, bahkan direndahin di depan umum.

Bayangin aja, ribuan murid rela datang jauh-jauh cuma buat salim sama Syekh, tapi istrinya malah bilang kalau suaminya itu orang bodoh yang nggak guna.

Suatu hari, ada calon murid yang bela-belain datang dari negeri jauh buat nemuin Syekh. Eh, pas nyampe depan rumah, dia malah disambut teriakan kasar dari istrinya. Istrinya bilang, "Ngapain nyari orang bodoh itu? Dia cuma penipu, mending pulang aja!". Si murid langsung shock dan sedih banget dengernya.

Si murid akhirnya nyari Syekh ke hutan. Pas ketemu, dia makin melongo. Syekh lagi bawa kayu bakar, tapi di sampingnya ada seekor singa yang nemenin beliau. Singa itu nurut banget gara-gara karomah kesabaran beliau.

Si murid langsung nanya dengan bingung, "Guru, kok bisa Anda yang ditakuti singa tapi mau-mauanya dihina sama istri sendiri? Kenapa nggak dicerai aja biar hidup tenang?".

Mendengar itu, Syekh nggak marah sama sekali. Matanya berkaca-kaca karena rasa kasih sayang yang tulus. Beliau jawab begini: "Gini lho, aku milih bertahan karena aku takut kalau dia nikah sama orang lain yang nggak sesabar aku, orang itu mungkin bakal main tangan atau zalim karena nggak tahan sama omongannya.".

Beliau bilang kalau beliau milih jadi perisai buat istrinya. Syekh udah melatih hatinya biar nggak baperan sama omongan manusia. Harapannya simpel, kalau beliau bisa sabar sama luka yang dikasih istrinya, semoga Allah juga bakal sabar sama dosa-dosa beliau di hari kiamat nanti.

Sumber : @Kisah Sufisik
Share:

Kisah Manusia Sholeh yang Allah Sembunyikan dari Dunia

Diriwayatkan, bahwa Nabi Sulaiman as. pernah melakukan perjalanan di antara langit dan bumi hingga sampailah Beliau di sebuah lautan yang dalam.

Beliau melihat di laut itu ada ombak yang hebat. Lalu Beliau memerintahkan kepada angin supaya tenang, maka angin pun menjadi tenang. Kemudian Beliau menyuruh seorang jin ifrit supaya menyelam ke dalam laut itu. Maka jin ifrit itu pun menyelam ke dalam laut. Ketika ia sampai ke dasar laut, tampak olehnya sebuah kubah yang terbuat dari mutiara putih yang tidak berlubang. Kemudian benda itu dikeluarkannya dan diletakkannya di hadapan Nabi Sulaiman as. Melihat benda itu, Beliau merasa heran dan kagum, lalu Beliau berdoa kepada Allah, sehingga terbukalah pintu kubah itu. 

Ternyata di dalamnya ada seorang anak muda yang sedang bersujud. Maka Nabi Sulaiman as. bertanya kepadanya : “Wahai anak muda, siapakah engkau, apakah engkau dari golongan malaikat, atau jin, atau manusia?". 

Anak muda itu menjawab : “Saya adalah manusia”. 

Nabi Sulaiman as. bertanya pula : “Dengan sebab apakah engkau berhasil mencapai kemuliaan seperti ini?”. 

Anak muda itu menjawab : “Dengan sebab berbuat baik kepada kedua ibu-bapak. Ketika dahulu, ibu saya telah tua renta, saya menggendongnya di atas punggungku. Dan beliau selalu berdoa untukku : “Ya Allah, anugerahilah dia rasa puas, dan jadikanlah tempatnya sesudah wafatku, di suatu tempat, bukan di bumi dan bukan pula di langit”. Setelah ibuku meninggal dunia, saya pergi berkeliling di suatu pantai, lalu saya lihat di situ ada sebuah kubah dari mutiara putih. Kemudian saya mendekatinya, sekonyong-konyong kubah itu terbuka untukku, maka saya pun masuk ke dalamnya. 

Lantas, dengan seizin Allah Taala, kubah itu menutup kembali. Sejak itu, saya tidak tahu, apakah saya berada di angkasa atau pun di bumi. Namun, dalam kubah itu, Allah telah menyediakan rezeki untukku”. 

Nabi Sulaiman as. bertanya : “Bagaimana Allah memberi rezeki di dalamnya ?”. 

Anak muda itu menjawab : “Apabila saya merasa lapar, maka Allah menciptakan sebuah pohon yang berbuah lebat. Dari buah itulah, Allah memberi rezeki kepadaku. Dan apabila saya merasa haus, maka dari kubah itu keluar mata air yang warnanya lebih putih daripada susu, dan rasanya lebih manis daripada madu, serta lebih sejuk daripada es”. 

Nabi Sulaiman as. bertanya pula: “Bagaimana engkau mengetahui perbedaan malam dan siang di dalamnya?”. 

Anak muda itu menjawab : “Apabila masuk waktu Subuh, maka menjadi putihlah warna kubah itu, sehingga saya tahu bahwa hari telah siang. Dan apabila matahari terbenam, kubah itu menjadi gelap, sehingga saya pun tahu bahwa malam telah tiba”

Kemudian Nabi Sulaiman as. berdoa kepada Allah Taala, maka tertangkuplah kembali kubah itu, sedang anak muda itu berada di dalamnya seperti semula. 


Share:

Jejak Kenabian Pasca-Adam: Perjuangan Nabi Syits dan Nabi Idris dalam Menjaga Moralitas Umat

Sejarah umat manusia tidak lepas dari bimbingan para nabi yang diutus untuk menjaga tauhid dan memperbaiki akhlak. Dalam sebuah tausiyah yang disampaikan oleh **Ustadz Abu Humairoh** melalui kanal YouTube "Kanal Masjid", beliau mengulas secara mendalam kisah Nabi Syits AS dan Nabi Idris AS. Pembahasan ini menjadi sangat relevan karena menelusuri akar sejarah munculnya berbagai kemungkaran pertama di dunia, seperti pembunuhan, zina, hingga asal-usul kesyirikan. Melalui artikel ini, kita akan memahami bagaimana para nabi terdahulu berjuang mempertahankan nilai-nilai ketuhanan di tengah godaan iblis yang terus mengintai anak cucu Adam.

**Pembahasan Utama**

**Nabi Syits: Sang "Hibatullah" Pengganti Habil**

Setelah peristiwa pembunuhan Habil oleh Qobil—yang merupakan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia—Nabi Adam AS sangat berduka karena Habil adalah putra yang mewarisi akhlak dan agamanya. Sebagai penghibur dan pengganti, Allah menganugerahkan putra bernama Syits, yang dalam bahasa Ibrani berarti **"Hibatullah"** atau pemberian Allah. Nabi Syits dididik langsung oleh Adam AS dengan ilmu agama, akhlak mulia, serta amalan ibadah siang dan malam.

Nabi Syits memimpin kaumnya yang menetap di wilayah perbukitan, sementara keturunan Qobil tinggal di wilayah lembah. Pada masa itu, penyimpangan akidah (kesyirikan) belum terjadi; manusia masih mentauhidkan Allah, namun mulai terjadi pembusukan akhlak di kalangan keturunan Qobil karena ketiadaan nabi yang membimbing mereka.

**Awal Mula Kemungkaran: Musik, Tabarruj, dan Zina**

Kerusakan moral pertama kali muncul di kabilah Qobil yang berada di lembah. Tanpa bimbingan agama, para wanita dari kaum Qobil mulai melakukan **tabarruj** atau bersolek dan menampakkan aurat. Iblis kemudian memanfaatkan peluang ini dengan menyamar sebagai manusia dan menciptakan alat musik pertama berupa seruling untuk memalingkan manusia dari jalan Allah.

Suara musik yang hingar-bingar dari lembah menarik perhatian para pemuda dari kaum Nabi Syits di perbukitan yang memiliki paras tampan. Pertemuan antara pemuda tampan dari kaum Syits dan wanita cantik yang bersolek dari kaum Qobil memicu terjadinya **ikhtilat** (percampuran pria-wanita) dan berakhir pada perzinahan pertama di alam semesta. Nabi Syits telah berupaya keras mendakwahi kaumnya dan melarang mereka berinteraksi dengan kaum Qobil, sebuah perjuangan yang ia teruskan hingga akhir hayatnya.

**Nabi Idris: Pelopor Pena, Ilmu, dan Jihad**

Nabi Idris AS, atau yang dikenal dengan nama Honuk, adalah nabi ketiga setelah Adam dan Syits. Beliau dianugerahi kecerdasan luar biasa dan menjadi manusia pertama yang mencatat menggunakan pena serta gemar membaca. Dalam sejarah kenabian, Idris AS menerima 30 *suhuf* (lembaran wahyu) dari total 100 *suhuf* yang diturunkan sebelum kitab-kitab besar lainnya.

Selain dikenal karena ilmunya, Nabi Idris adalah nabi pertama yang melancarkan **jihad** untuk memerangi kemungkaran kaum Qobil yang semakin rusak. Beliau juga nabi pertama yang menawan musuh dan mengambil harta rampasan perang, meskipun pada saat itu harta tersebut tidak boleh dimanfaatkan dan harus diletakkan di bukit untuk dibakar oleh api langit sebagai tanda diterimanya jihad tersebut. Al-Qur'an memuji beliau sebagai sosok yang jujur dan diangkat ke tempat yang tinggi.

**Akar Kesyirikan dan Munculnya Berhala**

Penyimpangan akidah atau kesyirikan pertama kali tidak terjadi pada masa Nabi Idris, melainkan sekitar 1.000 tahun setelah wafatnya beliau. Hal ini bermula dari wafatnya orang-orang saleh dari keluarga Wadd, Suwa', Yaghuth, Ya'uq, dan Nasr. Untuk mengenang kebaikan mereka, generasi awal membuat patung sebagai pengingat ibadah. Namun, setan membisikkan kepada generasi-generasi berikutnya—yang sudah kehilangan ilmu agama—bahwa nenek moyang mereka menyembah patung-patung tersebut untuk meminta bantuan. Inilah awal mula penyembahan berhala di dunia yang kemudian memicu diutusnya Rasul pertama, Nabi Nuh AS.

**Rangkuman Detail / Intisari**

Berikut adalah poin-poin utama dari sejarah Nabi Syits dan Nabi Idris:

**Nabi Syits AS:** Diberikan Allah sebagai pengganti Habil; ia memimpin kaum di perbukitan dan menjaga syariat Adam AS.

**Kemungkaran Awal:** Musik (seruling), tabarruj, dan zina pertama kali muncul di kabilah Qobil akibat campur tangan iblis.

**Wahyu Suhuf:** Sebanyak 100 suhuf diturunkan, di mana Nabi Syits menerima 50 lembar dan Nabi Idris menerima 30 lembar.

**Keutamaan Nabi Idris AS:** Manusia pertama yang menulis dengan pena, melakukan jihad, dan diangkat derajatnya oleh Allah.

**Munculnya Syirik:** Kesyirikan baru muncul 1.000 tahun pasca-Idris karena penyimpangan tujuan pembuatan patung orang saleh.

**Penutup**

Kisah Nabi Syits dan Nabi Idris memberikan pelajaran berharga bahwa kerusakan moral sering kali menjadi pintu masuk bagi kerusakan akidah. Iblis bekerja secara bertahap, mulai dari menggoda manusia melalui musik dan pergaulan bebas, hingga akhirnya menjerumuskan manusia ke dalam jurang kesyirikan melalui pengultusan tokoh. Pesan utama dari sejarah ini adalah pentingnya menjaga ilmu agama dan bimbingan ulama agar generasi mendatang tidak kehilangan arah. Kita diharapkan dapat mengambil hikmah untuk tetap teguh pada tauhid dan waspada terhadap langkah-langkah setan yang sering kali dimulai dari hal-hal yang tampak kecil.

Wallahu’alam

Share:

Abu Mihjan Al-Tsaqafi : Sang Pemabuk Pengejar Syahid

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab (636M) terjadilah peperangan melawan bangsa Persia. Khalifah Umar bin Khattab menunjuk sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai komandan utama dengan didukung 4000 pasukan. Berita tentang panggilan jihad itu pun terdengar oleh Abu Mihjan, namun karena dia seorang pemabuk, Khalifah Umar bin Khattab menyuruh agar Abu Mihjan diasingkan ke suatu tempat sebagai hukuman tambahan baginya.

Di tengah perjalanan ke tempat pengasingan nya, Abu Mihjan berhasil kabur dan menyusul pasukan muslim yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash ke Medan tempur Qadisiyah. Sesampainya di Qadisiyah, Abu Mihjan pun langsung menemui Sa’ad bin Abi Waqqash dan meminta izin untuk ikut berperang dan dia pun diizinkan.

Pada saat itu Sa’ad bin Waqqash sendiri tidak bisa turut serta didalam medan pertempuran langsung dikarenakan sedang menderita penyakit bisul di sekujur tubuhnya dan hanya bisa mengomandoi dari sebuah tenda di dataran yang agak tinggi sehingga dapat memberikan arahan terhadap pergerakan pasukan kaum muslimin.

Peperangan akhirnya pecah saat komandan utama yaitu Sa’ad bin Abi Waqqash mengumandangkan takbir. Pertempuran sengit pun berlangsung, 4000 pasukan muslim melawan 130.000 pasukan Persia tentu bukan hal yang mudah, terbukti kaum muslimin sangat kewalahan.

Ditambah lagi pasukan Persia memakai strategi menggunakan gajah untuk menakut-nakuti kuda perang yang ditunggangi kaum muslimin, sehingga tidak berani untuk maju.

Setelah berlarut dalam pertempuran yang sangat sengit, akhirnya kedua belah pihak menarik mundur pasukannya untuk beristirahat dan mengatur ulang strategi. Di saat inilah godaan khamr menghampiri diri Abu Mihjan, karena tak kuasa menahan keinginan yang sudah berubah menjadi kebutuhannya tersebut, maka iapun meminumnya.

Mengetahui hal itu, Sa’ad bin Abi Waqqash menyuruh agar Abu Mihjan di kurung dan tidak diperkenankan ikut berperang. Di dalam kurungannya itu pun ia menyesali perbuatannya, sehingga ia pun bersyair untuk menutupi kesedihannya itu. Dalam syairnya itu ia berkata;

"Sedih menyelimuti hatiku,

karena aku terbelenggu di balik jeruji besi,

Bila engkau melepaskan besi yang membelenggu diriku ini,

Niscaya akan aku raih syahid dalam perang,

Diriku kaya akan harta dan kawan,

Namun kini mereka meninggalkan ku sebatang kara,

Tubuhku kering karena sengatan matahari,

Kuperbaiki timbangan yang rusak,

Hanya ampunan Allah yang kuharapkan. "

Syairnya itupun didengar oleh istri Sa’ad bin Waqqash. Abu Mihjan pun merayu dan memohon agar istri Sa’ad bin Waqqash itu mau melepaskan dirinya agar bisa ikut berperang bersama pasukan muslim dan dia berjanji jika tidak mendapatkan mati syahid di medan perang, maka ia akan kembali lagi ke dalam kurungannya tersebut.

Mendengar perkataan Abu Mihjan yang dipenuhi kesedihannya itupun, akhirnya istri Sa’ad bin Abi Waqqash melepaskannya dan memberikan kuda perang berwarna hitam milik suaminya yang bernama Balqa ‘.

Sementara itu di medan pertempuran, kaum muslimin tetap kesulitan menembus baris pertahanan musuh yang begitu rapat dan kokoh, meskipun bala bantuan telah berdatangan diantaranya pasukan dari Iraq yang dipimpin oleh Al-mutsanna dan pasukan dari yarmuk yang dipimpin oleh Khalid bin Walid telah datang membantu, namun tetap saja formasi barisan musuh tidak bisa di pecah.

Di tengah kegentingan itulah tiba-tiba muncul seseorang yang menunggangi kuda berwarna hitam dan wajahnya ditutupi oleh kain berwarna hitam pula, sehingga hanya menyisakan kedua bola matanya saja. Orang itupun maju bagaikan singa yang kelaparan, menembus barisan pertahanan musuh dan mengobrak-abrik nya.

Terlihat jelas bahwa tidak ada rasa takut sedikitpun dari orang itu. Seluruh mata kaum muslimin yang ada di medan peperangan itupun memandangnya dengan penuh kagum dan bertanya-tanya siapakah orang tersebut. Dia adalah Abu Mihjan Al-Tsaqafi, ksatria pemabuk pengejar syahid.

Sa’ad bin Waqqash yang melihat hal itu pun sangat senang karena bantuan datang walaupun hanya dari satu orang saja, namun kekuatannya sebanding dengan seribu orang. Sa’ad bin Waqqash pun bergumam, “Jika Abu Mihjan tidak ada di dalam jeruji kurungannya, maka aku sangat yakin bahwa orang itu adalah dia, dan apabila Balqa’ tidak ada di kandangnya, maka aku sangat yakin bahwa kuda yang ditungganginya itu adalah Balqa’. “

Melihat barisan musuh yang mulai kocar-kacir, maka spontan pasukan inti muslim yang dipimpin oleh Khalid bin Walid kembali semangat dan menggempur habis-habisan pasukan Persia. Hingga akhirnya pimpinan pasukan Persia bernama Rustum berhasil dibunuh oleh seorang prajurit muslim yang bernama Hilal bin Ullafah.

Kemenangan pun Allah takdirkan ke pihak muslimin. Seusai peperangan tersebut, maka Abu Mihjan kembali ke dalam kurungan dan menepati janjinya, dan bertobat dari kebiasaan mabuknya. 

Itulah kisah heroik Abu Mihjan Al-Tsaqafi, “sang pemabuk” pengejar syahid yang menjadi pahlawan bagi kemenangan kaum muslimin dalam Pertempuran. 

Sumber : @Shabat Kisah

Share:

Hindun binti ‘Utbah : Wanita Pendendam dan Pembenci Rasulullah yg Mendapat Hidayah

Hindun binti ‘Utbah adalah istri Abu Sufyan, tokoh besar Quraisy Makkah. Ayahnya, ‘Utbah bin Rabi‘ah, dan keluarganya tewas dalam Perang Badar, dikalahkan oleh kaum Muslimin. 

Sejak saat itu, Hindun menyimpan dendam yang sangat dalam kepada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Puncak Kekejaman: Perang Uhud
Pada Perang Uhud, Hindun menjadi sosok yang sangat terkenal karena tindakan paling mengerikan dalam sejarah peperangan Arab saat itu.

Ia mengupah seorang budak bernama Wahsyi untuk membunuh Hamzah bin ‘Abdul Muththalib رضي الله عنه, paman Rasulullah ﷺ yang dijuluki Singa Allah.
👉 Wahsyi berhasil membunuh Hamzah dengan tombak.

Namun yang membuat Hindun dikenang sebagai wanita paling kejam adalah apa yang ia lakukan setelahnya:
Ia mutilasi jasad Hamzah
Hidung dan telinganya dipotong
Perut Hamzah dibelah
Hatinya diambil, dikunyah, lalu dimuntahkan.

Ia lalu memakai potongan tubuh Hamzah sebagai perhiasan
Perbuatan ini sangat mengejutkan bangsa Arab, karena bahkan dalam tradisi jahiliyah sekalipun, mutilasi jenazah adalah tindakan yang sangat hina.

Kebencian yang Membutakan Hati
Hindun bukan sekadar membenci, ia:
Menyanyikan syair kebencian
Menghasut kaum Quraisy
Menari di medan perang merayakan kematian Hamzah
Menjadikan kekejaman sebagai pelampiasan dendam.

Inilah sebabnya para sejarawan Muslim menyebutnya:
“Wanita paling kejam dalam sejarah Islam — sebelum hidayah datang kepadanya.”

Perubahan Tak Terduga: Masuk Islam
Namun kisah Hindun tidak berakhir di titik kelam itu.

Saat Fathu Makkah (Penaklukan Makkah), Rasulullah ﷺ memiliki kekuasaan penuh untuk membalas dendam. Banyak orang takut akan pembalasan, termasuk Hindun.

Tetapi Rasulullah ﷺ justru berkata:
“Pergilah, kalian semua bebas.”
Hindun datang menyamar, lalu bersyahadat di hadapan Rasulullah ﷺ. Ketika identitasnya terbongkar, para sahabat terdiam… menunggu keputusan Nabi.
Namun Rasulullah ﷺ menerima Islamnya dan tidak membalas dendam sedikit pun.

Hindun menangis dan berkata:
“Dulu tidak ada keluarga yang lebih aku benci daripada keluargamu, wahai Muhammad. Kini tidak ada keluarga yang lebih aku cintai selain keluargamu.”

Pelajaran Besar dari Kisah Ini
Kebencian dapat menjadikan manusia lebih kejam dari binatang
Islam menghapus dosa masa lalu
Hidayah bisa datang kepada siapa saja
Akhlak Rasulullah ﷺ lebih kuat daripada pedang. Wallahu a'lam 🙏

Sumber : @Pepatah Ulama Syalafi

Share:

Kisah Sayyidina Husain : Air Mata Rasulullah Saat Mendengar Kabar dari Jibril A.S

Air mata Rasulullah SAW tak terbendung kala malaikat Jibril alaihisalam datang membawa kabar duka tentang cucunya, Husain bin Ali Abi Thalib.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan:

Diceritakan dari Ummi Salamah –radhiyallaahu ‘anhaa- beliau berkata: Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam didalam rumahku, tiba-tiba masuklah Husain radhiyallaahu ‘anhu kepada beliau. Maka aku memandang keduanya dari pintu.

Saat itu Husain radhiyallaahu ‘anhu bermain-main diatas dada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, sementara ditangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ada sebongkah tanah, dan air mata beliau mengalir.

Dan ketika Husain radhiyallaahu ‘anhu sudah keluar, maka aku pun masuk kepada beliau, maka aku berkata: “Dengan bapakku dan dengan ibuku jadi tebusannya, aku melihat engkau, ditangan engkau ada tanah sambil engkau menangis, maka beliaupun bersabda kepadaku: “Ketika aku bersuka-cita dengannya sementara dia diatas dadaku sambil bermain-main, maka datanglah Jibril ‘alaihissalaam kepadaku. Dia memberiku tanah yang mana dia akan dibunuh diatasnya, maka karena itulah aku menangis.

Dalam kitab Nuuruzhzhalaam karya Syeikh Nawawi al Bantani halaman 35

Diceritakan, sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberinya (Ummu Salamah) sebuah botol yang di dalamnya ada tanah tempat dibunuhnya Husain. Botol tersebut ditinggalkan di sisinya.

Hal itu adalah ketika Jibril mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan dia mengkhabarkan beliau bahwasanya Husain akan dibunuh diatas tanah ini, dan dia (Jibril) memperlihatkan kepada beliau dari tanahnya bumi dimana Husain akan dibunuh diatasnya, dan beliaupun mencium tanah tersebut seraya berkata: “Celaka Karbala !”

Dan beliau berkata kepada Ummu Salamah: “Jika tanah ini sudah menjadi darah, maka cucuku, Husain dibunuh.”

Dan suatu ketika (dilihatnya tanah menjadi darah) maka terperanjatlah Ummu Salamah. Dia berkata kepada budak perempuannya: “Pergilah engkau kepasar. Lihatlah ada berita apa (disana).”. (diapun pergi kepasar) dan kembali lagi kepada Ummu Salamah. Dia berkata dengan gemetar: Husain bin Ali radhiyallaahu ‘anhu dibunuh.”

beberapa puluhan tahun kemudian ucapan Nabi SAW menjadi kenyataan. Tepat pada hari Asyura’ (10 Muharram), Husain bin Ali radliyallahu anhu cucu Rasulullah gugur syahid di tangan orang-orang yang dzalim.

Peristiwa memilukan ini terjadi pada hari Jum’at 10 Muharram tahun 61 Hijriyyah. Kejadian ini sangat memilukan, menyedihkan dan merupakan musibah yang sangat besar bagi kaum muslimin.

Husain adalah putra Ali dan Fatimah radliallahu anhuma cucu Rasulullah yang sangat mirip dengan Nabi SAW baik fisik maupun akhlaknya. Husain bin Ali adalah seorang pemimpin yang shaleh, bertakwa, wara’ dan zahid. Mengenai keutamaan beliau dan saudaranya (al-Hasan bin Ali) Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

Maknanya: “al-Hasan dan al-Husain adalah sayyid (pemimpin) para pemuda di surga”. (HR. Tirmidzi).

Sumber : @Sahabat Kisah

Share:

Benci Dosanya, Rangkul Pelakunya” – Hikmah Lembut dari Abu Darda’ RA yang Menyentuh Hati

Uwaimir bin Amir bin Malik bin Zaid bin Qaish Al-Anshari, yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Darda’ RA, adalah salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang dikenal karena kebijaksanaan, kecerdikan, dan kelembutan nasihatnya. Ucapannya menyejukkan hati, dan petuahnya menjadi obat bagi jiwa-jiwa yang sedang terluka oleh kesalahan dan dosa.

Abu Nu’aim Al-Ashfahani menggambarkan sosok mulia ini dengan penuh kekaguman: “Abu Darda’ adalah seorang sahabat Rasulullah yang bijak dan cerdik. Nasihatnya berlimpah, hikmah dan ilmunya menjadi obat bagi orang-orang yang terjangkiti berbagai penyakit. Apabila ia berbicara, ia berani, menolak kebanggaan dunia, dan mengumpulkan tingkatan-tingkatan akhirat.”


Kebijaksanaan Abu Darda’ tidak hanya tampak dalam kata-kata indah, tetapi juga dalam sikapnya saat menghadapi kesalahan orang lain.

Kisah yang Mengajarkan Kelapangan Hati

Dikisahkan dalam kitab Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim Al-Ashfahani, suatu hari Abu Darda’ melewati sekelompok orang yang sedang mencaci seorang lelaki karena telah melakukan suatu dosa. Caci maki dan hinaan terlontar tanpa henti.

Melihat hal itu, Abu Darda’ tidak ikut menyalahkan. Ia justru mendekat dan bertanya dengan lembut, “Menurut kalian, seandainya kalian melihat seseorang terjatuh ke dalam sumur, tidakkah kalian akan mengeluarkannya?”

Mereka menjawab, “Tentu saja, iya.”

Abu Darda’ pun berkata,

“Kalau begitu, janganlah kalian mencaci saudaramu. Pujilah Allah yang telah menjaga kalian dari terjatuh ke dalam maksiat yang sama.”

Orang-orang itu terdiam. Lalu mereka bertanya, “Apakah engkau tidak membencinya?”

Abu Darda’ menjawab dengan penuh hikmah,

“Aku hanya membenci perbuatannya. Jika ia meninggalkan perbuatan itu, maka ia adalah saudaraku.”

Kemudian ia menambahkan nasihat yang begitu dalam, “Berdoalah kepada Allah di masa senangmu, semoga Allah memperkenankan doamu di masa susahmu.”

Pelajaran Berharga dari Seorang Sahabat Mulia

Dari kisah ini, kita diajarkan satu prinsip besar dalam kehidupan beriman: Islam tidak mengajarkan kita membenci manusia, tetapi membenci dosa dan maksiat. Kita semua bukanlah manusia yang ma’shum, bukan pula terbebas dari kesalahan seperti para nabi. Bisa jadi, hari ini kita melihat orang lain terjatuh dalam dosa, namun esok hari kitalah yang diuji dengan kesalahan yang sama atau bahkan lebih berat.

Karena itu, sikap terbaik bukanlah mencaci atau merendahkan, melainkan bersyukur kepada Allah karena telah menjaga kita, serta mendoakan saudara kita agar diberi jalan kembali menuju kebaikan.

Penutup

Nasihat Abu Darda’ RA mengajarkan bahwa kelembutan hati adalah bagian dari keimanan. Membenci maksiat adalah kewajiban, tetapi merangkul pelakunya dengan doa dan harapan adalah wujud kasih sayang seorang mukmin.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga lisan, melapangkan hati, dan selalu memuji Allah atas perlindungan-Nya dari dosa.

Wallahu Ta’ala a’lam.

Share:

Abdurrahman Bin Auf : Pedagang Jujur Yang Lulus Ujian Kekayaan

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang termasuk As-Sabiqunal Awwalun, orang-orang yang pertama kali masuk Islam. Ia masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, jauh sebelum hijrah ke Madinah.

Di Makkah, Abdurrahman bin Auf dikenal sebagai pedagang yang kaya, Namun ketika tekanan dan siksaan terhadap kaum Muslimin semakin berat, ia memilih meninggalkan seluruh hartanya demi mempertahankan iman dan berhijrah bersama Rasulullah ﷺ.

Persaudaraan di Madinah

Sesampainya di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’ RA, seorang sahabat Anshar yang kaya dan dermawan. Sa’ad bin Rabi’ berkata: “Aku adalah orang Anshar yang paling kaya. Aku akan membagi dua hartaku untukmu.” Namun Abdurrahman bin Auf menjawab dengan penuh kehormatan dan tulus : “Barakallahu laka fi ahlika wa malika, tunjukkan aku di mana pasar.” Ia tidak meminta harta, tidak bergantung pada manusia, tetapi bertawakal penuh kepada Allah. Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 2048.

Keberkahan dalam Bisnis

Abdurrahman bin Auf mulai berdagang di pasar Bani Qainuqa’. Ia berdagang dengan kejujuran, amanah, dan tanpa riba. Tidak lama kemudian, Allah memberkahi usahanya.

Suatu hari Rasulullah ﷺ melihat bekas warna kuning (wewangian) pada tubuh Abdurrahman bin Auf, lalu beliau bertanya. Abdurrahman menjawab bahwa ia telah menikah dan memberikan mahar berupa emas seberat biji kurma. Rasulullah ﷺ bersabda : “Adakanlah walimah walau hanya dengan seekor kambing.” Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 2049, HR. Muslim no. 1427.

Kaya Raya, Tapi Sangat Dermawan

Meski menjadi salah satu sahabat terkaya, Abdurrahman bin Auf tak pernah menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Ia pernah : Menyedekahkan 700 ekor unta beserta muatannya, membebaskan banyak budak, menyumbangkan harta besar untuk jihad dan kaum fakir. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : “Abdurrahman bin Auf akan masuk surga dengan merangkak. ”Perkataan ini bukan celaan, tetapi peringatan bahwa banyaknya harta akan panjang hisabnya, hingga Abdurrahman bin Auf sering menangis karena takut kepada Allah. Riwayat : HR. Ahmad (hadits hasan menurut sebagian ulama).

Takut Dunia, Rindu Akhirat ketika disajikan makanan mewah, Abdurrahman bin Auf pernah menangis dan berkata : “Mush’ab bin ‘Umair lebih baik dariku, ia gugur dan bahkan kafannya tidak cukup menutupi tubuhnya.”Ia khawatir jika kenikmatan dunia disegerakan baginya, sementara sahabat-sahabatnya telah wafat dalam kesederhanaan. Riwayat : HR. Al-Bukhari no. 4042.

Kedudukan Yang Sangat Mulia

Abdurrahman bin Auf termasuk:

1. 10 sahabat yang dijamin masuk surga

2. Sahabat yang hartanya menjadi penopang dakwah Islam

3. Teladan bahwa kaya tidak identik dengan cinta dunia

Riwayat 10 sahabat dijamin surga : HR. At-Tirmidzi no. 3747 (hasan shahih).

Pelajaran Besar dari Abdurrahman bin Auf

1. Kekayaan bukan penghalang taqwa

2. Bisnis bisa menjadi jalan ibadah

3. Harta di tangan, bukan di hati

4. Ikhlas dan jujur membuka pintu keberkahan

Abdurrahman bin Auf mengajarkan kita : Bekerjalah sekuat tenaga, bertawakallah sepenuh hati, dan jadikan harta sebagai jalan menuju Allah, bukan tujuan hidup. Semoga Allah menjadikan kita seperti Abdurrahman bin Auf, diberi rezeki yang luas, namun hati tetap tunduk dan ringan bersedekah.

Sumber : @Majelis Tausiyah Cinta

Share:

Zuljanah : Kuda Imam Husain Yang Setia Hingga Akhir

Semua sumber sejarah awal baik yang ditulis oleh sejarawan Muslim Sunni maupun riwayat yang berkembang di kalangan Syiah sepakat bahwa Imam Husain bin Ali memiliki seekor kuda yang menemaninya pada hari Asyura di Karbala (61 H).

Beberapa riwayat sejarah paling tua, seperti Tarikh al-Tabari dan Ansab al-Asyraf, menyebut bahwa kuda itu bernama Al-Murtajiz. Sementara itu, dalam tradisi Ahlul Bait dan karya sastra setelahnya, kuda ini dikenal luas dengan nama Zuljanah.

Kedua nama tersebut tidak bertentangan karena menggambarkan kuda yang sama dari dua tradisi penamaan yang berbeda.

𝗦𝗶𝗮𝗽𝗮 𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵?

Zuljanah adalah kuda perang Arab yang kuat, tangguh, dan setia. Menjadi tunggangan Husain pada perjalanan dari Makkah hingga Karbala. Mengantar Husain pada hari-hari terakhirnya. Menjadi saksi bisu tragedi paling memilukan dalam sejarah umat.

Nama “Zuljanah” hidup kuat dalam budaya dan ingatan umat Muslim sebagai simbol kesetiaan yang tidak tergoyahkan.

𝗣𝗲𝗿𝗮𝗻 𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗣𝗲𝗿𝗶𝘀𝘁𝗶𝘄𝗮 𝗞𝗮𝗿𝗯𝗮𝗹𝗮 — 𝗣𝗲𝗻𝗲𝗸𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗨𝘁𝗮𝗺𝗮

Bagian ini merupakan inti dari kisah Zuljanah. Riwayat-riwayat sejarah lintas mazhab menegaskan sejumlah momen penting yang melibatkan kuda Husain pada hari Asyura.

𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿 𝗛𝘂𝘀𝗮𝗶𝗻 𝗸𝗲 𝗠𝗲𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗸𝗵𝗶𝗿

Ketika Husain bersiap menuju medan pertempuran, ia menaiki kudanya. Sumber sejarah sepakat bahwa kuda itu tetap tenang, seolah memahami bahwa tuannya sedang menghadapi situasi yang sangat berat.

Husain mengusap leher kudanya, menenangkan hewan itu lalu berangkat dengan penuh keteguhan. Kedekatan ini menjadi simbol hubungan antara manusia mulia dan hewan yang setia.

𝗧𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗞𝗼𝗸𝗼𝗵 𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗮𝘁𝗮𝗻𝗴

Riwayat dari Tabari dan Abu Mikhnaf menggambarkan bagaimana Husain dikepung dari berbagai sisi. Pada saat itu, kuda Husain memainkan peran penting: Tetap berdiri meskipun rentetan serangan dating, bergerak memutar untuk melindungi sisi-sisi tubuh Husain, menolak bergerak mundur walau situasi semakin genting. Kuda Arab dikenal sangat loyal pada penunggangnya, dan riwayat-riwayat itu menggambarkan kesetiaan itu dengan jelas.

𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗛𝘂𝘀𝗮𝗶𝗻 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝘁𝘂𝗵

Pada fase paling kritis, tubuh Husain yang penuh luka jatuh dari punggung kudanya. Sumber-sumber sejarah tidak menggambarkan dramatisasi berlebihan, tetapi menyampaikan satu fakta yang sangat menyentuh: Kuda itu tidak langsung pergi, Ia tetap berdiri di sisi tuannya. Bahkan tampak enggan meninggalkan Husain meski pasukan memukulnya agar menjauh. Inilah momen paling menggetarkan, seekor hewan yang tidak bisa bicara, tetapi tindakan dan gerakannya menunjukkan kesetiaan absolut.

𝗞𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗲 𝗞𝗲𝗺𝗮𝗵 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗟𝘂𝗸𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗮𝗿𝗮𝗵

Hampir semua riwayat menyebutkan satu adegan yang konsisten: Kuda Husain kembali ke kemah keluarga tanpa penunggang, tubuhnya terluka, pelananya berlumuran darah, Ia meringkik keras, memicu kepanikan di dalam tenda. Inilah bagian yang paling banyak dicatat sejarawan, karena menjadi pertanda bagi keluarga bahwa tragedi besar telah terjadi. Peristiwa ini bersifat lintas-mazhab, dicatat oleh: Abu Mikhnaf, Al-Baladzuri, Narasi sejarah umum Ahlul Bait, Sastrawan abad-abad setelahnya. Momen ini menjadikan Zuljanah simbol kesetiaan, duka, dan kejujuran hati seekor hewan.

𝗭𝘂𝗹𝗷𝗮𝗻𝗮𝗵 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹 𝗞𝗲𝘀𝗲𝘁𝗶𝗮𝗮𝗻

Terlepas dari perbedaan penamaan, Zuljanah diakui sebagai: pendamping perjuangan, saksi mata jatuhnya Husain, dan makhluk yang setia hingga detik terakhir.

Dalam budaya Islam, nama Zuljanah hidup terus dalam: prosesi Muharram, syair-syair Karbala, tradisi Persia, Urdu, Arab, serta seni visual kontemporer.

Kesetiaan kuda ini menjadi bagian dari warisan emosional umat Muslim selama lebih dari 1.300 tahun. Zuljanah menjadi lambang kesetiaan yang melampaui kata-kata, dan bagian tak terpisahkan dari kisah pengorbanan Husain di Karbala.

Sumber : @Musliminsight

Share:

Kisah Syahidnya Sayidina Hasan Cucu Rasulullah

Hasan bin Ali meninggal dunia dalam situasi perseteruan kaum Muslimin dengan sesamanya karena badai politik yang berkepanjangan. Pada 10 Muharam 61 Hijriyah atau 10 Oktober 680 Masehi, Husein, anak kedua Ali bin Abi Thalib wafat di Karbala dalam sebuah pembantaian yang dilakukan rezim Yazid bin Muawiyah.

Beberapa tahun sebelumnya, yakni pada 28 Safar 50 Hijriyah, atau 1 April 670 Masehi, tepat hari ini 1351 tahun silam, Hasan, kakak Husein, meninggal dunia di Madinah karena diracun. Pungkas hayat kakak beradik cucu kesayangan Rasulullah ini tak lepas dari pusaran pertikaian dalam dunia Islam setelah Rasulullah dan tiga khalifah meninggal dunia. Berbeda dengan Husein yang terus menuju Kufah meski marabahaya mengintainya, sang kakak justru memilih menghindari peperangan dengan kubu Muawiyah demi persatuan umat Islam.

Para sejarawan menilai sikap Hasan yang lebih lunak daripada Husein adalah dari sabda Rasulullah yang berdoa kepada Allah agar cucunya tersebut menjadi orang yang mendamaikan dua golongan kaum Muslimin.

Hasan dibaiat menjadi khalifah setelah ayahnya, Ali bin Abi Thalib, meninggal dunia karena dibunuh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Khawarij itu menebaskan pedangnya saat khalifah keempat tersebut tengah menunaikan salat Subuh.

Diangkatnya Hasan sebagai khalifah tentu membuat Muawiyah tidak setuju, sebab keturunan Umayyah tersebut telah melakukan pemberontakan sejak khalifah Ali bin Abi Thalib. Ia berambisi menduduki puncak pimpinan kaum Muslimin.

Sadar posisinya diincar, Muawiyah yang berkedudukan di Damaskus, Syam, Hasan justru secara persuasif menulis surat kepada Muawiyah. Ia memilih tidak menyerbu kekuatan oposisi.

“Janganlah engkau terus-menerus terbenam di dalam kebatilan dan kesesatan. Bergabunglah dengan orang-orang yang telah menyatakan baiat kepadaku. Sebenarnya engkau telah mengetahui, bahwa aku lebih berhak menempati kedudukan sebagai pemimpin umat Islam. Lindungilah dirimu dari siksa Allah dan tinggalkanlah perbuatan durhaka. Hentikanlah pertumpahan darah, sudah cukup banyak darah mengalir yang harus kau pikul tanggungjawabnya di akhirat kelak. Nyatakanlah kesetiaanmu kepadaku dan janganlah engkau menuntut sesuatu yang bukan hakmu, demi kerukunan dan persatuan umat Islam,” tulis Hasan seperti dikutip Al-Hamid Al-Husaini dalam Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya (1978).

Surat tersebut jelas menggambarkan Hasan sebagai orang yang lebih suka menghindari pertikaian dan pertumpahan darah. Ia juga menekankan pentingnya kerukunan dan persatuan umat Islam.    

Namun, Muawiyah yang sudah makan asam garam dalam dunia politik, serta telah mengobarkan peperangan demi posisi khalifah sejak zaman Ali, jelas menolak mentah-mentah permintaan Hasan.      

“Jika aku yakin bahwa engkau lebih tepat menjadi pemimpin daripada diriku, dan jika aku yakin bahwa engkau sanggup menjalankan politik untuk memperkuat kaum Muslimin dan melemahkan kekuatan musuh, tentu kedudukan khalifah akan kuserahkan kepadamu,” balasnya.

Jawaban tersebut jelas bukan yang diharapkan Hasan. Apalagi tak lama setelah itu, Muawiyah menyiapkan ribuan pasukan perang yang hendak ia bawa ke Kufah untuk menggempur kekuatan Hasan sebagai khalifah.

Sebagai seorang pemimpin, Hasan lebih menyukai perdamaian. Tapi bukan berarti ia berdiam diri saat mendapat ancaman untuk mengudetanya. Ia kemudian mengumpulkan penduduk Kufah dan mengabarkan bahwa kotanya akan diserang pasukan Muawiyah yang bergerak dari Syam.

Hasan memerintahkan kepada setiap lelaki Kufah yang mampu berperang untuk bersiap menghadapi ancaman tersebut. Sebuah dusun bernama Nukhailah dipilih Hasan sebagai markas pusat militer yang hendak melawan pasukan penyerbu dari Syam.

Pertempuran antara Muawiyah dan Hasan bin Ali tidak terjadi dalam bentuk perang besar, melainkan berakhir dengan Perjanjian Perdamaian (Amul Jama'ah) pada tahun 41 H (661 M), di mana Hasan menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut, mengakhiri Perang Saudara Islam Pertama. Ini terjadi setelah Muawiyah menolak kekhalifahan Hasan, yang memimpin pasukan ke Irak, namun moral pasukan Hasan menurun drastis karena pengkhianatan dan serangan terhadapnya, sehingga Hasan memilih perdamaian dengan syarat-syarat tertentu yang sebagian besar dilanggar oleh Muawiyah. 

Pada 28 Safar tahun 50 Hijriyah, atau sebelas tahun sebelum kelak adiknya meninggal di padang Karbala, Hasan wafat dalam usia 46. Beberapa saat sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir, Hasan berkata kepada Husein, adiknya.

“Tiga kali aku pernah menderita keracunan, tetapi tidak sehebat yang kualami sekarang ini,” ucapnya.

Husein bertanya kepada kakaknya siapakah kiranya yang telah meracuninya. Namun, dengan semangat persatuan Hasan menolak memberitahu orang yang telah meracuninya. Ia khawatir adiknya yang berkarakter lebih keras daripada dirinya akan menuntut balas sehingga akan terjadi pertumpahan darah sesama kaum Muslimin.

Al-Hamid Al-Husaini menerangkan sebagian besar para penulis sejarah meyakini bahwa yang meracun hasan adalah istrinya sendiri yang bernama Ja’dah binti Al-Asy’ats atas perintah Muawiyah dengan iming-iming uang sebesar 100.000 dinar.

Sumber : @Sahabat Kisah

Share:

Doa Nabi S.A.W Yang Menggetarkan Arsy Saat Perang Badar

Permohonan Nabi Saat Di Perang Badar, Do’a Yang Menggetarkan Arsy Demi Tegaknya Kalimat Tauhid

Menjelang perang, Rasulullah SAW melihat perbandingan kekuatan yang sangat tidak seimbang. 313 kaum Muslimin yang minim perlengkapan harus menghadapi 1.000 pasukan Quraisy dengan persenjataan lengkap. Beliau masuk ke dalam tenda (al-’Arisy) dan terus menerus berdoa dengan penuh kepasrahan.

Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya begitu tinggi ke arah kiblat hingga selendang beliau terjatuh dari pundaknya. Beliau memohon dengan kalimat yang sangat masyhur:

"Ya Allah, penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok Islam ini, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini." (HR. Muslim no. 1763)

Saking khusyuk dan emosionalnya permohonan tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menemani beliau merasa iba, lalu mengambil selendang yang jatuh dan meletakkannya kembali ke pundak Rasulullah. Abu Bakar kemudian memegang pundak beliau sambil berkata:

"Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia pasti akan menepati apa yang telah Dia janjikan kepadamu."

Allah SWT langsung menjawab doa Nabi dengan menjanjikan bantuan ribuan malaikat, yang kemudian diabadikan dalam Al-Qur'an.

"(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: 'Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut'." (QS. Al-Anfal: 9)

Hikmah dari Penjelasan Ulama:

Para ulama, termasuk Imam An-Nawawi, menjelaskan bahwa perkataan Nabi "Engkau tidak akan disembah lagi" bukanlah bentuk keraguan, melainkan bentuk Ibtihal (permohonan yang sangat mendalam). Beliau menyadari bahwa kaum Muslimin saat itu adalah satu-satunya penjaga tauhid di muka bumi. Jika mereka binasa, maka syariat Allah akan terputus dari dunia.

Kesimpulan: Peristiwa ini mengajarkan bahwa sekuat apa pun persiapan manusia, doa dan sandaran total kepada Allah adalah kunci kemenangan sejati. Perang Badar bukan hanya kemenangan fisik, tapi kemenangan iman atas keputusasaan. Allahu Akbar……

Sumber : @Sahabat Kisah

Share:

Kisah Pernikahan Mulia Rasulullah S.A.W dengan Khadijah R.A yang Penuh Hikmah

Dikutip dari Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Nabi Muhammad SAW merupakan pemuda yang memiliki akhlak baik dan bekerja sebagai pedagang, sedangkan Khadijah RA merupakan seorang janda 40 tahun yang terpandang, cantik, kaya, terhormat, dan dikenal sebagai pedagang yang sukses.

Pertemuan pertama antara Khadijah RA dan Nabi Muhammad SAW terjadi ketika Khadijah RA mempekerjakan Nabi Muhammad SAW untuk membawa barang dagangannya ke Syam. Nabi Muhammad SAW pun pergi ke Syam bersama pelayan Khadijah RA yang bernama Maisarah. Mereka mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda dari hasil penjualan tersebut.

Maisarah mengabarkan kepada Khadijah RA tentang sifat mulia, kecerdikan, dan kejujuran Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut membuat Khadijah RA kagum dan tertarik dengan Nabi Muhammad SAW.

Khadijah RA meminta rekannya, Nafisah binti Munyah, untuk menemui Nabi Muhammad SAW dan membuka jalan agar beliau mau menikah dengannya. Nabi Muhammad SAW pun menerima tawaran tersebut dan menemui paman-pamannya. Kemudian paman Nabi Muhammad SAW menemui paman Khadijah RA untuk mengajukan lamaran.

Setelah semua dianggap selesai, maka pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah pun dilaksanakan dengan maskawin 20 ekor unta.

Khadijah RA adalah wanita pertama yang dinikahi Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak pernah menikahi wanita lain sampai Khadijah RA meninggal.

Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam bukunya Sirah Nabawiyah Jilid 1 mengemukakan, pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA mendapat karunia dua anak laki-laki dan empat anak perempuan.

Anak pertama laki-laki bernama Al-Qasim dan anak kedua bernama Abdullah. Mereka wafat pada saat masih kecil. Adapun, anak perempuan mereka bernama Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum, da Fathimah. Mereka semua masuk Islam dan ikut hijrah ke Madinah serta menikah.

Masih mengutip dari sumber buku yang sama, bahwa dari kisah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA di atas memiliki beberapa hikmah, di antaranya:

Berdagang dengan Cara Amanah dan Jujur

Nabi Muhammad SAW dan Khadijah RA menerapkan cara untuk berdagang dengan amanah dan jujur. Hal tersebut memberikan keuntungan yang cukup besar. Allah SWT menganugerahkan berkah kepada Khadijah melalui usaha yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW.

Berdagang Merupakan Sumber Penghasilan atau Rezeki

Nabi Muhammad SAW sebelum diutus menjadi nabi dan rasul melakukan kegiatan berdagang untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau selalu mempelajari dunia bisnis dari pamannya.

Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah RA adalah takdir Allah SWT

Allah SWT telah memilih Khadijah RA untuk dijadikan istri Nabi Muhammad SAW. Khadijah RA diharapkan akan meringankan beban kehidupan ekonomi Nabi Muhammad SAW dan membantu beliau dalam mengemban Islam, serta menemani duka Nabi Muhammad SAW.

Pernikahan Bukan Sekadar untuk Kenikmatan Biologis

Nabi Muhammad SAW menikahi Khadijah RA yang berusia 40 tahun, yakni lebih tua dari usia Nabi Muhammad SAW. Beliau menikah dengan Khadijah RA karena dia adalah wanita terhormat dan terpandang di tengah kaumnya. Khadijah RA juga memiliki predikat sebagai wanita suci dan terjaga kehormatannya.

Terdapat hikmah dibalik wafatnya kedua putra mereka yang belum menginjak dewasa. Allah SWT telah menganugerahkan mereka anak laki-laki agar tidak menjadi bahan cemooh karena tidak bisa memberikan keturunan anak laki-laki.

Meskipun Nabi Muhammad SAW dan Khadijah RA mendapatkan ujian berat ini, mereka tetap tabah menerimanya karena hal ini merupakan cobaan yang diberikan oleh Allah SWT.

Sumber : @Sahabat Kisah


Share:

Isra' Mi'raj : Menembus Batas Kemampuan Makhluk Manapun Menerima Hadiah Sholat dibawah Sidratul Muntaha

Di Bawah Sidratul Muntaha: Hadiah Salat untuk Umat Nabi Muhammad ﷺ

Saat Rasulullah ﷺ tiba di langit ketujuh dan bertemu dengan Nabi Ibrahim عليه السلام, perjalanan Mi’raj belum berakhir. Dari sana, beliau melanjutkan langkah menuju Sidratul Muntaha—batas tertinggi yang menjadi puncak perjalanan ruhani Nabi Muhammad ﷺ.

Sidratul Muntaha digambarkan sebagai sebuah pohon agung yang menandai akhir pengetahuan makhluk. Dari tunas-tunasnya mengalir empat sungai; dua mengalir menuju surga, dan dua lainnya mengalir ke bumi. Daun-daunnya selebar telinga gajah, dan di sekitarnya tampak keindahan yang tak terlukiskan, dihiasi cahaya serta kilau yang memancarkan kemuliaan Ilahi.

Namun, perjalanan menuju Sidratul Muntaha ini tidak ditemani oleh Malaikat Jibril عليه السلام. Jibril berhenti di langit ketujuh dan berkata,

“Batas kemampuanku hanya sampai di sini. Jika aku melangkah lebih jauh, aku akan hancur.”

Maka Rasulullah ﷺ melangkah sendiri, menembus batas yang tak mampu dijangkau makhluk lain.

Ketika sampai di Sidratul Muntaha, Rasulullah ﷺ merasa bingung bagaimana mengucapkan salam kepada Allah ﷻ. Dalam kebingungan itu, Allah ﷻ mewahyukan kepada beliau kalimat salam. Maka Rasulullah ﷺ pun mengucapkan:

“At-taḥiyyātu, al-mubārakātu, aṣ-ṣalawātu, aṭ-ṭayyibātu lillāh.”

(Segala penghormatan, keberkahan, salawat, dan kebaikan hanyalah milik Allah.)

Allah ﷻ kemudian menjawab:

“As-salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh.”

(Salam sejahtera, rahmat, dan keberkahan Allah tercurah kepadamu, wahai Nabi.)

Mendengar jawaban salam dari Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ teringat kepada umatnya. Dengan penuh kasih, beliau menjawab:

“As-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn.”

(Kesejahteraan semoga tercurah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang saleh.)

Betapa besar kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya. Bahkan di puncak pertemuannya dengan Allah ﷻ, beliau tidak melupakan kita. Lebih dari seribu empat ratus tahun yang lalu, nama umatnya telah disertakan dalam doa beliau di Sidratul Muntaha.

Setelah itu, Rasulullah ﷺ menerima perintah agung dari Allah ﷻ: kewajiban salat bagi umat Islam sebanyak lima puluh waktu dalam sehari.

Beliau pun turun kembali ke langit ketujuh dan melihat Nabi Ibrahim عليه السلام bersandar di Baitul Ma’mur. Perjalanan dilanjutkan ke langit keenam, di mana beliau bertemu dengan Nabi Musa عليه السلام.

Nabi Musa bertanya,

“Wahai Muhammad, apakah yang engkau dapatkan dari Tuhanmu?”

Rasulullah ﷺ menjawab,

“Aku diperintahkan untuk melaksanakan salat lima puluh waktu dalam sehari.”

Nabi Musa berkata dengan penuh keprihatinan,

“Sesungguhnya aku telah menguji umatku, dan mereka tidak mampu memikul beban seberat itu. Bagaimana dengan umatmu?”

Maka Nabi Musa menyarankan Rasulullah ﷺ untuk kembali menghadap Allah ﷻ dan memohon keringanan. Rasulullah ﷺ pun kembali ke Sidratul Muntaha. Setiap kali kembali, Allah ﷻ mengurangi kewajiban itu lima waktu.

Hingga sembilan kali Rasulullah ﷺ bolak-balik antara langit keenam dan Sidratul Muntaha, memohon keringanan bagi umatnya. Akhirnya, Allah ﷻ menetapkan kewajiban salat menjadi lima waktu dalam sehari.

Ketika Rasulullah ﷺ kembali bertemu Nabi Musa, beliau kembali disarankan untuk meminta keringanan. Namun Rasulullah ﷺ berkata dengan penuh rasa malu dan syukur,

“Aku telah memohon hingga sembilan kali. Kini aku merasa malu kepada Tuhanku. Lima waktu ini adalah ketetapan-Nya. Dan setiap satu waktu bernilai sepuluh pahala.”

Maka lima waktu salat bagi umat Islam tetap bernilai lima puluh dalam timbangan kebaikan.

Pada malam 27 Rajab, Rasulullah ﷺ menerima hadiah terbesar bagi umatnya: kewajiban salat lima waktu. Sebuah hadiah yang bukan sekadar perintah, melainkan jalan untuk mendekat kepada Allah ﷻ.

Wahai saudara-saudara yang dirahmati Allah, jangan pernah mengabaikan hadiah ini.

Karena salat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan sendi-sendi agama. Dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan sendi-sendi agama.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Sumber : @Sepenggal Kisah


Share: